Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 78, 79, dan sebagian 80.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 34
***
Halaman 78
Dengan adanya perubahan tersebut, cabang dan ranting Muhammadiyah di Jawa Timur telah berubah. Selama sepuluh tahun (1927–1937) telah terjadi perubahan yang berarti untuk pertumbuhan Muhammadiyah di Jawa Timur.(127)
Daerah Surabaya memiliki 5 Cabang, yaitu Surabaya, Mojokerto, Gresik, Kediri dan Malang. Jumlah ranting bertambah menjadi 13, yaitu Jombang, Kaliwaron, Pare, Ngoro, Tuban, Sepanjang, Krian, Mojosari, Sidoarjo Jenggolo, Sumbermanjing, Sumberpucung, Batu, Kepanjen; ditambah bakal ranting di 4 tempat, yaitu Sumbersuko, Klayatan, Wajak dan Ngebruk.
Daerah Madura mewilayahi 5 Cabang, yaitu Sumenep, Sampang, Kalianget, Bangkalan, Pamekasan. Jumlah ranting tinggal 10 buah, yaitu Pakong, Ketapang, Ambunten, Pasongsongan, Socah, Pakpak, Tanjung, Pasian, Kedundung dan Batubintang.(128)
Daerah Besuki tercatat mewilayahi 5 Cabang, yaitu Lumajang, Situbondo, Jember, Bondowoso, dan Banyuwangi. Ranting ada di 20 tempat, yaitu Kalisat, Sukowono, Sukoreno, Kaliboto, Prajekan, Yosowilangun, Genteng, Pakis Duren, Rogojampi, Kebalenan, Tanggul, Puger, Kertosari, Klakah, Bajulmati, Banjar (Licin), Kalibaru, Balung dan Jatirejo.
Di Daerah Pasuruan terdapat 6 Cabang, yaitu Pasuruan, Bangil, Blitar, Singosari, Probolinggo dan Tulungagung. Ranting berkurang
Halaman 79
tinggal 8 tempat, yaitu Mondoroko, Sumpil Purwodadi, Wlingi, Trenggalek, Turen, Pogar, Lawang dan Porong.
Daerah Madiun memiliki 3 Cabang, yaitu Ponorogo, Ngawi dan Madiun. Ranting bertambah menjadi 16 tempat, yaitu Walikukun, Uteran, Gorang-gareng, Magetan, Caruban, Glodog, Nganjuk, Barat, Jetis, Siman, Ngunut, Maospati, Balong, Padas, Kertosono dan Sumoroto.
Pada 1938 terjadi sedikit pertambahan dan pengurangan ranting di beberapa daerah di Jawa Timur. Daerah Madura bertambah satu ranting, yaitu Kertosodo. Daerah Besuki bertambah dua ranting, yaitu Watukebo dan Besuki. Daerah Pasuruan bertambah dua ranting, yaitu Kunir dan Kraksaan. Kraksaan dulu pernah eksis sebagai cabang tetapi mati, dan setelah bangkit, kembali menjadi ranting. Daerah Madiun bertambah dua ranting baru, yaitu Purwantoro dan Tempurejo.(129)
Pada akhir 1939 dan awal 1940 terjadi perubahan dalam peta pertumbuhan Muhammadiyah di Jawa Timur yang cukup signifikan. Daerah Surabaya 25 tempat, tambah lima kurang 2 menjadi 28 tempat. Daerah Madura 16 tempat, tidak ada tambahan dan pengurangan = 16 tempat. Daerah Besuki 20 tempat, tambah 1 tidak ada yang mati menjadi 21 tempat.
Daerah Pasuruan 16 tempat, tidak terjadi penambahan atau pengurangan = 16 tempat. Madiun 20 tempat, tambah 2 kurang 1 menjadi 21 tempat. Daerah Kediri 9 tempat, kurang 1 menjadi 8 tempat. Pada 1940, Muhammadiyah di Jawa Timur eksis di 110 tempat dengan status Cabang atau Ranting.(130)
Pada 1942 terjadi sedikit perubahan jumlah cabang dan ranting di beberapa daerah. Daerah Surabaya, bertambah tiga bakal ranting, yaitu Dukun, Blimbing, dan Waru Sidoarjo. Daerah Pasuruan, berkurang 2 ranting karena mati, yaitu Pogar dan Kunir, tetapi bertambah 2 bakal ranting, yaitu Sumberbulu dan Sumberkareng. Daerah Kediri, bertambah satu bakal ranting, yaitu Sidomulyo. Sedangkan Ranting Pare sejak tahun 1940 sudah berstatus Cabang.(131)
Sampai 1942, jumlah cabang Muhammadiyah di Jawa Timur tercatat sebanyak 28 tempat dan ranting sebanyak 90 tempat. Dengan demikian Muhammadiyah di Jawa Timur telah eksis di 118 tempat. Muhammadiyah tersebar dari timur ke barat, yaitu dari
Halaman 80
Banyuwangi sampai Walikukun dan dari utara ke selatan, yaitu dari Tuban sampai Tulungagung.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments