Pelaksanaan Salat Iduladha 1447 Hijriah yang digelar di sepanjang Jalan Wonorejo I Surabaya berlangsung penuh khidmat dan sarat makna spiritual. Sejak pagi hari, Rabu (27/5/2026) warga Wonorejo dan sekitarnya mulai berdatangan memadati lokasi pelaksanaan shalat untuk menunaikan ibadah Iduladha bersama keluarga dan masyarakat sekitar.
Meski cuaca pagi diselimuti hujan gerimis, hal tersebut tidak mengurangi semangat warga untuk hadir. Dengan membawa sajadah dan payung sederhana, masyarakat tetap berbondong-bondong datang memenuhi lokasi salat. Suasana religius begitu terasa di tengah lantunan takbir yang menggema, menghadirkan pemandangan penuh kehangatan, kebersamaan, dan kecintaan umat kepada Allah SWT.
Bertindak sebagai khotib, Ust. Dr.(c). Muchamad Arifin, M.Ag menyampaikan khutbah yang menyentuh hati tentang makna nikmat, pengorbanan, dan persiapan menuju kehidupan akhirat. Dalam khutbahnya, beliau mengajak jamaah agar segala nikmat yang Allah berikan tidak hanya digunakan untuk kepentingan dunia semata, melainkan juga disisihkan untuk kepentingan akhirat sebagai bekal menuju kehidupan yang abadi.
“Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan akhirat adalah kehidupan yang kekal. Maka jangan sampai seluruh nikmat habis untuk urusan dunia, tetapi jadikan sebagian sebagai jalan mendekat kepada Allah SWT,” pesan beliau di hadapan jamaah.
Dengan penyampaian yang lembut dan penuh penghayatan, khutbah berlangsung dalam suasana sangat khusyuk. Warga yang memenuhi sepanjang Jalan Wonorejo I tampak menyimak dengan penuh perhatian hingga khutbah selesai. Keheningan yang menyelimuti suasana menunjukkan begitu dalam pesan yang disampaikan menyentuh hati masyarakat.
Dalam penjelasannya, Ust. Muchamad Arifin juga mengutip pesan Allah SWT dalam Surah Al-Kautsar bahwa sebagian nikmat yang diberikan hendaknya dikembalikan kepada Allah melalui ibadah, sedekah, dan kurban. Firman Allah: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ dijelaskan sebagai perintah agar manusia menjadikan nikmat sebagai sarana untuk menyembah Allah melalui shalat dan pengorbanan.
Beliau juga mengajak jamaah meneladani Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam hal cinta, keikhlasan, dan ketaatan kepada Allah SWT. Nilai pengorbanan dalam Idul Adha, menurut beliau, bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum untuk melatih kepedulian sosial, memperkuat ketakwaan, dan membangun jiwa yang ikhlas dalam berbagi kepada sesama.
Pelaksanaan Salat Iduladha tahun ini pun menjadi momentum spiritual yang menguatkan persaudaraan umat. Di tengah gerimis pagi yang turun perlahan, warga Wonorejo tetap bertahan dengan penuh kekhusyukan, membuktikan bahwa cinta kepada Allah dan kerinduan untuk beribadah mampu mengalahkan segala keadaan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments