Diskusi bertajuk Perjalanan KH Ahmad Dahlan di Surabaya yang digelar PWMU.CO bersama Begandring Soerabaia menghadirkan beragam perspektif sejarah mengenai kiprah pendiri Muhammadiyah tersebut di Kota Pahlawan. Kegiatan berlangsung di Lodji Besar Cafe, Jalan Makam Peneleh No. 46 Surabaya, Selasa (16/6/2026).
Hadir sebagai narasumber Staf Ahli DPRD Kota Surabaya Muhammad Kholid AS, Sejarawan Muhammadiyah Azrohal Hasan, serta Co-Founder Begandring Soerabaia Kuncarsono Prasetyo.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian peserta adalah mengenai kapan pertama kali KH Ahmad Dahlan datang ke Surabaya dan bagaimana aktivitas dakwahnya berkembang di kota ini.
Sejarawan Muhammadiyah Azrohal Hasan menjelaskan bahwa berdasarkan sejumlah catatan sejarah, KH Ahmad Dahlan diperkirakan mulai aktif datang ke Surabaya pada rentang 1915–1916. Kehadiran beliau berkaitan erat dengan hubungan Muhammadiyah dan Sarekat Islam yang saat itu sedang berkembang.
“Kiai Dahlan datang ke Surabaya sekitar tahun 1915-1916 berdasarkan catatan Soekarno ketika masih bersekolah di Hoogere Burgerschool (HBS) Surabaya. Soekarno muda sering mengikuti kajian KH Ahmad Dahlan yang dilakukan secara berkeliling di mushala-mushala Surabaya,” ujarnya.
Azrohal menerangkan, dalam biografinya, Soekarno menceritakan bahwa rumah HOS Cokroaminoto—tempat ia menumpang tinggal selama bersekolah di HBS—kerap menjadi persinggahan para tokoh pergerakan dari berbagai daerah.
Menurut Soekarno, dakwah yang disampaikan KH Ahmad Dahlan membawa semangat regeneration (regenerasi) dan rejuvenation (peremajaan) pemahaman agama. Dakwah tersebut berupaya membebaskan umat dari praktik keagamaan yang dianggap jumud, beku, dan dipenuhi tahayul.
Rumah Cokroaminoto yang berada tidak jauh dari sebuah langgar atau mushala di kawasan Peneleh menjadi salah satu lokasi dakwah KH Ahmad Dahlan. Di tempat itulah beliau memperkenalkan Muhammadiyah sebagai gerakan keagamaan yang juga memiliki semangat kebangsaan.
Sementara itu, Muhammad Kholid AS menyampaikan pandangan berbeda. Menurutnya, kemungkinan KH Ahmad pertama kali ke Surabaya terjadi sekitar tahun 1911.
Ia merujuk pada kisah pertemuan KH Ahmad Dahlan dengan Syekh Ahmad Soorkati yang tercatat dalam buku Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942 karya Deliar Noer.
Dalam kisah tersebut, KH Ahmad Dahlan dan Ahmad Soorkati secara tidak sengaja bertemu di dalam gerbong kereta api di Jawa. Saat itu KH Ahmad Dahlan sedang membaca Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh. Soorkati yang terkesan melihat seorang pribumi membaca kitab tersebut kemudian mengajak berdiskusi.
Percakapan itu berlanjut hingga keduanya bersepakat menyebarluaskan pemikiran pembaruan Islam di lingkungan masing-masing, yakni komunitas Arab dan pribumi Indonesia. Kisah tersebut kemudian dikenal luas di kalangan tokoh Muhammadiyah dan Al-Irsyad.
“KH Ahmad Dahlan mulai berdakwah di Surabaya sekitar tahun 1911-an. Awalnya melalui jejaring Jam’iyatul Khair, yang kemudian memiliki kedekatan dengan kelompok Al-Irsyad,” terang Kholid.
Menurutnya, intensitas dakwah KH Ahmad Dahlan di Surabaya semakin meningkat setelah HOS Tjokroaminoto menjabat Ketua Central Sarekat Islam pada 1914. Hubungan itu diperkuat melalui berbagai musyawarah dan pertemuan yang dilakukan di Yogyakarta maupun Surabaya.
Kholid menambahkan, perjalanan KH Ahmad Dahlan ke Surabaya tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali. Sebagai seorang pedagang sekaligus ulama, beliau diperkirakan rutin berkunjung setiap tiga hingga enam bulan sekali.
“Setiap datang ke Surabaya, beliau biasanya menghabiskan waktu sekitar satu minggu untuk berdiskusi, bertabligh, dan membangun jaringan dakwah,” jelas Pemred pertama PWMU.CO tersebut.
Beberapa kawasan yang menjadi lokasi tabligh KH Ahmad Dahlan di Surabaya antara lain Bubutan, Peneleh, Kapasari, Ampel, dan Plampitan. Kampung-kampung tersebut menjadi titik penting penyebaran gagasan pembaruan Islam yang kemudian berkembang menjadi gerakan Muhammadiyah di Kota Surabaya.
Diskusi ini menjadi bagian dari upaya menelusuri kembali jejak sejarah KH Ahmad Dahlan di Surabaya sekaligus memperkuat pemahaman generasi muda terhadap akar perjuangan Muhammadiyah di Kota Pahlawan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments