Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Bangun Kebiasaan Ibadah Siswa, SMP Muhammadiyah 8 Batu Terapkan Gobit

Iklan Landscape Smamda
Bangun Kebiasaan Ibadah Siswa, SMP Muhammadiyah 8 Batu Terapkan Gobit
pwmu.co -

Mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Kelompok 2 melakukan wawancara dengan Nur Kholisatun, S.S., guru SMP Muhammadiyah 8 Batu, untuk mengetahui penerapan Gobit (Golden Habit) dalam mendukung pembiasaan ibadah siswa.

Wawancara tersebut dilakukan pada Sabtu (5/9/2026) di Batu. Gobit diterapkan sebagai sistem untuk memonitor pembiasaan ibadah siswa selama berada di rumah.

Program tersebut bertujuan agar pembiasaan As-Sunnah yang diterapkan di sekolah tetap terkontrol dengan baik. Selain itu, Gobit menjadi sarana untuk memperkuat komunikasi antara orang tua dan siswa, khususnya dalam hal ibadah.

Menurut Nur Kholisatun, S.S., penerapan Gobit merupakan bagian dari upaya sekolah memastikan kebiasaan ibadah siswa tetap berjalan meskipun mereka berada di luar lingkungan sekolah.

“Gobit ini digunakan untuk memonitor pembiasaan ibadah anak ketika di rumah, sehingga pembiasaan As-Sunnah yang dilakukan di sekolah tetap terpantau,” jelasnya.

Sebelum Gobit diterapkan, monitoring ibadah di SMP Muhammadiyah 8 Batu dilakukan melalui pengisian Google Form dan rekap harian.

Namun, seiring proses digitalisasi sekolah, SMP Muhammadiyah 8 Batu menggandeng pengembang M8 Educonnect untuk mengembangkan sistem yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan sekolah, salah satunya melalui Gobit atau Golden Habit.

Dalam pengelolaannya, penanggung jawab utama Gobit adalah pengembang ISMUBA atau bagian kurikulum. Wali kelas juga memiliki akses untuk memantau perkembangan ibadah siswa melalui akun masing-masing.

Akses tersebut mengikuti pergantian wali kelas. Ketika terjadi pergantian wali kelas, akses pemantauan Gobit juga disesuaikan.

Keterlibatan orang tua menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Gobit. Setelah salat Isya, sekolah memberikan reminder melalui grup besar yang kemudian diteruskan oleh wali kelas ke grup kelas masing-masing.

Pengingat tersebut menjadi waktu bagi orang tua untuk berkomunikasi dengan anak sekaligus melakukan pengisian Gobit bersama.

“Pengisian Gobit ini diharapkan tidak hanya menjadi kewajiban siswa, tetapi juga menjadi sarana komunikasi antara orang tua dengan anak terkait ibadah mereka di rumah,” ujar Nur Kholisatun.

Apabila orang tua mengalami kesulitan dalam melakukan pengisian, siswa dapat melakukannya secara mandiri.

Dengan demikian, Gobit diharapkan menjadi penghubung antara sekolah, siswa, dan orang tua dalam membangun kebiasaan ibadah di rumah.

Selain berfungsi sebagai sistem monitoring, Gobit juga dirancang untuk melatih kejujuran siswa. Sekolah menekankan agar siswa mengisi data sesuai dengan ibadah yang benar-benar dilakukan.

Kejujuran menjadi bagian penting karena pelaksanaan ibadah berlangsung di rumah dan tidak dapat diawasi secara langsung oleh pihak sekolah.

Bagi siswa yang masih memiliki catatan ibadah yang belum lengkap, data tersebut tetap tercatat dalam sistem. Akumulasi nilai ibadah dan muamalah kemudian menghasilkan predikat A, B, C, D, dan E.

SMPM 5 Pucang SBY

Untuk meningkatkan konsistensi pengisian, sekolah juga memberikan reward setiap bulan kepada siswa yang melakukan pengisian secara aktif dan rutin.

Salah satu keunggulan Gobit adalah rekapitulasi data yang dapat muncul secara real-time. Data tersebut kemudian dapat dituangkan secara otomatis ke dalam rapor Gobit melalui aplikasi M8 Educonnect.

Digitalisasi ini membantu sekolah melakukan pemantauan perkembangan pembiasaan ibadah siswa secara lebih terstruktur.

Namun, keberadaan aplikasi tetap ditempatkan sebagai alat bantu monitoring, bukan sebagai tujuan utama program. Sekolah berupaya agar kebiasaan ibadah yang dibangun melalui Gobit dapat berkembang menjadi karakter yang menetap dalam diri siswa.

Dalam penerapannya, Gobit masih menghadapi beberapa kendala. Dari sisi siswa, masih terdapat siswa yang tidak melakukan pengisian meskipun telah mendapatkan pengingat setelah salat Isya.

Beberapa siswa juga beralasan lupa atau lupa username dan password untuk mengakses aplikasi.

Dari sisi guru PAI, masih diperlukan peningkatan kolaborasi untuk melakukan pengecekan Gobit siswa secara rutin, misalnya minimal satu kali dalam seminggu saat pembelajaran PAI.

Sementara itu, terdapat pula wali kelas yang masih kurang aktif dalam mengingatkan pengisian dan memantau rekapitulasi.

Kendala juga ditemukan dari sisi orang tua, terutama mereka yang belum dapat mengoperasikan aplikasi atau memiliki kesibukan pekerjaan sehingga tidak selalu dapat mendampingi pengisian Gobit.

Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, sekolah terus melakukan komunikasi dengan orang tua. Sosialisasi mengenai Gobit juga dapat dilakukan kembali setiap semester maupun melalui pertemuan secara daring menggunakan Zoom Meeting.

Pada akhirnya, keberhasilan Gobit tidak hanya diukur dari seberapa rutin siswa melakukan pengisian. Sekolah berharap kebiasaan ibadah yang dibangun melalui program tersebut dapat menjadi kesadaran dan karakter pribadi siswa.

“Harapannya, ketika siswa sudah tidak lagi menggunakan Gobit, kebiasaan ibadah yang sudah dibangun tetap dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, aplikasi hanya sebagai alat untuk membantu membentuk kebiasaan,” tutur Nur Kholisatun.

Dengan demikian, penerapan Gobit (Golden Habit) di SMP Muhammadiyah 8 Batu menjadi salah satu upaya sekolah memadukan digitalisasi pendidikan dengan pembentukan karakter religius siswa.

Program tersebut sekaligus memperkuat kolaborasi antara sekolah, siswa, dan orang tua dalam membangun kebiasaan ibadah yang diharapkan dapat melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Revisi Oleh:
  • Satria - 07/09/2026 18:08
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu