Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Gunungan Sampah Setelah Kurban

Iklan Landscape Smamda
Gunungan Sampah Setelah Kurban
Ilustrasi: chatgbt

Pagi Iduladha selalu punya wajah yang khas. Takbir menggema sejak subuh. Jalan-jalan kampung ramai oleh warga yang datang ke lapangan atau masjid untuk Salat Id.

Anak-anak kecil berlarian sambil menunjuk sapi bertubuh besar yang diikat di halaman musala.

Di sudut lain, para panitia mulai sibuk menyiapkan pisau, tali, timbangan, hingga daftar penerima daging kurban.

Beberapa jam kemudian, suasana berubah semakin padat. Penyembelihan dimulai. Warga berdatangan membantu. Ada yang memotong daging, membersihkan jeroan, membungkus daging, hingga membagikannya dari rumah ke rumah.

Namun, ketika matahari mulai condong ke barat dan keramaian perlahan mereda, sering kali tersisa pemandangan lain yang jarang menjadi perhatian utama: tumpukan kantong plastik hitam, sisa air bercampur darah yang mengalir ke selokan, limbah penyembelihan yang belum tertangani, hingga aroma menyengat yang bertahan sampai malam.

Iduladha yang semestinya menghadirkan kebahagiaan kadang meninggalkan persoalan lingkungan.

Hal itulah yang menjadi perhatian Ustaz Khusnul Khuluk, mubaligh yang juga anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, saat hadir dalam podcast berajuk NGODE (Ngobrol Bareng Dewan) yang disiarkan kanal YouTube PWMU.TV.

Menurutnya, penyembelihan hewan kurban idealnya memang dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH). Namun, kondisi di perkotaan membuat hal itu tidak selalu mudah diterapkan.

“Jadi memang idealnya ada di rumah potong hewan. Cuman kan kalau di kota ini enggak mungkin semuanya akan mengarah ke sana,” ujarnya.

Karena itu, penyembelihan akhirnya tetap banyak dilakukan di kampung-kampung, halaman masjid, atau lingkungan permukiman warga. Di titik inilah, menurut Khusnul Khuluk, persoalan kebersihan harus benar-benar diperhatikan.

“Maka yang perlu diperhatikan pertama dari sisi kebersihannya. Terutama darah. Karena sapi ini kan darahnya banyak dan itu bau darahnya,” katanya.

Dia menjelaskan, darah hewan kurban yang tidak ditampung dengan baik akan menjadi sumber persoalan lingkungan beberapa hari setelah penyembelihan berlangsung.

“Kalau enggak ditampung dengan baik atau disiapkan penampungan yang baik, nanti akan menjadi masalah. Dua sampai tiga hari setelah penyembelihan itu pasti akan bau, ada lalat, dan seterusnya,” tuturnya.

Bukan hanya darah, kotoran hewan juga menjadi masalah yang sering diabaikan panitia kurban. “Kotoran hewan kan banyak. Ketika disembelih itu masih banyak kotorannya. Kalau misalnya dibuang ke sungai, nanti akan jadi masalah,” ujarnya.

Di desa-desa yang masih memiliki lahan luas, limbah semacam itu biasanya bisa ditanam atau dipendam di dalam tanah. Namun, situasi berbeda terjadi di kota-kota padat penduduk.

“Kalau di kampung bisa dipendem. Tapi kalau di kota ini memang harus ekstra karena problemnya banyak,” katanya.

Karena itu, ia mendorong adanya koordinasi yang lebih baik antara panitia kurban dengan Rumah Potong Hewan maupun Dinas Lingkungan Hidup.

“Mungkin perlu kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup. Kotoran langsung masuk ke truk lalu dibuang ke tempat pembuangan,” ucapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa persoalan limbah kurban tidak berhenti pada darah dan kotoran saja. Ceceran daging dan jeroan yang tidak tertangani juga bisa memicu bau menyengat.

SMPM 5 Pucang SBY

“Apalagi nanti ada ceceran-ceceran daging atau jeroan yang enggak tertanam. Dua tiga hari baunya mesti nyengat sekali,” katanya sambil tertawa kecil.

Pengalaman itu bukan sekadar teori baginya. Khusnul Khuluk mengaku berasal dari keluarga jagal dan sejak kecil sudah akrab dengan proses penyembelihan sapi.

“Saya ini keluarga jagal. Mulai SMP saya sudah terbiasa bergelut di jagal, motong sapi dan seterusnya,” ujarnya.

Meski demikian, ia memahami mengapa masyarakat tetap ingin menyelenggarakan penyembelihan di lingkungan masing-masing. Ada nilai sosial dan syiar keagamaan yang dirasakan langsung warga.

“Kalau enggak ada kepanitiaan itu kan kurang semarak. Masyarakat juga ingin melihat kurbannya dipotong di sini dan dibagi di sekitar sini,” katanya.

Dia pun menyinggung kebijakan larangan penyembelihan di permukiman yang pernah muncul di Jakarta dan sempat menuai penolakan masyarakat.

“Tujuannya sebenarnya bagus, supaya tidak kotor dan tidak bau. Tapi masyarakat juga ingin ada nilai syiar itu,” jelasnya.

Karena itu, menurutnya, jalan tengah yang paling realistis bukan melarang, melainkan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan.

“Tinggal masyarakat bisa bekerja sama menjaga kebersihan dan kesehatan dagingnya ketika sudah dipotong,” ujarnya.

Selain limbah penyembelihan, Khusnul Khuluk juga menyoroti persoalan sampah plastik saat pembagian daging kurban.

Dia mengapresiasi mulai munculnya gerakan penggunaan besek bambu sebagai pengganti kantong plastik sekali pakai. “Alhamdulillah kalau ada gerakan kembali seperti zaman dahulu,” katanya.

Dia mengenang masa kecil ketika masyarakat membagikan daging menggunakan daun jati. “Kalau zaman dulu pakai daun jati. Dagingnya tinggal dibungkus begitu saja,” ujarnya.

Kini, ketika daun jati semakin sulit ditemukan, besek bambu dinilai menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

“Besek ini kan bisa cepat terurai dengan tanah. Kalau plastik memang lama,” tuturnya.

Meski harga besek lebih mahal dibanding kantong plastik, ia menilai langkah itu tetap penting demi lingkungan sekaligus membantu ekonomi masyarakat kecil.

“Kalau berpikir tentang lingkungan dan perekonomian kelas bawah, ya kita saling membantu. Kalau bukan kita yang beli, siapa lagi?” katanya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 27/05/2026 16:02
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu