Andai ada survei tentang lagu My Little Bolu Ketan, mungkin sekitar 58% penduduk Indonesia sudah pernah mendengarkan. Walau baru ‘dirilis’ 7 Mei 2026. Lagu berjudul asli MBG Mas Bahlil Ganteng, sudah merasuk ke alam bawah sadar masyarakt.
Di era TikTok, Reels, dan Shorts, perang pengaruh tidak lagi hanya berlangsung melalui pidato politik, baliho, atau iklan televisi. Hari ini, sebuah lagu berdurasi kurang dari satu menit dapat menjangkau jutaan orang, masuk ke alam bawah sadar, lalu membentuk persepsi tanpa disadari pendengarnya.
Fenomena lagu My Little Bolu Ketan yang dikaitkan dengan program MBG menarik untuk dibaca dari perspektif psikologi, komunikasi massa, dan etika Islam.
Dalam ilmu psikologi dikenal konsep Mere Exposure Effect, yaitu kecenderungan seseorang untuk semakin menyukai sesuatu hanya karena sering terpapar olehnya.
Penelitian klasik psikolog Robert Zajonc menunjukkan bahwa pengulangan paparan dapat meningkatkan rasa suka terhadap suatu obyek, bahkan ketika seseorang tidak memahami secara mendalam obyek tersebut.
Karena itu, lagu yang sederhana, berima, dan mudah diingat memiliki kekuatan luar biasa. Otak manusia memang dirancang untuk menyukai pola yang berulang.
Tidak heran jika setelah mendengar sebuah lagu, seseorang mulai ikut bersenandung, bahkan merasa lagu tersebut “enak”, meskipun awalnya tidak menyukainya. Ini bukan sihir, melainkan mekanisme neurologis yang telah banyak diteliti dalam ilmu perilaku.
Namun pertanyaannya, apakah lagu hanya berfungsi sebagai hiburan?
Di sinilah muncul konsep yang mulai sering dibahas dalam kajian komunikasi modern, yaitu Song Washing, penggunaan musik atau lagu untuk membangun citra positif terhadap suatu gagasan, program, organisasi, atau figur melalui pengulangan emosional yang menyenangkan.
Jika whitewashing untuk memutihkan citra, maka song washing dapat dipahami sebagai “mencuci persepsi” melalui musik. Dalam konteks MBG, agar selalu dipersepsikan bagus. Tidak ada lagi kritik, bahkan yang membangun sekalipun.
Musik bekerja langsung pada emosi, bukan logika. Ketika sebuah program dikemas dalam lagu yang ceria dan viral, perhatian publik berpotensi bergeser dari analisis substansi menuju pengalaman emosional yang menyenangkan.
Dalam konteks ini, lagu dapat menjadi alat Social Engineering (rekayasa sosial), usaha memengaruhi cara berpikir dan perilaku masyarakat melalui desain komunikasi tertentu.
Tentu, menyebut sebuah lagu sebagai alat rekayasa sosial tidak otomatis berarti ada niat jahat di baliknya. Namun secara ilmiah, musik memang dapat digunakan untuk membangun dukungan, loyalitas, atau persepsi positif terhadap suatu pesan.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep Cognitive Hacking, upaya memanfaatkan kelemahan atau bias kognitif manusia untuk memengaruhi cara berpikir, mengambil keputusan, atau membentuk keyakinan tertentu.
Jika peretas komputer menyerang sistem digital, maka cognitive hacker menyerang “sistem operasi pikiran manusia”.Salah satu target paling mudah dari cognitive hacking adalah anak-anak.
Dalam psikologi perkembangan, anak memiliki kemampuan berpikir kritis yang belum matang sehingga lebih mudah menerima pesan yang dikemas secara menyenangkan.
Karena itu, berbagai industri, mulai dari makanan, mainan, hingga kampanye sosial, sering menggunakan lagu, maskot, dan karakter lucu untuk menarik perhatian mereka. Anak-anak inilah yang menerima MBG dan suatu saat akan menjadi pengelolanya.
Islam sejak 14 abad lalu telah memberikan peringatan tentang pentingnya menjaga informasi yang masuk ke dalam pikiran.
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (Al Isra’ 36). Ayat ini mengajarkan pentingnya berpikir kritis sebelum menerima atau mempercayai suatu pesan.
Demikian pula Rasulullah bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar”. (HR. Muslim). Hadis ini relevan di era digital ketika masyarakat sering menerima, menyebarkan, dan mempercayai informasi tanpa proses verifikasi.
Aspek lain yang perlu dikritisi adalah penggunaan frasa my little bolu ketan. Kue Bolu, diasosiasikan kecil dan hitam, yang dikorelasikan dengan judul Mas Bahlil Ganteng. Maka lagu itu ingin menyampaikan pesan bahwa beliau pendek dan hitam.
Dalam perspektif Islam, penghinaan terhadap karakteristik fisik seseorang merupakan perilaku yang dilarang.
Allah SWT berfirman: “Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain.” (Al Hujurat 11). Ayat ini menunjukkan bahwa warna kulit, bentuk tubuh, tinggi badan, maupun kondisi fisik tidak boleh dijadikan objek ejekan atau bahan normalisasi penghinaan.
Jika suatu ungkapan berpotensi menumbuhkan stereotip negatif terhadap orang atau kelompok tertentu, maka perlu ada kehati-hatian dalam penggunaannya.
Pada akhirnya, persoalan utamanya bukan terletak pada lagunya semata, melainkan pada bagaimana masyarakat meresponsnya.
Lagu dapat menjadi media edukasi, tetapi juga dapat menjadi instrumen pembentukan persepsi. Musik dapat menghibur, tetapi juga dapat memengaruhi cara berpikir.
Karena itu, sikap terbaik adalah tetap menikmati karya seni secara proporsional sambil mempertahankan nalar kritis. Jangan sampai melodi yang merdu membuat publik berhenti bertanya.
Jangan sampai irama yang menyenangkan menggantikan fungsi akal sehat. Sebab dalam pandangan Islam maupun ilmu pengetahuan modern, masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat yang hanya pandai bernyanyi, melainkan masyarakat yang tetap mampu berpikir, mengkritisi, dan mencari kebenaran di balik setiap pesan yang diterimanya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments