Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Jejak Sejarah Kiai Dahlan di Surabaya

Iklan Landscape Smamda
Jejak Sejarah Kiai Dahlan di Surabaya
Oleh : M. Miftahul Muslim, S.Hum. Sekretaris MPID PDM Surabaya

Di sebuah ruang diskusi dengan arsitektur yang begitu otentik, saya duduk tenang di barisan belakang bersama jagoan kecil dan rekan diskusi yang sudah saya anggap adik sendiri. Di tengah syahdunya pemaparan materi mengenai peristiwa bersejarah kedatangan Kiai Dahlan ke Surabaya, seseorang yang saya kenal menghampiri dan berbisik, “Nah kan, dibantah semua kan argumennya.”

Kalimat itu memantik perenungan mendalam di kepala saya. Bagi sebagian audiens, diskusi memang sering dipandang sebagai arena “bantah-membantah”—sebuah tanda bahwa peserta yang hadir sangat antusias dan kritis.

Namun, dari kacamata seseorang yang sedikit menggeluti dunia sejarah, saya melihat sisi yang berbeda.

Apa yang terjadi di atas panggung bukanlah pertarungan sengit untuk saling menjatuhkan fakta, melainkan upaya berharga untuk saling melengkapi.

Ibarat seorang pengepul, saya melihat keterangan para pemateri sebagai kepingan puzzle berharga yang jika disatukan akan membentuk narasi utuh mengenai perjalanan Kiai Dahlan ke Surabaya.

Peristiwa ini sangat krusial, namun sayangnya selama ini tercecer dalam fragmen-fragmen kecil yang belum terkumpul secara sistematis.

Beruntung, Tim Sejarawan Muhammadiyah Jawa Timur di bawah bimbingan Prof. Dr. Purnawan Basundoro telah menjawab dahaga intelektual tersebut melalui karya nyata berupa buku berjudul “Sang Surya di Jawa Dwipa: Jejak Perjalanan Kiai Dahlan di Jawa Timur”.

Selama ini, kisah kedatangan Kiai Dahlan memang berserakan. Sebagian tercatat di berbagai buku sejarah umum, sementara sebagian lagi tersimpan rapat dalam memori kolektif masyarakat melalui penuturan lisan atau oral history.

Akibatnya, masyarakat luas—termasuk komunitas pegiat sejarah—harus bersusah payah mengumpulkan serpihan data dari berbagai sumber demi memahami signifikansi penuh dari perjalanan tersebut.

Padahal, kedatangan Kiai Dahlan ke Surabaya bukan sekadar agenda dakwah biasa.

Ini adalah sebuah titik balik krusial dari pengaruh ideologi Islam reformis yang kelak menjadi fondasi kuat pergerakan tokoh-tokoh perjuangan Republik Indonesia, termasuk sang Guru Bangsa, HOS Tjokroaminoto.

SMPM 5 Pucang SBY

Di sinilah tantangan sesungguhnya muncul ke permukaan. Bercecerannya data sejarah kerap membuat masyarakat awam mengalami kebingungan dalam memilah informasi.

Untuk mengatasi distorsi tersebut, upaya pembukuan kisah perjalanan Kiai Dahlan tentu menjadi langkah awal yang sangat krusial.

Namun, kodifikasi ke dalam bentuk cetak saja tidak cukup.

Forum-forum diskusi ilmiah, seminar, dan penggalian data lapangan yang dilakukan secara masif oleh para sejarawan serta komunitas pegiat sejarah adalah ikhtiar penting selanjutnya.

Langkah ini dibutuhkan untuk menerangi fakta sejarah yang selama ini masih berada dalam ruang “remang-remang”.

Jika kerja-kerja riset multidisiplin dan diskursus publik seperti ini konsisten dilakukan, kita dapat membendung fenomena mengkhawatirkan yang dikenal sebagai “The Death of Expertise” atau matinya kepakaran.

Melalui konsistensi riset berbasis data empiris, kita bisa meminimalisasi kecenderungan masyarakat modern yang saat ini lebih mudah percaya pada narasi populer bersumber sumir di media sosial ketimbang otoritas sejarawan.

Pada akhirnya, menjaga kredibilitas narasi sejarah bukan hanya soal membenarkan sebuah fakta masa lalu.

Ini adalah tentang tugas besar untuk memastikan bahwa warisan perjalanan pemikiran sosok penting seperti Kiai Dahlan dapat sampai ke tangan generasi berikutnya dalam kondisi yang akurat, utuh, dan berwibawa.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 26/06/2026 14:44
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu