Di tengah permukiman Jagalan, Kelurahan Kandangsapi, Kota Pasuruan, berdiri Masjid At-Taqwa yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat setempat. Bagi warga senior, masjid ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi perubahan zaman, perkembangan dakwah, dan tumbuhnya kader-kader Muhammadiyah di lingkungan Jagalan.
Dalam wawancara, Dwi Joko Santoso menuturkan bahwa berdasarkan cerita turun-temurun di keluarganya, keberadaan Musala atau Masjid At-Taqwa diperkirakan sudah ada jauh sebelum abad ke-19. Namun, keterangan tersebut merupakan penuturan lisan keluarga dan masih memerlukan penelusuran lebih lanjut melalui arsip maupun dokumen sejarah.
Kenangan yang lebih jelas bermula dari kisah ayahnya, Sumardi, yang lahir pada tahun 1926. Menurut Dwi Joko Santoso, pada masa itu bangunan musala masih sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari gedek (anyaman bambu) sehingga sering mengalami kerusakan akibat banjir yang meluap dari Kali Jagalan dan Kali Gembong.
Seiring waktu, masyarakat bersama para tokoh setempat melakukan renovasi secara bertahap. Bangunan yang semula seluruhnya berbahan bambu mulai diganti menjadi tembok pada bagian bawah, sementara bagian atasnya masih menggunakan gedek. Perubahan itu menjadi tonggak awal berkembangnya Masjid At-Taqwa menjadi bangunan yang lebih kokoh.
Cikal Bakal Dakwah Muhammadiyah
Dwi Joko Santoso yang lahir pada tahun 1958 masih mengingat suasana masjid saat dirinya duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengenang bahwa setiap pelaksanaan salat Jumat, halaman di sebelah timur masjid yang saat itu masih berupa pekarangan dipenuhi tikar untuk menampung jamaah yang terus bertambah.
Menurutnya, pada dekade 1970-an, terutama sekitar tahun 1974 hingga 1976 ketika ia duduk di bangku SMA, aktivitas keagamaan di Masjid At-Taqwa mencapai masa yang sangat ramai. Pengajian, kegiatan remaja, hingga pembinaan warga berlangsung secara rutin dan menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan masyarakat.
Ia juga menyebut sejumlah tokoh yang memiliki peran penting dalam memakmurkan masjid, di antaranya Pak Mirin, Hasan Basri (Mbah Cang) Haji Slamet Riyadi, Masykur, Muchtar, Suharsono, Sumardijarso, Rasad, Zaenuri, Kusman, serta sejumlah tokoh lain yang kini sebagian besar telah wafat.
Menurut Dwi Joko Santoso, Hasan Basri (Mbah Cang) menjadi salah satu sosok yang paling berperan dalam membimbing generasi penerus agar tetap menjaga keberlangsungan aktivitas Masjid At-Taqwa. Semangat estafet kepengurusan itulah yang dinilai membuat kehidupan masjid tetap berjalan hingga sekarang.
Memasuki tahun-tahun berikutnya, aktivitas Masjid At-Taqwa mulai mengalami perubahan. Bukan karena berkurangnya semangat masyarakat, melainkan karena semakin banyak masjid baru berdiri di sekitar Jagalan dan wilayah sekitarnya. Kehadiran masjid-masjid yang lebih dekat dengan permukiman warga membuat jamaah tersebar ke berbagai tempat ibadah.
Selain itu, kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) juga mengalami tantangan. Anak-anak dan remaja memiliki lebih banyak pilihan untuk belajar mengaji di masjid-masjid lain yang menawarkan berbagai kegiatan pembinaan.
Sejarah yang Tinggi
Meski demikian, bagi Dwi Joko Santoso, Masjid At-Taqwa tetap memiliki nilai sejarah yang tinggi. Ia meyakini bahwa masjid tersebut merupakan salah satu cikal bakal perkembangan dakwah Muhammadiyah di kawasan Jagalan. Pernyataan tersebut merupakan pandangan narasumber yang masih memerlukan kajian sejarah lebih lanjut untuk memastikan posisi dan perannya dalam perkembangan Muhammadiyah di Kota Pasuruan.
Kini, bangunan yang dahulu hanya berupa mushola sederhana berdinding gedek telah berubah menjadi masjid permanen. Di balik perubahan fisiknya, tersimpan kisah tentang gotong royong warga, regenerasi para penggerak masjid, dan semangat mempertahankan pusat ibadah yang telah melayani masyarakat selama beberapa generasi.
Bagi warga Jagalan, Masjid At-Taqwa bukan hanya bangunan tua. Ia adalah ruang yang menyimpan memori kolektif tentang perjalanan dakwah, pendidikan Islam, dan kebersamaan masyarakat dari masa ke masa. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments