Fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan hanya kalimat indah dalam Al-Qur’an. Ia adalah jalan hidup. Sebuah panggilan bagi mereka yang ingin menyalakan cahaya, bukan menunggu sorotan.
“Berlarilah dalam kebaikan. Tapi jangan sibuk menoleh ke kiri dan kanan. Karena pahala datang kepada yang tulus, bukan kepada yang terlihat.” ujar Ir. Tamhid Masyhudi, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, seperti dikuti dalam kanal Youtube Lazismu Jember.
Di tengah dunia yang penuh hiruk-pikuk, seruan ini berasa seperti oase. Betapa sering manusia terjebak dalam perlombaan semu: mengejar popularitas, jabatan, atau gengsi spiritual. Padahal, Islam mengajarkan lomba yang lain — lomba dalam memberi, dalam menebar manfaat, dalam mendahulukan kebaikan tanpa pamrih.
Tamhid mengawali renungannya dengan kisah Isra Mi’raj, perjalanan agung Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu ke Sidratul Muntaha. Peristiwa itu, katanya, bukan sekadar mukjizat, tetapi simbol perjalanan batin. Dari bumi menuju langit. Dari keraguan menuju keyakinan. Dari kelelahan menuju ketenangan.
Namun yang paling penting, Nabi tidak diminta tinggal di langit. Ia kembali ke bumi, membawa perintah salat, simbol keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan dengan sesama manusia.
“Isra Mi’raj bukan hanya tentang naik ke langit, tapi tentang kembali ke bumi dengan hati yang tercerahkan,” tutur Tamhid. “Itulah hakikat fastabiqul khairat: kembali dengan cahaya untuk menerangi sekitar.”
Pondasi Peradaban Damai
Tamhid juga mengisahkan kembali saat Rasulullah tiba di Madinah. Di hadapan umat yang baru pertama kali melihatnya, Nabi menyampaikan empat pesan sederhana namun mendalam, yakni afsus salam (tebarkan salam), ath’imut tha’am (berilah makan), washilul arham (sambunglah silaturahim), dan shallu billaili wannasu niyam (salatlah di malam hari ketika manusia terlelap).
Bagi Tamhid, keempat pesan ini cukup untuk membangun dunia yang damai tanpa teori panjang. Salam menebarkan kepercayaan, memberi makan menghapus lapar dan dendam, silaturahim memperkuat tali sosial, dan salat malam meneguhkan kekuatan batin.
“Kalau empat hal ini hidup dalam diri umat Islam,” katanya, “tak perlu seminar tentang perdamaian. Karena Islam sendiri sudah menjadi perdamaian itu.”
Tamhid kemudian mengajak jamaah merenungi makna tiga bulan suci: Rajab, Sya’ban, dan Ramadan. Menurutnya, Rajab adalah masa menanam kebaikan, Sya’ban waktu menyiram amal, dan Ramadan saat menuai pahala.
“Kalau ingin panen berkah Ramadan, mulai tanam sejak Rajab,” ujarnya. “Jangan berharap buah kalau tak pernah menanam benih.”
Analogi ini bukan sekadar tentang waktu, tetapi tentang kontinuitas amal. Fastabiqul khairat berarti berproses terus-menerus. Kebaikan bukan letupan sesaat, melainkan kebiasaan yang tumbuh dari kesadaran spiritual dan sosial.
Tak Cukup dengan Doa, Tapi Harus Bergerak
Tamhid lalu mengaitkan semangat fastabiqul khairat dengan gerakan Islam berkemajuan yang diusung Muhammadiyah. Bagi dia, beragama tidak berhenti pada zikir dan salat. Ia harus melahirkan aksi nyata dalam pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan.
“Islam tak butuh simbol, tapi solusi. Dan Muhammadiyah telah membuktikan, bahwa masjid, rumah sakit, dan sekolah bisa menjadi ladang fastabiqul khairat di zaman modern,” tegasnya.
Dia menyebut contoh konkret, ketika gempa melanda Turki dan Suriah, relawan Muhammadiyah sudah tiba di lokasi bencana dalam tiga hari pertama, membawa dokter spesialis dan rumah sakit lapangan. Semua itu dilakukan tanpa banyak bicara. Hanya bekerja, memberi, dan menolong.
“Mereka mungkin tak dikenal dunia, tapi dikenal oleh langit,” katanya.
Dalam pandangan Tamhid, fastabiqul khairat bukan lomba yang ramai sorak-sorai. Ia justru sunyi, tersembunyi di hati yang ikhlas. Tapi di situlah cahaya itu menyala. Karena Allah lebih menyukai amal yang kecil namun konsisten daripada besar tapi sesaat.
“Banyak orang ingin dikenal karena kebaikannya,” ujarnya, “padahal yang penting bukan dikenal, tapi diterima oleh Allah.”
Tamhid mengajak agar umat Islam tidak berhenti di ritual, tetapi melangkah lebih jauh, menjadi pembawa manfaat di manapun berada.
“Menjadi Muslim itu bukan soal nama,” katanya menegaskan, “tetapi soal kontribusi. Karena setiap amal baik, sekecil apa pun, adalah langkah menuju Islam yang berkemajuan.”
Jalan fastabiqul khairat memang sunyi. Tak selalu mendapat tepuk tangan. Kadang justru penuh lelah dan kesalahpahaman. Tapi di situlah keindahan iman diuji.
Dan seperti kata Tamhid Masyhudi, umat Islam harus terus berjalan di jalan itu — jalan sunyi yang menyala. Karena di ujungnya, bukan popularitas yang menunggu, melainkan ridha Allah yang abadi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments