Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Desa Pancasila Balun, Catatan Pengabdian KKN 195 UMM tentang Keberagaman dan Kebersamaan

Iklan Landscape Smamda
Desa Pancasila Balun, Catatan Pengabdian KKN 195 UMM tentang Keberagaman dan Kebersamaan
Mahasiswa KKN UMM Kelompok 195 bersama berbagai pihak dalam rangkaian kegiatan pengabdian di Desa Balun, Lamongan. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Mahasiswa KKN Berdampak Kelompok 195 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menutup pengabdian di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Sabtu (29/8/2026), setelah sebulan menjalankan berbagai program bersama masyarakat di desa yang dikenal sebagai Desa Pancasila.

Desa Balun memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa Kelompok 195. Desa ini dikenal dengan kehidupan masyarakatnya yang terdiri dari tiga agama, yaitu Islam, Kristen, dan Hindu. Ketiganya hidup berdampingan dalam satu lingkungan dengan tetap menjaga hubungan sosial dan kebersamaan.

Sekretaris KKN Berdampak Kelompok 195 Thoriqul Hanan mengatakan, pengalaman tinggal di Desa Balun membuat mahasiswa melihat secara langsung bagaimana toleransi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Awalnya saya hanya mengetahui Desa Balun sebagai Desa Pancasila dari cerita dan informasi yang pernah saya dengar. Setelah tinggal langsung di sini, saya melihat bahwa toleransi itu bukan sekadar istilah. Kami benar-benar melihat masyarakat yang berbeda agama bisa berinteraksi, bekerja sama, dan saling menghormati,” ujar Thoriqul.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang paling berkesan selama menjalankan KKN. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga belajar dari kehidupan masyarakat.

Belajar Toleransi dari Kehidupan Sehari-hari

Selama berada di Desa Balun, mahasiswa KKN berkesempatan mengikuti berbagai kegiatan masyarakat. Interaksi tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman agama bukan penghalang bagi warga untuk membangun hubungan sosial.

Kehidupan masyarakat yang berbeda keyakinan justru berjalan berdampingan dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Nilai gotong royong terlihat ketika warga saling membantu dalam kegiatan desa tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai batas untuk bekerja bersama.

Perangkat Desa Balun menjelaskan bahwa kehidupan harmonis tersebut telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

“Warga di sini sudah terbiasa hidup berdampingan. Perbedaan agama memang ada, tetapi dalam urusan sosial dan kemasyarakatan kami tetap satu sebagai warga Desa Balun. Kalau ada kegiatan desa, yang dikedepankan adalah kebersamaan dan gotong royong,” kata H. Khusyairi.

Hal tersebut menjadi pengalaman yang menarik bagi mahasiswa. Mereka tidak hanya mempelajari toleransi melalui teori di bangku perkuliahan, tetapi dapat menyaksikannya dalam kehidupan nyata.

Peran di Balik Layar

Sebagai sekretaris kelompok, Thoriqul memiliki tanggung jawab dalam berbagai kebutuhan administrasi KKN. Mulai dari pencatatan kegiatan, surat-menyurat, koordinasi administrasi, hingga penyusunan laporan menjadi bagian dari tugas yang harus diselesaikan selama program berlangsung.

Menurutnya, tugas sebagai sekretaris mengajarkan bahwa keberhasilan sebuah kegiatan tidak hanya bergantung pada orang yang tampil di depan.

“Menjadi sekretaris membuat saya belajar bahwa setiap orang punya peran. Ada yang terlihat ketika kegiatan berlangsung, ada juga yang bekerja di belakang layar. Keduanya sama-sama penting karena tujuan akhirnya tetap satu, yaitu menyukseskan program KKN,” tuturnya.

Kelompok 195 juga terdiri dari mahasiswa dengan karakter dan kemampuan yang berbeda. Ada anggota yang fokus pada pendidikan, desain, dokumentasi, lingkungan, administrasi, hingga komunikasi dengan masyarakat dan pemerintah desa.

SMPM 5 Pucang SBY

Salah satu anggota Kelompok 195, Ahmad Nur Safik mengatakan perbedaan karakter justru menjadi bagian dari proses belajar selama KKN.

“Selama KKN kami belajar menyesuaikan diri satu sama lain. Tidak semua orang punya cara berpikir yang sama, tetapi dari situ kami belajar membagi tugas dan saling melengkapi. Capeknya memang ada, tetapi kebersamaan selama sebulan membuat semuanya terasa lebih ringan,” katanya.

Program dan Dukungan Pemerintah Desa

Selama sebulan, Kelompok 195 melaksanakan sejumlah program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Program tersebut di antaranya KKN Mengajar, seminar dan edukasi, kegiatan lingkungan, pemasangan tiang reflektor, serta pemasangan papan penunjuk arah.

Melalui KKN Mengajar, mahasiswa terlibat dalam kegiatan pendidikan dan pendampingan siswa. Seminar dan edukasi juga dilakukan sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam berbagi pengetahuan.

Di bidang lingkungan, mahasiswa turut terlibat dalam kegiatan kebersihan bersama masyarakat. Sementara pemasangan tiang reflektor dan papan penunjuk arah menjadi salah satu program yang memberikan manfaat secara langsung bagi lingkungan Desa Balun.

Pelaksanaan program tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Desa Balun. Pemerintah desa membantu mahasiswa dalam berkoordinasi dengan perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga.

“Program yang dibawa mahasiswa cukup membantu dan memberikan warna baru bagi kegiatan di desa. Kami berharap apa yang sudah dilakukan Kelompok 195 tidak berhenti ketika KKN selesai, tetapi manfaatnya bisa terus dirasakan masyarakat,” ujar H. Khusyairi.

Bukan Sekadar Program yang Selesai

Bagi Kelompok 195, berakhirnya KKN bukan hanya tentang selesainya program kerja. Sebulan tinggal bersama masyarakat telah memberikan pengalaman mengenai kerja sama, tanggung jawab, dan kehidupan dalam keberagaman.

Desa Balun mengajarkan bahwa perbedaan Islam, Kristen, dan Hindu tidak harus menjadi jarak. Dengan saling menghormati dan mengutamakan kepentingan bersama, keberagaman justru dapat menjadi kekuatan masyarakat.

“KKN ini bukan hanya tentang program yang kami selesaikan. Bagi saya, yang paling berharga adalah kebersamaan dengan teman-teman dan masyarakat. Desa Balun mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjalan sendiri-sendiri,” kata Hannan.

Ia bersama seluruh anggota Kelompok 195 menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Desa Balun, perangkat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta seluruh warga yang telah menerima dan mendukung mereka selama menjalankan pengabdian.

Program KKN mungkin memiliki batas waktu, tetapi pengalaman yang diperoleh mahasiswa selama berada di Desa Balun akan menjadi bagian yang tidak mudah dilupakan. Dari desa yang dikenal sebagai Desa Pancasila itu, Kelompok 195 membawa pulang satu pelajaran penting: keberagaman akan menjadi kekuatan ketika dirawat dengan toleransi, gotong royong, dan kebersamaan. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 31/08/2026 12:16
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu