Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dua Fatimah dan Satu Wafa

Iklan Landscape Smamda
Dua Fatimah dan Satu Wafa
Ilustrasi
Oleh : M. Anwar Djaelani Penulis 16 buku

Pada 2026, Agustus “beririsan” dengan Rabi’ul Awwal. Di antara hal menarik di dalamnya adalah kisah tiga perempuan yang inspiratif. Ketiganya berani bersikap merdeka, yaitu teguh memperjuangkan kebenaran.

Ketiga perempuan itu memenuhi makna merdeka menurut Hamka. Jika begitu, apa makna merdeka menurut ulama besar itu? Siapa ketiga perempuan yang dimaksud dan kisahnya tentang apa?

Pada 1951 terbit buku Hamka yang berjudul Urat Tunggang Pantjasila (baca: Urat Tunggang Pancasila). Pada 1952, terbit cetakan keduanya. Mari ikuti pandangan Hamka tentang merdeka.

Kata Hamka (1952: 26-27), suatu bangsa yang percaya sekaligus memperjuangkan Ketuhanan yang Maha Esa akan mencapai derajat yang setinggi-tingginya jika mereka tetap memegang tiga pokok dari kemerdekaan, yaitu:

Pertama, merdeka berkemauan, terutama dalam hal menyampaikan dan menciptakan kondisi yang makruf/kebaikan. Hal ini kita kenal sebagai amar makruf.

Kedua, merdeka berpikir, terutama dalam hal bebas menyatakan pikiran dalam wujud melarang yang mungkar. Hal ini kita kenal sebagai nahi mungkar.

Ketiga, merdeka jiwa, yaitu jika bebas dari ketakutan untuk percaya kepada Tuhan yang Maha Esa dan berjuang untuk Tuhan yang Maha Esa saja. Hasilnya, jiwa menjadi kuat menghadapi segala pancaroba dan kesulitan.

Rabi’ul Awwal merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Di dalamnya banyak yang memanfaatkannya, antara lain untuk membaca ulang sejarah Nabi Saw dan keluarganya. Ini bagian dari wujud kecintaan.

Nabi Saw itu pemberani. Begitu juga putrinya, Fatimah Az-Zahra Ra. Nabi Saw tak gentar menghadapi kaum kafir Quraisy. Demikian pula Fatimah Ra (selanjutnya, demikian penulisan namanya di kajian ini).

Seperti apa sosok Fatimah Ra? Aisyah Ra menggambarkan bahwa tidak ada orang yang lebih menyerupai Rasulullah Saw dalam hal cara berbicara dan perilaku keseharian selain Fatimah Ra.

Fatimah Ra tumbuh-kembang sebagai perempuan yang memiliki keberanian dan keteguhan sikap. Dia banyak membersamai perjuangan Nabi Saw sejak kecil. Fatimah Ra amat cinta kepada sang ayah. Sebaliknya, Fatimah Ra sangat dicintai Rasulullah Saw.

Ada nilai pada pribadi Nabi Saw, yaitu keberanian, yang terlihat juga pada figur Fatimah Ra. Dalam hal ini, lihatlah salah satu kisah berikut.

Kala itu Rasulullah Saw sedang shalat di dekat Ka’bah dan orang-orang Quraisy melakukan tindakan keji kepadanya. Abu Jahal meletakkan kotoran berupa isi perut kambing di atas punggung Nabi Saw ketika sedang sujud (Haekal, 2006: 102).

Mendengar kejadian itu, Fatimah Ra yang kala itu terbilang sebagai gadis kecil datang. Dia bersihkan kotoran itu dari tubuh ayahnya. Kemudian, berdasar HR Bukhari, Fatimah Ra menghadap ke arah mereka dan mengumpat orang-orang Quraisy tersebut (Bincang Syariah, 22/04/2021).

Sikap Fatimah Ra itu menggugah. Bahwa, seorang gadis kecil tak gentar menghadapi orang-orang dewasa yang sedang memusuhi ayahnya.

Sungguh membanggakan. Sebab, bukankah Fatimah Ra tidak memiliki apa-apa? Dia tidak membawa senjata. Dia tidak didampingi pasukan terlatih. Dia tidak mempunyai kekuasaan.

Hanya saja, Fatimah Ra memiliki sesuatu yang jauh lebih penting dari itu semua. Bahwa, dia punya keberanian untuk berpihak kepada kebenaran.

Kita, laki-laki atau perempuan dan tua atau muda, patut meneladani Fatimah Ra. Kita harus berani menegakkan kebenaran dan kebaikan. Kita mesti tak ragu-ragu beramar makruf nahi mungkar.

Seperti kata Hamka, jiwa Fatimah Ra merdeka. Jiwanya menjadi kuat menghadapi segala pancaroba dan kesulitan. Fatimah Ra tegar beramar makruf nahi mungkar.

Di negeri ini, ada perempuan bernama Fatimah Azzahra. Fatimah yang ini, mahasiswi Fakultas Kedokteran (FK) UI. Dia juga Wakil Ketua BEM UI periode 2026. Untuk selanjutnya, khusus di kajian ini, namanya ditulis Fatimah UI.

