Sejarah Islam menyimpan banyak figur yang tidak hanya penting untuk dikenang secara historis, tetapi juga relevan untuk dibaca sebagai sumber refleksi dalam pembentukan karakter dan kaderisasi. Salah satunya adalah Hanzhalah bin Abi ‘Amir r.a., sahabat Rasulullah Saw. yang gugur dalam Perang Uhud dan dikenal dengan gelar Ghasilul Malaikah, yaitu sahabat yang dimandikan oleh para malaikat.
Kisah Hanzhalah menjadi menarik karena ia wafat dalam situasi yang sangat manusiawi. Hanzhalah baru saja menikah. Pada malam sebelum Perang Uhud, ia bersama istrinya sebagai pasangan suami istri menjalani kehidupan rumah tangga sebagaimana mestinya.
Ketika seruan perjuangan berkumandang, ia segera berangkat menuju medan Uhud. Karena waktunya sangat terbatas, ia berangkat sebelum sempat mandi janabah. Di medan Uhud, Hanzhalah kemudian gugur sebagai syahid.
Rasulullah Saw. mengabarkan bahwa para malaikat memandikannya. Karena peristiwa itulah, ia dikenal sebagai Ghasilul Malaikah.
Kisah tersebut penting dipahami secara proporsional. Pelajaran utamanya bukan terletak pada persoalan hubungan suami istri itu sendiri, melainkan pada bagaimana Hanzhalah menempatkan tanggung jawab perjuangan setelah menjalani kehidupan dan memenuhi tanggung jawab pribadinya.
Ia adalah manusia yang memiliki keluarga, kehidupan pribadi, dan kebahagiaan rumah tangga. Namun, ketika tanggung jawab kolektif memanggil, ia mampu mengambil keputusan untuk hadir dalam perjuangan.
Relevansi dalam Kaderisasi IMM
Dalam perspektif kaderisasi, kisah tersebut mengandung pelajaran penting tentang komitmen, tanggung jawab, dan pengorbanan. Kader IMM hari ini tentu hidup dalam konteks yang berbeda dengan Hanzhalah.
Kader masa kini tidak berada di medan Perang Uhud. Medan perjuangannya berada di kampus, ruang intelektual, masyarakat, dunia dakwah, gerakan kemanusiaan, pendidikan, serta kehidupan kebangsaan.
Oleh karena itu, yang diwarisi bukanlah bentuk perjuangan Hanzhalah, melainkan etos perjuangannya.
Kaderisasi IMM semestinya tidak hanya menghasilkan individu yang memahami organisasi secara struktural, tetapi manusia yang memiliki kesadaran ideologis, kapasitas intelektual, kedalaman spiritual, dan orientasi pengabdian.
Kader bukan sekadar orang yang pernah mengikuti proses perkaderan, melainkan seseorang yang mampu menerjemahkan nilai menjadi tindakan.
Di sinilah pengorbanan menjadi salah satu ukuran kematangan seorang kader.
Seorang kader tidak semestinya selalu bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari IMM?” Pertanyaan yang semestinya justru adalah, “Apa yang dapat saya berikan kepada IMM?”
Pertanyaan tersebut penting karena organisasi tidak akan berkembang hanya dengan bertambahnya jumlah anggota. Organisasi membutuhkan kader yang bersedia mengambil tanggung jawab, memikul amanah, dan mengubah gagasan menjadi kerja nyata.
Sebab, sebanyak apa pun kader yang dimiliki sebuah organisasi, tanpa kesediaan untuk terlibat dan mengambil peran, organisasi hanya akan menjadi tempat berkumpul, bukan ruang perjuangan.
Dalam QS. At-Taubah ayat 111, Allah menggambarkan kehidupan orang beriman sebagai bentuk pengabdian kepada-Nya. Ayat tersebut menunjukkan bahwa iman memiliki konsekuensi praksis.
Keyakinan tidak berhenti pada ranah batin atau sekadar menjadi pengakuan, tetapi harus melahirkan keberanian untuk berbuat, berkorban, dan memberikan manfaat.
Dalam tradisi Muhammadiyah, kaderisasi juga merupakan instrumen strategis untuk menjaga kesinambungan gerakan. Amal usaha, struktur organisasi, dan berbagai institusi Muhammadiyah membutuhkan manusia yang mampu meneruskan nilai dan perjuangan.
Karena itu, pertumbuhan organisasi tanpa diiringi penguatan kader dapat melahirkan persoalan regenerasi. Organisasi mungkin tetap memiliki gedung, struktur, dan berbagai amal usaha, tetapi kehilangan manusia yang memahami arah dan nilai perjuangannya.
IMM dan Keseimbangan Kader Ideal
IMM sebagai salah satu ruang kaderisasi Muhammadiyah perlu membangun kader yang memiliki keseimbangan antara intelektualitas dan militansi, spiritualitas dan praksis, idealisme dan kemampuan membaca realitas.
Kader yang cerdas tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengambil tanggung jawab akan sulit melahirkan perubahan.
Sebaliknya, militansi tanpa kedalaman intelektual juga berpotensi kehilangan arah. Karena itu, kaderisasi harus melahirkan manusia yang berpikir, meyakini, sekaligus bergerak.
Kisah Hanzhalah juga memberikan pelajaran bahwa manusia memiliki kehidupan pribadi, tetapi pada saat yang sama juga memikul tanggung jawab sosial. Kader yang matang bukanlah kader yang mengabaikan kehidupan pribadinya demi organisasi.
Sebaliknya, ia adalah pribadi yang mampu mengelola keluarga, pendidikan, pekerjaan, kehidupan sosial, dan amanah organisasi secara proporsional.
Dengan demikian, kisah Hanzhalah tidak tepat jika hanya dipahami sebagai kisah tentang seorang sahabat yang wafat setelah berhubungan dengan istrinya.
Makna yang jauh lebih penting adalah kesungguhan seorang manusia dalam memenuhi panggilan tanggung jawab ketika keadaan menuntutnya.
Hanzhalah memiliki keluarga, tetapi ia juga memiliki amanah. Ia memiliki kehidupan pribadi, tetapi ia juga memikul tanggung jawab sosial.
Di sinilah relevansinya dengan kader IMM. Menjadi kader bukan berarti kehilangan kehidupan pribadi, tetapi belajar menempatkan setiap tanggung jawab secara tepat.
Pada akhirnya, pertanyaan bagi kader IMM hari ini bukanlah apakah kita mampu mengulangi secara persis apa yang dilakukan Hanzhalah.
Zaman, konteks, dan medan perjuangan telah berubah. Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah kita masih memiliki kesediaan untuk memenuhi panggilan tanggung jawab ketika organisasi, umat, masyarakat, dan bangsa membutuhkan kehadiran kita?
Apakah ilmu yang kita miliki sudah menjadi pengabdian? Apakah ideologi yang kita yakini sudah menjadi tindakan? Dan ketika IMM, Muhammadiyah, umat, serta bangsa membutuhkan kita, apakah kita siap mengambil tanggung jawab?***





0 Tanggapan
Empty Comments