Tingginya curah hujan yang memicu genangan air dan banjir di berbagai daerah tidak hanya meningkatkan risiko Demam Berdarah Dengue (DBD), tetapi juga ancaman penyakit berbahaya lain yang ditularkan hewan pengerat, yakni hantavirus.
Penyakit ini perlu diwaspadai karena memiliki gejala awal yang mirip DBD dan dapat memicu komplikasi serius pada paru-paru maupun ginjal apabila terlambat ditangani.
Dosen sekaligus Kepala Laboratorium Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. dr. H. Febri Endra Budi Setyawan, M.Kes., FISPH., FISCM., menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus RNA (Ribonucleic Acid) yang disebarkan oleh tikus.
Menurut Febri, hantavirus berbeda dengan leptospirosis atau penyakit kencing tikus yang disebabkan oleh bakteri.
“Hantavirus murni merupakan infeksi virus yang penularannya sangat mudah menyebar lewat medium cairan hingga udara,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa virus dapat menular kepada manusia melalui urin maupun gigitan langsung hewan pengerat.
Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui aerosol atau udara yang mengandung partikel virus dari kotoran tikus yang terhirup manusia.
“Virus ini bisa menular kepada manusia melalui urin atau gigitan langsung oleh hewan pengerat. Bahkan, penularannya juga bisa melalui aerosol karena paparan udara yang mengandung partikel virus hanta dari kotoran tikus yang terhirup oleh manusia,” jelasnya.
Secara klinis, Febri memaparkan bahwa infeksi hantavirus terbagi menjadi dua kondisi utama.
Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang fungsi ginjal. Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang mengganggu sistem pernapasan.
Gejala awal penyakit ini umumnya berupa demam, nyeri tubuh, dan lemas seperti flu biasa. Namun, kondisi dapat berkembang menjadi sesak napas, perdarahan, hingga muncul ruam kulit yang khas.
“Yang membedakan dengan DBD, biasanya muncul ruam-ruam di kulit yang disertai gangguan pada ginjal maupun pernapasan. Kalau sudah ada tanda seperti sakit kepala berat, sulit kencing, atau sesak napas, ini sudah masuk kondisi serius dan baiknya segera periksa ke layanan kesehatan terdekat,” tegasnya.
Hingga kini, belum ditemukan obat spesifik maupun vaksin untuk menangani hantavirus.
Penanganan medis yang dilakukan masih berfokus pada terapi suportif guna menjaga fungsi organ vital pasien agar tetap stabil.
Febri menjelaskan, risiko penularan virus ini meningkat saat musim hujan dan banjir karena tikus cenderung keluar dari sarang menuju area kering seperti gudang atau sudut lembap rumah.
“Karena virus itu tidak ada pengobatan spesifik, maka hal utama yang bisa dilakukan secara medis adalah membantu tubuh melawan virus tersebut dengan meningkatkan daya tahan tubuh pasien,” tambahnya.
Merespons ancaman kesehatan tersebut, masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun disiplin menerapkan langkah pencegahan.
Mitigasi paling efektif dimulai dari rumah, seperti rutin membersihkan lingkungan dan menggunakan alat pelindung diri (APD) berupa masker, sarung tangan, dan sepatu saat membersihkan gudang atau area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Selain itu, menjaga nutrisi dan istirahat yang cukup dinilai penting untuk memperkuat sistem imun tubuh.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Kunci utamanya adalah menjaga kebersihan lingkungan dan imunitas tubuh agar terhindar dari paparan infeksi,” pungkasnya.





0 Tanggapan
Empty Comments