Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 116, 117, 118, dan 119.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 47
***
Halaman 116
- Aktivitas Muhammadiyah Jawa Timur
Melacak sejarah Persyarikatan Muhammadiyah Jawa Timur pada masa pendudukan Tentara Jepang adalah pekerjaan yang sulit. Hal itu disebabkan oleh sedikitnya data tentang keadaan dan gerak amal usaha Muhammadiyah di cabang dan ranting. Kenyataan itu tidak terlepas dari situasi dan kondisi pada waktu itu.
Masa pendudukan Jepang di Jawa dan Indonesia, meski hanya tiga setengah tahun, tetapi situasinya sangat mencekam dan menakutkan. Kemelaratan, kelaparan, dan tuna pakaian diderita sebagian besar rakyat di desa dan di kota. Kematian massal di mana-mana terjadi setiap hari.
Catatan tentang keberadaan dan gerak amal usaha Muhammadiyah yang masih ada hanya dimiliki oleh beberapa cabang. Catatan itu pun tidak ada yang lengkap, bahkan sepotong-sepotong. Dalam masa pendudukan Tentara Jepang, Muhammadiyah Cabang
Halaman 117
Malang dan ranting-rantingnya menerapkan taktik sebagaimana dianjurkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagian aktivis Muhammadiyah di Malang tidak menunjukkan aktifitas secara terbuka. Sebagian pengurus dan warganya bergerak secara individual, misalnya dengan menjadi anggota Peta dan Heiho. Salah seorang aktivis bernama Takruni bahkan menjadi anggota sebuah gerakan bawah tanah, yang sebelumnya pernah menjadi anggota PSII pimpinan H . Agus Salim.{61}
Di antara anggota pemuda Muhammadiyah dan aktivis HW yang menghindar untuk masuk Peta, di antaranya adalah Dimyati, Ramelan, Ramli dan Saidi. Dengan cara berpuasa pada waktu test masuk, mereka memang tidak lolos, tetapi mereka tetap terkena kewajiban masuk Seinendan, yakni barisan pemuda yang dilatih.
Aktivis HW yang bernama Dimyati malah ditunjuk menjadi komandan. Beberapa aktivis Pemuda Muhammadiyah dan HW yang tercatat sebagai anggota Peta ialah Joyo Kusumo, Sulaiman, dan Imam Syafi’i.{62}
Di Malang dibentuk Shumuka. Kyai M. Nur Yasin, tokoh Muhammadiyah Malang masuk menjadi salah seorang pimpinannya. Sementara itu selama masa pendudukan Jepang, M. Beja Dermaleksana dipercaya menjadi Konsul Daerah Muhammadiyah.{63} Suatu tugas yang amat berat, sulit dan krusial, karena ia harus
Halaman 118
mengelola Persyarikatan yang dibekukan, kemudian boleh bergerak lagi dengan segala keterbatasan dan dalam pengawasan. Pada masa penjajahan Belanda, Muhammadiyah Malang memiliki poliklinik yang cukup maju. Buktinya, telah mempunyai sebuah mobil serba guna. Mobil itu bertuliskan WANDELENDE POLIKLINIEK (poliklinik keliling) untuk menjangkau warga Malang yang jauh, tetapi juga dapat berfungsi sebagai ambulans untuk mengangkut jenazah. Mobil merk Dodge itu dibeli oleh Pengurus PKO seharga 50 gulden. Pada 1944, mobil itu dirampas oleh penguasa Tentara Jepang.{64}
Masa pendudukan Tentara Jepang yang penuh kesulitan dan tekanan ini agaknya tidak menyurutkan aktivitas Muhammadiyah Ranting Tempurejo, Ngawi. Pada 1942, ranting ini justru mendirikan Madrasah Diniyah Tarbiyah al-Fatat, yaitu madrasah khusus untuk anak-anak perempuan. Madrasah ini dipimpin oleh Ny. Syarifah Mukhtaram. Dua tahun kemudian (1944) berdiri pula Taman Kanak-kanak yang diasuh oleh Nn. Juwariyah.{65}
Pada 1940 Muhammadiyah Cabang Nganjuk berhasil mendirikan gedung sekolah. Gedung sekolah ini pernah akan diambil alih oleh Tentara Jepang, tetapi dengan segala daya dapat dipertahankan oleh pengurus. Pada masa Perang Kemerdekaan, gedung itu digunakan untuk markas TNI, kemudian setelah pengakuan kedaulatan, ditempati untuk SMP Negeri. Sedangkan SMP Muhammadiyah menempatinya pada sore hari. Baru pada 1954 gedung sekolah itu dikembalikan kepada Muhammadiyah.{66}
B. Masa Perang Kemerdekaan
- Situasi Sosial Politik
Pada paruh pertama bulan Agustus 1945, dua kota penting di Jepang hancur total oleh serangan bom atom Amerika Serikat. Kedua kota itu adalah Nagasaki (6 Agustus) dan Hiroshima (9 Agustus). Peristiwa itu menyebabkan Kaisar Jepang, Hiro Hito, menyatakan penghentian perang dan menyerah tanpa syarat kepada Sekutu (14 Agustus). Peristiwa tersebut juga mengubah situasi dan geo-politik
Halaman 119
internasional, termasuk Indonesia, dan ikut mempercepat kemerdekaan Indonesia yang memang sudah dipersiapkan oleh para pemimpin Indonesia, termasuk empat pemimpin Muhammadiyah, yaitu K.H. Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Muzakkir dan Mr. Kasman Singodimejo. Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Berita tentang proklamasi kemerdekaan tersebut sebenarnya telah diterima oleh anggota utama staf redaksi Suara Asia dari kantor berita Domei Cabang Surabaya, hari itu juga.{67} Pada awalnya Muhammad Ali, staf redaksi Suara Asia, sempat ragu, karena adanya bantahan dari pihak Tentara Jepang. Tetapi setelah memperoleh konfirmasi dan klarifikasi dari kantor berita Domei, berita itu langsung dimuat di harian Suara Asia edisi sore, pada hari itu juga.
Berita ditulis dengan tajuk mencolok, berhuruf besar berwarna merah. Dengan demikian, berita tentang proklamasi telah tersiar di Jawa Timur sore hari pada 17 Agustus 1945. Berita itu kemudian diperluas oleh siaran radio Hoso Kyoku Surabaya, pada keesokan harinya.{68}
Selama periode antara 1945 dan 1950, terjadi tiga peristiwa penting di Jawa Timur, yaitu : a. Pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya; b. Aksi Militer Belanda I dan II sepanjang tahun 1946-1949; c. Pada 1948 terjadi pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun yang dikenal dengan sebutan “Madiun Affair.”
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments