Allah menciptakan manusia dengan berbagai macam profesi dan pekerjaan. Ada yang menjadi guru, pedagang, petani, dokter, pegawai, pengusaha, hingga pekerja sederhana yang mungkin tidak banyak dikenal orang.
Semua tugas itu sama-sama mulia apabila dikerjakan dengan cara yang baik dan membawa manfaat bagi sesama.
Namun, masalah muncul ketika tujuan hidup hanya berhenti pada mengejar materi. Ketika uang menjadi satu-satunya tujuan, hati akan mudah lelah, pikiran dipenuhi kegelisahan, dan hidup terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Sebab dunia yang dikejar adalah sesuatu yang sementara dan suatu saat akan ditinggalkan.
Coba perhatikan kehidupan sehari-hari. Ada orang yang sejak pagi hingga malam bekerja tanpa mengenal waktu. Ia berhasil membeli rumah yang besar, kendaraan yang mewah, dan memiliki tabungan yang melimpah.
Namun, di tengah kesibukan itu, salat sering ditunda, Al-Qur’an jarang dibaca, dan keluarga pun kurang mendapatkan perhatian. Ketika sakit datang atau musibah menimpa, ia baru menyadari bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan harta.
Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana. Penghasilannya tidak besar, tetapi ia menjaga salatnya, rajin bersedekah, dan senantiasa mengingat Allah.
Mungkin hartanya tidak sebanyak orang lain, tetapi hatinya lebih tenang dan hidupnya terasa lebih bermakna. Inilah keberkahan yang tidak selalu dapat diukur dengan angka.
Karena itu, ubahlah orientasi hidup. Dari yang semula hanya mengejar dunia, menjadi mengutamakan akhirat. Jadikan surga sebagai harapan terbesar dan berlindung kepada Allah dari siksa neraka.
Ketika tujuan utama adalah kembali kepada Allah, maka urusan dunia akan mengikuti. Kita akan lebih mudah bertawakal, lebih sabar menghadapi ujian, dan lebih ikhlas menjalani setiap proses kehidupan. Sebab kita sadar bahwa segala sesuatu berada dalam genggaman Allah.
Rasulullah saw bersabda: “Bersemangatlah melakukan hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)
Tidak semua orang kaya pasti bahagia, tetapi orang kaya maupun orang miskin sama-sama akan menghadapi kematian.
Tidak semua orang hidup sampai usia tua, tetapi yang muda maupun yang tua sama-sama akan menghadapi kematian.
Tidak semua cita-cita akan tercapai, tetapi mereka yang berhasil maupun yang belum berhasil, semuanya tetap akan menghadapi kematian.
Karena itu, wahai diri, jangan terlalu tenggelam dalam sesuatu yang belum pasti, sementara melupakan sesuatu yang sudah pasti. Kematian adalah kepastian yang tidak dapat ditunda.
Lihatlah betapa sering kita mendengar kabar seseorang yang pagi harinya masih beraktivitas seperti biasa, siangnya masih bercanda bersama keluarga, namun sore harinya telah dipanggil Allah.
Tidak ada yang mengetahui kapan waktunya tiba. Kematian bisa datang kapan saja, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja.
Maka ambillah dunia secukupnya dan jadikan akhirat sebagai tujuan utama.
Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. Sebab mengingat kematian bukan untuk membuat manusia putus asa, melainkan agar ia lebih bijak dalam menjalani hidup, lebih bersemangat dalam beribadah, segera bertaubat, dan meninggalkan kemaksiatan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun kehidupan yang hanya sementara, tetapi lalai mempersiapkan kehidupan yang kekal selamanya.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memanfaatkan dunia sebagai jalan menuju akhirat, bukan menjadikan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan. Aamiin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments