Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Hilangkan Putus Asa dengan Sabar dan Doa

Iklan Landscape Smamda
Hilangkan Putus Asa dengan Sabar dan Doa
Putus asa tidak terlepas dari keadaan qalbu atau jiwa manusia. Orang yang jiwanya lemah sangat mudah dijangkiti penyakit putus asa. (Muhsin MK/PWMU.CO).

Oleh: Muhsin MK

Karakter manusia yang menunjukkan dirinya lemah dan suka berputus asa (al-yai’su) dalam menghadapi gelombang hidup dan kehidupannya yang keras dan deras.

Ibarat kapal laut yang terombang-ambing di lautan terhempas ombak. Lalu kapten kapalnya membenturkan kapal itu ke karang karena tak mampu mengendalikan kemudinya.

Karena itu putus asa bagi manusia tak perlu dibiarkan melekat pada dirinya. Apalagi sebagai hamba Allah Azza Wa Jalla yang menganut agama Nya. Berputus asa perlu dicegah dan dihindari sejauh-jauhnya. Banyak jalan untuk menghindari penyakit qalbu ini. Islam telah memberikan solusi agar manusia tidak berputus asa.

Bahaya dan Dampak Putus Asa

Putus asa tidak terlepas dari keadaan qalbu atau jiwa manusia. Orang yang jiwanya lemah sangat mudah dijangkiti penyakit putus asa. Hanya sebab miskin dan tidak mendapatkan sesuatu yang hendak dimakan, lalu orang tersebut rela mengorbankan diri, membunuh anak dan bunuh diri.

Padahal Allah Azza Wa Jalla itu melarang membunuh anak karena kemiskinan. (QS. Al Isra:31, Al An’am:151).

Dalam suatu hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dosa apakah yang paling besar?’… Engkau membunuh anakmu karena takut ia akan makan bersamamu (miskin)”. (HR.Bukhari, no. 6001 dan Muslim, no. 86).

Bunuh diri karena putus asa juga dilarang dan berdosa. Bahkan pelakunya diharamkan masuk surga oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (QS An Nisa:29-30, Al Furqon:68). Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun juga menjelaskan dalam sabdanya.

“Ada seseorang di antara umat sebelum kalian menderita luka-luka tapi dia tidak sabar lalu dia mengambil sebilah pisau kemudian memotong tangannya yang mengakibatkan darah mengalir dan tidak berhenti hingga akhirnya dia meninggal dunia. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman dalam hadits qudsi, ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya sendiri, maka Aku haramkan baginya surga.’” (HR. Bukhari no. 3463 dan Muslim no. 113).

Berbagai cara bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang yang putus asa karena berbagai alasan justru akan membuatnya menderita di akhirat kelak. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan dalam sabdanya,

SMPM 5 Pucang SBY

“Barangsiapa menjatuhkan diri dari atas gunung, hingga membunuh jiwanya (bunuh diri), maka ia akan jatuh ke neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama- lamanya. Barangsiapa yang menegak racun hingga meninggal dunia, maka racun tersebut akan berada di tangannya, dan ia akan menegaknya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya. Serta barangsiapa bunuh diri dengan (menusuk dirinya dengan) besi, maka besi itu akan ada di tangan- nya, dengannya ia akan menghujamkan ke perut- nya di neraka jahanam. Ia kekal dan abadi di dalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5778 dan Muslim no. 109).

Solusi Pencegahan Putus Asa

Islam sebagai agama Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memberikan tuntunan dan petunjuk bagi manusia dalam menghadapi masalah dalam hidup dan kehidupannya.

Ujian dalam bentuk musibah dan bencana yang beraneka ragam wujudnya serta menimpa manusia di dunia ini akan selalu ada solusi yang diberikan Nya. (QS. Al Baqarah:155, Al Insyirah:7-8).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak akan membiar -kan hamba-hamba-Nya hidup menderita dan berputus asa. Dia pasti dan selalu memberikan jalan-jalan keluar dalam mengatasinya, (QS. Al- Ankabut:69). Sebab itu segala dan aneka macam masalah yang dihadapi oleh manusia akan dapat diselesaikannya dengan baik dan bahagia.

Dalam sejarah Islam yang pernah berputus asa di antaranya Nabi Yunus alaihi sallam. Keputus -asaan dirinya karena marah. Ia tidak sanggup dalam melaksanakan tugas dakwah kepada kaumnya yang membangkang pada ajaran Allah Azza Wa Jalla yang disampaikannya.

Hal ini diabadikan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Nabi Yunus), ketika dia pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Kami tidak akan menyulitkannya” (QS. Al- Anbiya: 87).

Berbeda dengan Nabi Yakub alaihi sallam saat kehilangan Yusuf, anak yang demikian dicintainya. Dia menyuruh anak-anaknya yang lain (kakak-kakaknya Yusuf) yang menyebabkan adik -nya itu hilang tak tahu rimbanya.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 19/06/2026 17:41
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu