BankZiska Pusat di Ponorogo kembali kedatangan tamu akademisi. Kali ini, perhatian datang dari Turki.
Selasa (1/9/2026), BankZiska menerima kunjungan Izra Berakon, mahasiswa S-3 Universitas Sakarya (Sakarya Üniversitesi), Turki, yang juga dosen Ekonomi Islam UIN Yogyakarta.
Kunjungan itu bukan sekadar silaturahmi. Berakon tengah menaruh perhatian pada Islamic Social Finance atau keuangan sosial Islam.
BankZiska dinilai menarik karena memiliki model pembiayaan yang menyentuh langsung kebutuhan usaha mikro.
Menariknya, di Universitas Sakarya juga terdapat lembaga dengan model yang memiliki kemiripan dengan BankZiska. Namanya Iksar. Lembaga tersebut dipimpin Dr. Salih Ulev, pengajar Ekonomi Islam di Universitas Sakarya.
“Di kampus Sakarya Turki juga berdiri lembaga yang mirip BankZiska,” ujar Berakon.
Iksar, terang dia juga memberikan pembiayaan kepada pelaku usaha mikro. Nilainya sekitar Rp2 juta dengan skema qardhul hasan, yakni pembiayaan kebajikan tanpa tambahan keuntungan.
Kesamaan model tersebut menjadi menarik. BankZiska di Ponorogo dan Iksar di Turki sama-sama menempatkan pembiayaan mikro berbasis qardhul hasan sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
Qardhul hasan adalah perjanjian pinjaman uang dalam keuangan syariah di mana peminjam hanya wajib mengembalikan pokok pinjaman tanpa ada tambahan bunga atau ketidakseimbangan apa pun
Dari Ponorogo ke Malaysia dan Bangka Belitung
Perhatian terhadap BankZiska tidak hanya datang dari Turki. Sebelumnya, Dr. Sri Hartono, Manajer BankZiska Magetan sekaligus dosen Universitas Muhammadiyah Ponorogo (Umpo), mempresentasikan model BankZiska dalam sebuah forum di Malaysia.
Presentasi tersebut mendapat respons positif. Tak lama kemudian, Umpo meluncurkan BankZiska pada 5 Juli 2026.
Peluncuran berlangsung bertepatan dengan kegiatan Hari Bermuhammadiyah Gembira PDM Ponorogo di Umpo.
Jejak BankZiska juga mulai tumbuh di luar Jawa. Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung telah mendirikan BankZiska yang dikelola oleh dosen muda, Hanif.
Hanif bahkan datang jauh-jauh dari Bangka Belitung ke Ponorogo untuk mempelajari pengelolaan BankZiska.
Fenomena itu menunjukkan satu hal: BankZiska mulai bergerak dari sebuah praktik lokal menjadi model pemberdayaan yang dipelajari dan direplikasi di berbagai tempat.
Kunjungan akademisi dari dalam dan luar negeri ke BankZiska Pusat di Ponorogo pun terus berlangsung.
Bagi BankZiska, perhatian tersebut menjadi energi untuk memperluas manfaat. Bukan sekadar memperbesar lembaga, tetapi memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat kecil yang membutuhkan modal tanpa terbebani bunga.
Dari Ponorogo, model itu kini mulai diperbincangkan hingga Turki. Harapannya, BankZiska semakin luas menyebar, membawa manfaat bagi lebih banyak masyarakat di berbagai penjuru bumi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments