Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, mengingatkan bahwa keberhasilan setelah lulus kuliah tidak hanya bergantung pada ijazah yang diperoleh. Menurutnya, ada empat karakter penentu kesuksesan lulusan yang perlu dimiliki dan terus dikembangkan dalam kehidupan profesional.
Pesan tersebut disampaikan Sukadiono saat memberikan sambutan dalam Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) yang berlangsung di Dyandra Convention Center Surabaya, Senin (1/6/2026).
Di hadapan ratusan wisudawan, orang tua, serta sivitas akademika Umsura, Sukadiono menegaskan bahwa dunia kerja saat ini tidak hanya membutuhkan lulusan yang cerdas secara akademik, tetapi juga individu yang memiliki karakter kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata di lingkungan kerjanya.
“Ijazah itu alat untuk membuka pekerjaan. Tetapi kesuksesan seseorang sesungguhnya lebih banyak ditentukan oleh personality atau kepribadiannya,” ujar Sukadiono.
Menurutnya, Al-Qur’an telah memberikan panduan mengenai karakter yang harus dimiliki seseorang agar mampu meraih kesuksesan dalam kehidupan maupun karier. Setidaknya ada empat karakter utama yang harus dimiliki oleh setiap lulusan perguruan tinggi.
Karakter pertama yang ditekankan Sukadiono adalah amanah. Dia menjelaskan bahwa amanah bukan sekadar dapat dipercaya, melainkan juga mencerminkan integritas seseorang.
Menurut Deputi II Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK RI ini, integritas merupakan modal paling mendasar yang harus dimiliki oleh setiap lulusan ketika memasuki dunia kerja.
“Perusahaan atau tempat kerja sering kali tidak melihat seberapa tinggi IPK seseorang. Yang lebih penting adalah seberapa besar amanah yang bisa diemban ketika mendapatkan tugas dan tanggung jawab,” jelasnya.
Dia menambahkan, integritas menjadi faktor utama yang menentukan kredibilitas seseorang. Seseorang yang memiliki integritas tinggi akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dari pimpinan, rekan kerja, maupun masyarakat.
“Kredibilitas itu ditentukan oleh integritas dan kapasitas. Kalau kredibilitas seseorang baik, maka peluang untuk berkembang dan mendapatkan kepercayaan juga akan semakin besar,” tegasnya.
Karena itu, Sukadiono meminta para wisudawan untuk menjadikan amanah dan integritas sebagai prioritas utama dalam menjalani kehidupan profesional.
“Ini harus benar-benar menjadi nomor satu,” katanya.
Karakter kedua yang harus dimiliki adalah mujahid. Dalam penjelasannya, Sukadiono mengartikan mujahid sebagai sosok yang profesional dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan pekerjaan.
Dia mengingatkan bahwa dalam perjalanan karier, seseorang tidak selalu bekerja sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajari selama kuliah. Namun kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk bekerja setengah hati.
Sebagai contoh, Sukadiono menceritakan perjalanan kariernya sendiri. Meski berlatar belakang pendidikan dokter, ia mengaku sudah lebih dari dua dekade tidak menjalani praktik medis secara langsung.
“Saya ini dokter, tetapi sudah sekitar 25 tahun tidak praktik. Saya tidak pernah memegang pasien,” ungkapnya.
Sebagian besar perjalanan kariernya justru dihabiskan di bidang manajemen dan kepemimpinan, baik di lingkungan pendidikan maupun organisasi Muhammadiyah.
“Malah lebih sering berkecimpung di dunia manajemen. Tetapi apa pun pekerjaannya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan profesional,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa profesionalisme merupakan karakter yang sangat dibutuhkan dalam dunia kerja modern. Apa pun jenis pekerjaan yang diemban, seseorang harus memberikan kinerja terbaik dan menunjukkan dedikasi penuh.
“Pekerjaan apa saja harus kita lakukan dengan profesional,” pesannya.
Karakter ketiga adalah muslih, yaitu pribadi yang selalu mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, Sukadiono menyebut muslih sebagai seorang problem solver.
Menurutnya, individu dengan karakter muslih akan selalu membawa manfaat bagi lingkungan tempat ia berada. Mereka tidak menjadi bagian dari masalah, tetapi justru hadir sebagai bagian dari solusi.
“Orang seperti ini ditaruh di mana saja selalu memberi manfaat kepada institusi dan memberi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.
Di tengah dunia kerja yang penuh tantangan dan perubahan, perusahaan sangat membutuhkan individu yang mampu berpikir solutif, kreatif, dan mampu membantu organisasi menghadapi berbagai persoalan.
Karena itu, ia berpesan agar para lulusan Umsura terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan membangun kebiasaan mencari solusi.
“Maka jadilah orang yang memberi manfaat di mana pun Anda bekerja,” katanya.
Menurut Sukadiono, karakter seperti inilah yang saat ini paling banyak dicari oleh perusahaan maupun berbagai institusi.
Karakter keempat yang disampaikan adalah qowiyun, yaitu pribadi yang kuat, tangguh, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Sukadiono menilai ketangguhan menjadi kualitas yang sangat penting di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat. Tantangan pekerjaan, persaingan, maupun perkembangan teknologi menuntut setiap orang untuk terus belajar dan beradaptasi.
“Orang-orang yang tangguh adalah mereka yang tidak gampang putus asa dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.
Dia menjelaskan, orang yang memiliki sifat qowiyun akan bekerja dengan totalitas ketika mendapatkan amanah. Mereka tidak takut menghadapi tantangan dan selalu berusaha meningkatkan kemampuan diri.
“Meskipun harus belajar lagi, harus meningkatkan skill, tetapi dengan sifat tangguh itu dia akan terus berkembang,” kata Sukadiono.
Menurutnya, ketangguhan merupakan modal penting untuk mencapai kesuksesan jangka panjang. Banyak orang yang memiliki kemampuan tinggi, tetapi gagal berkembang karena mudah menyerah saat menghadapi hambatan.
Sebaliknya, mereka yang memiliki daya juang kuat akan terus bangkit dan menemukan jalan untuk meraih keberhasilan.
Beasiswa untuk Dua Mahasiswa Inspiratif
Pada kesempatan tersebut, Sukadiono juga memberikan apresiasi khusus kepada dua mahasiswa inspiratif Umsura yang dinilai memiliki semangat luar biasa dalam menempuh pendidikan.
Keduanya adalah M. Sholehudin, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik, dan Alfirza Candra Rachmana, mahasiswa Program Studi Manajemen.
Di hadapan peserta wisuda, Sukadiono secara langsung menginstruksikan Rektor Umsura Prof. Dr. dr. Mundakir untuk memberikan beasiswa kepada kedua mahasiswa tersebut sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan dan inspirasi yang telah mereka tunjukkan.
“Atas nama Ketua PWM Jawa Timur, saya menginstruksikan kepada rektor untuk memberikan beasiswa kepada Sholehudin dan Alfirza,” tegasnya yang disambut tepuk tangan meriah para peserta wisuda.
Pernyataan tersebut menjadi penutup yang mengesankan dalam sambutannya. Melalui penghargaan itu, Sukadiono ingin menegaskan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari karakter, perjuangan, ketangguhan, dan kemampuan memberi manfaat bagi sesama.
Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura yang diikuti sebanyak 456 lulusan pada semester gasal tahun akademik 2025/2026.
Menurut Mundakir, jumlah wisudawan pada semester gasal kali ini memang lebih sedikit dibandingkan periode sebelumnya. Namun hal tersebut tidak mengurangi semangat Umsura untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments