Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tokoh Penting Muhammadiyah yang Belum Diketahui Namanya Itu Kembali Disebut-sebut

Iklan Landscape Smamda
Tokoh Penting Muhammadiyah yang Belum Diketahui Namanya Itu Kembali Disebut-sebut
Peserta Walk for Philanthropy in Historical Area Lazismu PWM Jatim berangkat dari titik start, Jl Achmad Jais No 34 A-1, Plampitan (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)

Di tengah perkembangan sejarah modern Muhammadiyah Jawa Timur, ada lubang hitam narasi yang belum terisi. Ada seorang tokoh penting, sosok sentral, sang “punjer” atau pusat peradaban Muhammadiyah di Surabaya pada 1916-an yang identitas namanya pun masih menjadi teka-teki.

Tokoh penting yang belum diketahui namanya itu bukan sekadar saksi sejarah. Melainkan arsitek gerakan yang memfasilitasi KH Ahmad Dahlan untuk menanamkan benih pembaruan Islam di tanah Surabaya. Dan, Peneleh khususnya.

Sosok ini kembali menjadi perbincangan hangat dalam kegiatan Fun Walk for Philanthropy in Historical Area yang diselenggarakan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadakah Muhammadiyah (Lazismu) PWM Jawa Timur,, Sabtu (04/07/2026). Saat lebih dari 80 peserta menyusuri Gang VII Peneleh. Perhatian mereka tertuju pada sebuah rumah bernomor 22. Rumah yang di bagian atasnya bertuliskan “Toko Buku Peneleh”.

“Kalau memakai istilah Jawa, beliau ini bisa disebut sebagai punjer perkembangan Muhammadiyah di Surabaya,” ujar inisiator Gegandring Soerabaia yang sekaligus menjadi guide acara, Kuncarsono Prasetyo.

Peran tokoh ini dalam perkembangan Muhammadiyah di Surabaya tidaklah kecil. Sebaliknya, ia diyakini menjadi tokoh yang menyediakan ruang, mengorganisasi jamaah, bahkan menjadi simpul awal berkembangnya dakwah Muhammadiyah pada 1916. Bahkan jauh hari sebelum Muhammadiyah berdiri di Surabaya pada 1 November 1921.

Menurut Kuncar, bangunan ini memang dikenal masyarakat sebagai Toko Buku Peneleh. Namun jauh sebelum menjadi toko buku, rumah itu memiliki sejarah yang jauh lebih besar.

Kuncar memaparkan fakta yang cukup mencengangkan. Bahwa empat bangunan berjejer ke arah timur di lokasi yang berhadapan dengan rumah Tjokroaminoto itu dulunya milik satu orang. Rumah itulah yang menjadi saksi bisu pengajian-pengajian awal Muhammadiyah di Surabaya yang dipimpin langsung oleh KH Ahmad Dahlan.

“Lebih luar biasa lagi, pada tahun 1916, tokoh misterius ini telah mampu mengorganisir lebih dari 100 jamaah dalam setiap pertemuan bulanan. Dalam skala zaman itu, angka tersebut bukanlah jumlah yang kecil untuk sebuah gerakan yang baru saja dirintis,” jelas Kuncar.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa dakwah pembaruan Islam yang dibawa KH Ahmad Dahlan sebenarnya memperoleh basis sosial yang cukup kuat di Surabaya. Bahkan sebelum cabang Muhammadiyah resmi berdiri. “Tetapi sampai sekarang nama tokohnya belum diketahui,” tambah Kuncar.

Keistimewaan rumah itu juga terletak pada hubungan Muhammadiyah dengan Presiden pertama Republik Indonesi, Ir Soekarno. Mengutip buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat, Kuncar menjelaskan bahwa Bung Karno pernah mengenang masa ketika dirinya mulai mengenal Islam secara lebih mendalam.

“Aku menemukan sendiri agama Islam dalam usia 15 tahun, ketika aku menemani keluarga Tjokro mengikuti organisasi agama dan sosial bernama Muhammadijah. Gedung pertemuannya terletak di seberang rumah kami di Gang Peneleh,” demikian kutipan yang disampaikan Kuncar.

Menurutnya, rumah tempat pengajian yang dimaksud Bung Karno itulah rumah yang kini berdampingan dengan Toko Buku Peneleh.

Selama ini banyak orang mengaitkan bangunan tersebut dengan tokoh Muhammadiyah Abdullatif Zain. Namun Kuncar menegaskan bahwa anggapan itu kurang tepat. Menurutnya, Abdullatif Zain masih berusia sekitar empat hingga lima tahun lebih muda daripada Bung Karno.

Artinya, ketika pengajian Muhammadiyah telah mampu menghimpun lebih dari seratus peserta tahun 1916, Abdullatif Zain masih berstatus anak-anak.

Karena itu, tokoh yang menginisiasi pengajian tersebut diyakini adalah ayah Abdullatif Zain. Masalahnya, hingga kini nama sang ayah belum berhasil ditemukan.Penjelasan itu justru memancing rasa penasaran peserta.

SMPM 5 Pucang SBY

“Lalu sebenarnya siapa nama tokoh itu?” tanya salah seorang peserta tanpa merasa berdosa.

Jawaban Kuncar sontak mengundang gelak tawa.

“Jangankan saya, keluarganya sendiri juga belum tahu. Ini cicitnya juga belum tahu. Apalagi saya,” ujarnya sambil menunjuk Azhari, keturunan Abdullatif Zain yang ikut dalam kegiatan tersebut.

Bagi Azhari sendiri, cerita tersebut menjadi pengalaman baru. Selama ini dirinya tidak pernah mengetahui secara utuh bahwa buyut mereka memiliki peran penting dalam sejarah awal Muhammadiyah Surabaya.

“Dulu waktu saya kecil tidak ada cerita seperti ini. Saya juga tidak tahu kalau ternyata buyut saya itu orang penting,” ujarnya kepada PWMU.CO di sela perjalanan menuju titik sejarah berikutnya.

Nama tokoh tersebut kembali diangkat Kuncar ketika menyampaikan sambutan pada peringatan Milad ke-24 Lazismu. Ia menegaskan bahwa Surabaya, khususnya kawasan Peneleh, merupakan pijakan penting bagi perkembangan Muhammadiyah di luar Yogyakarta.

“Bahwa Muhammadiyah mendapatkan pijakan kuat berkembang di luar Jogja adalah Surabaya. Khususnya Peneleh. Dan di Peneleh ini pertama kali berdiri HIS di tanah milik bapaknya Abdullatif Zain itu,” katanya.

Ironisnya, sosok pemilik tanah yang begitu berjasa itu justru belum diketahui identitasnya.

“Karena itu sejak sekitar tiga bulan lalu telah memberi tugas kepada PWMU.CO, Mas Yudi (Agus Wahyudi) dan Mas Kholid (Muh Kholid AS), untuk menelusuri tokoh tersebut,” terang Kuncar.

Pentingnya mengetahui nama tokoh ini bukan semata-mata untuk mengagungkan individu. Melainkan untuk meluruskan narasi sejarah Muhammadiyah di Surabaya. Tanpa peran tokoh yang “punjer” ini, mungkin Muhammadiyah tidak akan memiliki akar yang kuat di Surabaya.

***

Tulisan lain tentang tokoh ini bisa dibaca: Namanya Belum Ketemu, Inilah Tokoh Penting Muhammadiyah yang Disebut Bung Karno

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/07/2026 22:27
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu