Perintah kepada anak-anaknya disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Wahai anak-anakku! Pergilah kalian, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya (Bunyamin) dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf:87).
Sabar dan Doa Jauhkan Putus Asa
Berputus asa jelas-jelas dilarang dalam Islam. Apalagi berputus asa dari Rahmat Allah Azza Wa Jalla. (QS. Al Hijr:56, Az Zumar:53, Yusuf:87). Sebab putus asa bagi manusia menunjukkan dirinya lupa pada Nya. Akibatnya dia lupa pada dirinya sendiri. (QS. Al Harsy:19).
Nabi Ibrahim alaihi sallam bukan karena berputus asa saat membawa istri dan anaknya, Hajar dan Ismail yang masih bayi pergi ke Padang pasir yang tandus.
Lalu ia meninggalkan keduanya di lembah yang tak ada air, pepohonan dan manusia. Hal ini diketahui setelah Hajar bertanya pada suaminya (Ibrahim) itu. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits tentang pertanyaannya.
“Wahai Ibrahim, kemana engkau pergi, meninggal kan kami di lembah ini yang tak seorang pun ada dan tak ada apa pun di sekitanya (tanah tandus)? Dia berkali-kali bertanya (kepadanya), tetapi ia (Ibrahim) tidak menoleh (memberi jawaban). Lalu dia (Hajar) bertanya kepadanya: “Apakah Allah Taala yang memerintahmu untuk melakukan itu?” Ibrahim menjawab:”Ya.” Dia berkata:”Kalau begitu, Allah Azza Wa Jalla tidak akan meninggalkan kita (hingga tersesat dan terlantar”). (HR. Al-Bukhari).
Nabi Ibrahim alaihi sallam lalu berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim:37).
Nabi Ayyub alaihi sallam saat diuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan penyakit yang tidak sembuh-sembuh dia juga tidak berputus asa. Ia menerimanya dengan sabar. Di samping itu ia selalu berdoa kepada Nya.
Justru istrinya yang tidak tahan dan putus asa menghadapi penderitaan Nabi Ayyub alaihi sallam yang berat. Hingga dia meninggalkannya. Hal ini disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
“Dan (ingatlah) Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya diriku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang diantara para penyayang. Maka Kami pun memperkenankan seruannya (doa) itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah. (Al-Anbiya: 83-84).
Demikian pula Nabi Yunus alaihi sallam setelah menyadari kesalahannya. Marah dan putus asa, sehingga ia meninggalkan tugas dakwah. Lalu ia ditelan ikan besar. Selama dalam perut ikan ia pun bersabar dan berdoa kepada Allah Azza Wa Jalla,
“Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Al- Anbiya: 87).
Allah akhirnya melepaskan Yunus alaihi sallam dari perut Ikan. Hingga ia terlempar ke daratan dan jatuh sakit. Namun All ah menyediakan obat berupa buah sejenis labu. (QS. Ash Shaffat:145-146).
Yunus selamat karena doanya terkabul. Sesuai firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamat kannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman”. (QS. Al-Anbiya’: 88).
Karena itu seseorang yang dalam keadaan putus asa, maka ingatlah pada Allah Azza Wa Jalla dan segera mohon ampun.
Lalu ia meminta pertolongan kepada Nya agar diselamatkan dari bahaya dan dosa putus asa. Kemudian tetaplah bersabar dan aktif dalam menegakkan shalat dan dakwah. (QS. Al-Baqarah :153, Ash Shaffat:147-148).





0 Tanggapan
Empty Comments