Kiprah Fatimah UI di dunia kemahasiswaan dan di tengah-tengah masyarakat membuatnya dikenal luas. Dia kritis dan berani menyampaikan pandangan.

Bacalah berita ini: Sosok Fatimah Azzahra, Mahasiswa UI yang Bungkam Hasan Nasbi saat Diskusi Korupsi MBG di Televisi (Tribun Kaltim, 24 Juni 2026).

SMPM 5 Pucang SBY

Disebutkan, Fatimah UI mengatakan bahwa ada yang gagal dalam sistem pencegahan korupsi, utamanya di program MBG. Atas ungkapan itu, Hasan Nasbi, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, tidak membantah logika berpikir Fatimah UI.

Sebulan setelah itu, Fatimah UI berdebat lagi. Kali ini dengan Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Republik Indonesia (Bakom RI). Itu terjadi pada acara Dua Sisi TVOne, 17 Juli 2026. Topiknya, Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Anggaran Pendidikan. Fatimah UI menyampaikan kritik dari perspektif mahasiswa.

Lagi, satu bulan sesudah itu, pada 18 Agustus 2026 mahasiswa UI menggelar demonstrasi. Sebagai Wakil Ketua BEM UI, Fatimah UI ikut memimpin aksi itu. Kala itu, di tengah ketegangan, Fatimah UI menegaskan pihaknya tetap berupaya menyampaikan aspirasi.

Aktivitas Fatimah UI di demonstrasi tersebut kemudian mendapat perhatian luas di media sosial. Sejumlah warganet memuji keberaniannya, termasuk saat berhadapan dengan pihak berwenang yang meminta agar mobil komando UI untuk pergi.

Hal penting yang perlu dicatat dari Fatimah UI, antara lain:

Pertama, tentang keberanian dari seorang anak muda dalam menyampaikan kegelisahan masyarakat.

Kedua, tentang kemampuan berbicara dari seorang aktivis di ruang publik dan siap dengan argumentasinya.

Seperti kata Hamka, jiwa Fatimah UI merdeka. Jiwanya menjadi kuat dalam menghadapi pancaroba dan kesulitan.

Pada Agustus 2026, di media sosial, nama Asma Wafa Ahdina termasuk yang banyak disebut. Wafa, demikian sapaannya di kajian ini, diketahui punya keberanian dalam bersikap.

Bacalah berita ini: Asma Wafa Putuskan Pilih Kuliah Kedokteran di UIN, Sempat 15 Jam Jadi Mahasiswi di Unhan (Tribun Medan, 31 Agustus 2026).

Disebutkan dalam berita tersebut, Wafa kini melanjutkan pendidikan di bidang kedokteran di kampus baru, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Hal itu setelah dia memutuskan tidak meneruskan pendidikan di Universitas Pertahanan (Unhan).

Kabar tersebut terlihat dari unggahan Instagram Story Wafa pada Rabu (26/8/2026) malam. Dalam unggahan itu, Wafa membagikan resume kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang digelar di UIN Jakarta pada 26 Agustus 2026.

Sebelumnya, Wafa adalah calon mahasiswa Unhan yang memilih mundur setelah dinyatakan lolos. Ia mundur karena tidak ingin melepas hijabnya.

Tentang ini, Wafa mengungkapkan bahwa dirinya sempat menjadi bagian dari Kadet Mahasiswa Cohort 7 Unhan RI, Jurusan Kedokteran, Fakultas Kedokteran Militer. Namun, status tersebut hanya dijalaninya dalam waktu singkat. Wafa mengaku hanya sekitar 15 jam berada di lingkungan Unhan sebelum memutuskan meninggalkan kampus tersebut.

Ia memilih mundur dengan menandatangani surat pengunduran diri daripada melanjutkan proses dengan menandatangani kontrak pendidikan.

Wafa kemudian menjelaskan alasan dirinya mengambil keputusan tersebut. Menurutnya, peserta yang mengenakan hijab tetap memperoleh kesempatan dan fasilitas selama mengikuti tahapan seleksi. Namun, ia mengaku mendapat pilihan berbeda setelah dinyatakan lolos.

Tentu, kisah Wafa yang kini mengikuti kegiatan akademik di UIN Jakarta menggugah. Seorang perempuan muda berani bersikap untuk tetap istiqamah mengenakan busana yang sesuai dengan syariat agamanya, yaitu Islam. Ini cermin bahwa Wafa punya jiwa tauhid yang kukuh.

Seperti kata Hamka, jiwa Wafa merdeka. Jiwanya kuat dalam menghadapi pancaroba dan kesulitan. Dia tak ragu-ragu untuk bersikap istiqamah dalam menunaikan ajaran agamanya, yaitu Islam.

Atas semua kejadian di mana pun, petik pelajaran darinya. Teruslah belajar. Tetaplah istiqamah di Jalan Allah, termasuk setia memegang ajaran ayat ini:

”….. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” (QS Al-Hasyr [59]: 2).

Revisi Oleh:
  • Satria - 03/09/2026 21:11
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu