Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jangan Tertipu Usia Muda, Setiap Detik Kita Mendekati Kematian

Iklan Landscape Smamda
Jangan Tertipu Usia Muda, Setiap Detik Kita Mendekati Kematian
Foto: Freepik
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Setiap kali jarum jam berdetak, sebenarnya usia kita bukan bertambah, melainkan berkurang. Setiap detik yang berlalu adalah satu detik yang membawa kita semakin dekat kepada ajal yang telah Allah tetapkan.

Jangan tertipu oleh usia muda, karena syarat meninggal bukanlah menjadi tua. Jangan pula terlena oleh tubuh yang sehat, sebab kematian tidak selalu diawali dengan sakit.

Betapa sering kita menyaksikan kabar duka datang tanpa diduga. Ada yang masih berangkat bekerja pagi hari, tetapi tidak pernah kembali ke rumah.

Ada yang berpamitan kepada keluarga untuk menempuh perjalanan, namun ternyata itulah perpisahan terakhir.

Ada pula yang masih bercanda bersama sahabat, lalu beberapa saat kemudian dipanggil Allah SWT. Kematian tidak mengenal jadwal yang bisa ditebak manusia.

Karena itulah, orang yang tenggelam dalam kenikmatan dunia, larut dalam syahwat, dan enggan menerima nasihat, sesungguhnya sedang melupakan kenyataan yang pasti akan dihadapinya.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya pasti akan menemui kamu. Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Jumu’ah: 8)

Kematian adalah kepastian bagi seluruh manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Laki-laki maupun perempuan, kaya ataupun miskin, pejabat maupun rakyat biasa, tua ataupun muda, semuanya akan menemui ajal ketika waktunya telah tiba.

Allah SWT berfirman: “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan ataupun percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raf: 34)

Manusia boleh membangun rumah paling kokoh, memiliki teknologi paling canggih, bahkan berlindung di tempat yang dianggap paling aman. Namun apabila Allah telah menetapkan ajal, tidak ada benteng yang mampu menahannya.

Allah SWT berfirman: “Di mana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (QS. An-Nisa’: 78)

SMPM 5 Pucang SBY

Orang yang sering mengingat kematian bukanlah orang yang pesimis menjalani hidup. Justru ia akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih ringan meminta maaf, lebih mudah memaafkan, lebih ikhlas bersedekah, dan lebih bersemangat memperbaiki ibadah. Ia sadar bahwa setiap hari bisa menjadi hari terakhirnya.

Bayangkan jika malam ini adalah malam terakhir kita. Apakah salat sudah kita jaga? Apakah masih ada hak orang lain yang belum kita tunaikan?

Apakah masih ada dosa yang belum kita sesali? Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang akan membuat hati menjadi lebih lembut dan mendorong kita untuk segera bertaubat.

Kita tidak pernah mengetahui di bumi mana kita akan meninggal, pada hari apa, pada jam berapa, dan dengan sebab apa Allah memanggil kita kembali. Yang kita ketahui hanyalah bahwa setiap detik yang berlalu adalah langkah menuju pertemuan dengan-Nya.

Bagi seorang mukmin, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia hanyalah gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya. Setelah kematian, seluruh manusia akan dibangkitkan, dihisab, dan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal yang pernah dilakukan, sekecil apa pun.

Karena itu, jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa mempersiapkan bekal menuju akhirat. Dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat adalah tujuan yang abadi.

Semoga Allah SWT mengaruniakan kepada kita husnul khatimah, hati yang senantiasa bertaubat, serta kemampuan untuk mengisi setiap detik kehidupan dengan amal saleh sebelum ajal benar-benar menjemput.

Wallāhu a’lam biṣ-ṣawāb. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 08/07/2026 08:57
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu