Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Biarkan Scrolling Menahan Pertumbuhan, Buku Melatih Imajinasi dan Cara Berpikir

Iklan Landscape Smamda
Jangan Biarkan Scrolling Menahan Pertumbuhan, Buku Melatih Imajinasi dan Cara Berpikir
Foto: Wikipedia
pwmu.co -

Di era media sosial, kebiasaan membaca buku semakin sering kalah oleh aktivitas scrolling tanpa henti. Video berdurasi pendek, gambar bergerak, hingga algoritma yang terus menyuguhkan konten baru membuat banyak orang mampu menghabiskan waktu berjam-jam di layar ponsel, tetapi kesulitan bertahan membaca beberapa halaman buku.

Fenomena ini menjadi perhatian filsuf Muslim sekaligus penulis kajian filsafat Islam, Fahruddin Faiz. Menurutnya, persoalannya bukan semata-mata karena buku membosankan, melainkan karena manusia cenderung nyaman dengan kebiasaan yang terus diulang.

“Manusia itu akan nyaman dengan yang sudah dia biasakan,” ujar Fahruddin Faiz dalam diskusi Tentang Rasa yang dilansir di kanal Youtubbe SAY Inspiratif.

Ia menjelaskan, seseorang yang terbiasa membaca buku cetak akan merasa lebih nyaman membuka halaman demi halaman dibanding membaca melalui gawai. Sebaliknya, mereka yang sejak lama akrab dengan media digital akan lebih mudah menikmati aktivitas scrolling daripada membaca buku yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang.

Fahruddin mengakui bahwa media sosial memang dirancang lebih menarik dibanding buku.

Konten digital menghadirkan gambar, suara, musik, animasi, hingga transisi cepat yang membuat otak terus menerima rangsangan baru. Hal itu membuat scrolling terasa ringan sekaligus menyenangkan.

“Sekarang memang scrolling TikTok atau media sosial terasa lebih mengasyikkan karena ada visual, audio, dan sebagainya. Sementara membaca hanya mengandalkan teks,” katanya.

Namun, menurutnya, rasa “asyik” bukan ukuran apakah sebuah aktivitas membawa manfaat jangka panjang.

Semua kembali pada pembiasaan. Jika seseorang terus melatih diri membaca, lambat laun membaca juga akan terasa menyenangkan.

“Kebaikan apa pun biasanya memang harus diperjuangkan di awal. Lama-kelamaan baru menjadi nyaman,” ujarnya.

Tidak Semua Orang Harus Belajar dengan Cara yang Sama

Meski dikenal sebagai pecinta buku, Fahruddin tidak memandang media digital sebagai musuh.

Ia justru mengajak masyarakat memanfaatkan teknologi untuk belajar sesuai gaya masing-masing.

Menurutnya, setiap orang memiliki cara belajar yang berbeda. Ada yang mudah memahami materi melalui bacaan panjang. Ada pula yang lebih mudah menangkap penjelasan melalui audio, video, ilustrasi, atau audiobook.

Karena itu, apabila seseorang lebih nyaman belajar melalui media digital, yang perlu diubah bukan medianya, melainkan isi yang dikonsumsi.

“Kalau tetap scrolling, ya scrolling konten yang membuat kita belajar. Dengarkan kajian, ceramah, atau materi yang menambah ilmu,” katanya.

Dengan cara itu, media sosial tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang belajar yang produktif.

Semua Pencapaian Besar Berawal dari Hal yang Berat

Fahruddin kemudian mengingatkan bahwa sejarah peradaban manusia tidak pernah dibangun dari sesuatu yang selalu mudah dan menyenangkan.

Sebaliknya, hampir semua pencapaian besar lahir dari proses panjang yang pada awalnya terasa berat.

Menurutnya, kebiasaan manusia modern justru sering terjebak pada aktivitas yang instan dan menyenangkan.

Akibatnya, banyak orang enggan melakukan sesuatu yang sebenarnya penting hanya karena terasa sulit.

“Keberhasilan-keberhasilan besar itu selalu diawali dari proses yang awalnya tidak enak, awalnya berat,” ungkapnya.

Ia mengajak masyarakat mengubah pola pikir. Jika suatu aktivitas diyakini penting untuk masa depan, maka kebiasaan itu layak diperjuangkan meskipun pada awalnya terasa membosankan.

“Kalau memang penting, kenapa tidak dibiasakan?” katanya.

Belajar Menikmati Hal yang Dianggap Tidak Menarik

Sebagai ilustrasi, Fahruddin bercerita tentang masa kecilnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Berbeda dengan anak-anak seusianya yang lebih memilih bermain, ia justru menikmati pertunjukan wayang dan ludruk.

Saat itu banyak orang menganggap kesukaannya aneh. Namun, kebiasaan tersebut justru menjadi bekal berharga ketika dewasa.

Pengetahuan tentang tokoh-tokoh pewayangan kini sering membantunya menjelaskan berbagai konsep filsafat kepada para peserta kajian.

“Dulu orang menganggap wayang tidak menarik. Tapi ketika kita menemukan keasyikannya, manfaatnya ternyata sangat banyak,” ujarnya.

Menurutnya, membaca buku pun demikian. Banyak orang berhenti sebelum menemukan momen ketika ilmu mulai membuka wawasan baru. Padahal, di situlah letak kenikmatan belajar.

Ia menyebutnya sebagai momen “aha”, yaitu saat seseorang tiba-tiba memahami sesuatu yang sebelumnya tidak pernah disadari.

Buku Menghidupkan Imajinasi

Salah satu alasan Fahruddin tetap mencintai buku adalah karena membaca membuat imajinasi bekerja jauh lebih aktif dibanding menonton film.

Saat membaca novel atau cerita, pembaca membangun sendiri tokoh, suasana, hingga adegan di dalam pikirannya.

Sebaliknya, film telah menyediakan semua visual sehingga ruang imajinasi menjadi lebih sempit.

“Ketika membaca buku, imajinasi saya yang utama. Ceritanya saya bangun sendiri di kepala. Tapi ketika diangkat menjadi film, rasanya tidak seasik saat mendengarkan dan membayangkan sendiri,” tuturnya.

Dia mengaku pernah merasakan hal itu ketika membaca novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Hamka.

Saat novel tersebut kemudian difilmkan, gambaran yang selama ini hidup di kepalanya berubah karena visualnya telah ditentukan oleh sutradara.

Pengalaman itu membuatnya semakin menyadari bahwa membaca bukan sekadar menerima informasi, tetapi juga melatih daya cipta pikiran.

Fahruddin juga memiliki kebiasaan yang mungkin tidak disukai para kolektor buku. Ia gemar mencoret halaman-halaman buku yang dibacanya.

Baginya, buku bukan benda yang harus selalu bersih. Coretan, catatan kecil, hingga tanda-tanda di pinggir halaman merupakan bentuk dialog antara pembaca dan penulis.

“Kalau membaca buku, bukunya hampir tidak pernah bersih. Saya beri catatan, saya coret, saya tulis pendapat saya. Pikiran saya bekerja,” katanya.

Ia merasa aktivitas semacam itu membuat proses belajar jauh lebih hidup. Pembaca tidak sekadar menerima isi buku secara pasif, melainkan ikut menguji, menyetujui, bahkan mengkritisi gagasan yang sedang dibaca.

Cara seperti ini, menurutnya, sulit dilakukan ketika hanya mengonsumsi konten digital secara cepat.

Fahruddin menegaskan, setiap orang bebas memilih cara belajar yang paling sesuai dengan dirinya. Tidak semua orang harus menjadi pembaca buku yang tekun. Tidak semua pula harus belajar melalui video.

Yang terpenting adalah memastikan proses belajar tidak pernah berhenti.

“Teman-teman mungkin punya strategi belajar yang berbeda. Tetapi apa pun yang dilakukan, jangan berhenti belajar,” pesannya.

Sebab, menurutnya, pertumbuhan manusia selalu bermula dari kemauan untuk terus belajar.

Sebaliknya, jika hidup hanya mengejar kenyamanan dan kesenangan sesaat, kemampuan seseorang akan berhenti berkembang.

“Kalau kita berhenti belajar, hidup hanya mencari enak saja, nyaman saja, ya akhirnya level kita di situ-situ saja,” pungkasnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 18/07/2026 08:54
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu