Ada pemandangan yang menarik dalam pelaksanaan kegiatan Sang Maestro: Jatim Historical Leadership Program yang diselenggarakan oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) bersama Majelis Pustaka, Informasi, dan Digitalisasi (MPID) PWM Jawa Timur pada Sabtu-Ahad (4-5/7/2026).
Salah seorang peserta, Dr. Tibyani, S.T., M.T. asal Malang, tampil berbeda dengan mengenakan kostum yang merepresentasikan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Penampilannya menarik perhatian peserta lain sekaligus menunjukkan kecintaannya terhadap sejarah dan tokoh-tokoh inspiratif.
Dr. Tibyani mengungkapkan bahwa keputusannya mengikuti kegiatan tersebut dilandasi oleh ketertarikannya terhadap sejarah, khususnya kisah para sahabat Nabi Muhammad SAW. Selain itu, ia juga ingin mengangkat sosok dosennya yang selama ini menjadi mentor sekaligus pembinanya ketika aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
“Saya menyukai kisah sejarah sahabat Nabi. Selain itu, saya ingin mengangkat salah satu dosen saya yang menjadi mentor dan pembina saya selama di IMM,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Tibyani hadir sebagai perwakilan dari Universitas Brawijaya. Ia berencana menulis biografi salah satu tokoh Muhammadiyah yang juga pernah menjadi Rektor Universitas Brawijaya, yakni Prof. Zainal Arif Ahmadi, yang pernah mengemban amanah sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta.
“Saya hadir dalam kegiatan ini mewakili Universitas Brawijaya untuk menuliskan tokoh Muhammadiyah yang merupakan mantan Rektor UB, Prof. Zainal Arif Ahmadi, yang pernah menjabat sebagai Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta,” tuturnya.
Menurutnya, penulisan biografi tersebut tidak berhenti pada kegiatan Sang Maestro. Ia bersama tim akan melanjutkan penelitian lebih mendalam untuk menggali berbagai data dan jejak perjuangan tokoh tersebut agar menghasilkan karya sejarah yang komprehensif.
Lebih lanjut, Dr. Tibyani mengaku memperoleh banyak wawasan baru selama mengikuti program tersebut. Ia memahami metode penelitian sejarah, teknik menyusun biografi tokoh, hingga cara menyajikan tulisan sejarah agar lebih menarik dan mudah dipahami oleh pembaca.
“Dari kegiatan ini, saya mendapatkan insight baru tentang bagaimana metode menulis sejarah, bagaimana menulis biografi tokoh, serta cara agar tulisan kita bisa lebih menarik,” ungkapnya.
Di akhir kegiatan, Dr. Tibyani menyampaikan apresiasinya kepada penyelenggara atas terselenggaranya program yang dinilai sangat bermanfaat bagi para penulis sejarah dan kader Muhammadiyah. Ia berharap Sang Maestro dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang agar semakin banyak kader yang terdorong mendokumentasikan jejak perjuangan tokoh-tokoh Muhammadiyah.
“Kalau kegiatan seperti ini digelar lagi, saya ingin ikut serta juga,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments