Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Ketimpangan Pendidikan Kota dan Pesisir di Gresik

Iklan Landscape Smamda
Ketimpangan Pendidikan Kota dan Pesisir di Gresik
Oleh : Tivani Silfa Muharumawati Mahasiswa PGSD Universitas Muhammadiyah Gresik

Ketimpangan pendidikan masih menjadi persoalan penting di Indonesia, termasuk di Kabupaten Gresik. Jika wilayah pusat kota —seperti Kecamatan Gresik, Kebomas, dan Manyar— memiliki fasilitas pendidikan lebih maju, maka wilayah pesisir —seperti Panceng dan Ujungpangkah masih tertinggal dalam banyak aspek pendidikan.

Perbedaan ini tampak pada sarana sekolah, akses internet, dan kualitas tenaga pendidik. Kesempatan pembelajaran berbasis teknologi juga lebih banyak dinikmati sekolah perkotaan. UNESCO menegaskan pendidikan berkualitas harus diakses merata tanpa kesenjangan wilayah.

Namun, pemerataan pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya terwujud hingga saat ini. Ketimpangan ini terlihat pada tingkat lokal, nasional, hingga global secara konsisten.

Sekolah di kota Gresik memiliki laboratorium dan fasilitas digital yang lebih lengkap. Guru yang tersedia juga lebih banyak dibandingkan wilayah pesisir.

Sedangkan sekolah di Panceng dan Ujungpangkah masih kekurangan fasilitas dan tenaga pendidik. Akses teknologi serta internet menjadi hambatan utama dalam proses pembelajaran.

Pada tingkat nasional, ketimpangan juga terjadi antara Jawa dan wilayah timur Indonesia. Papua dan Nusa Tenggara masih menghadapi keterbatasan akses pendidikan berkualitas.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perbedaan akses pendidikan antara kota dan desa. Kondisi ekonomi dan infrastruktur menjadi faktor utama kesenjangan tersebut.

Di tingkat global, negara berkembang menghadapi masalah digital divide dalam pendidikan. Akses teknologi yang tidak merata memperlebar kesenjangan kualitas pembelajaran.

Faktor utama ketimpangan di Gresik adalah perbedaan infrastruktur dan ekonomi masyarakat. Wilayah kota lebih dekat dengan pusat pemerintahan dan kawasan industri.

Wilayah pesisir memiliki keterbatasan transportasi, internet, dan sumber belajar. Kondisi tersebut memengaruhi kualitas proses pembelajaran di sekolah setempat.

Ki Hajar Dewantara menegaskan pendidikan harus adil bagi seluruh anak bangsa. Setiap anak harus memperoleh kesempatan belajar tanpa membedakan latar belakang sosial.

Namun, kondisi ekonomi keluarga nelayan sering menghambat pendidikan anak di pesisir. Dukungan belajar di rumah masih rendah karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Distribusi guru yang tidak merata juga memperparah ketimpangan pendidikan. Beberapa sekolah masih kekurangan guru pada mata pelajaran tertentu.

SMPM 5 Pucang SBY

Pemerintah telah menjalankan Program Indonesia Pintar dan BOS pendidikan. Program ini membantu siswa dari keluarga kurang mampu secara finansial.

Digitalisasi sekolah juga mulai diterapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Namun, implementasi masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Sekolah kota lebih cepat menikmati fasilitas teknologi dibandingkan sekolah pesisir. Hal ini menunjukkan masih adanya kesenjangan dalam pembangunan pendidikan.

Mulyasa menegaskan kebijakan pendidikan harus diikuti pemerataan sarana dan guru. Tanpa pemerataan, tujuan pendidikan nasional sulit tercapai secara adil.

Kelemahan utama saat ini adalah distribusi infrastruktur pendidikan yang belum merata. Wilayah pesisir masih membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah daerah.

Solusi yang dapat diterapkan adalah pemerataan fasilitas sekolah di seluruh wilayah. Pemerintah perlu memperkuat distribusi guru ke daerah terpencil dan pesisir.

Akses internet juga harus diperluas hingga wilayah Panceng dan Ujungpangkah. Kerja sama pemerintah, sekolah, dan masyarakat sangat diperlukan untuk hal ini.

Nilai Pancasila seperti gotong royong dapat menjadi dasar solusi pendidikan. Keadilan sosial harus diwujudkan dalam pemerataan layanan pendidikan.

Sekolah kota dan pesisir dapat bekerja sama dalam program pembelajaran bersama. Guru dapat berbagi media belajar dan pelatihan secara berkelanjutan.

Pembelajaran P5 dapat mengangkat isu sosial dan lingkungan sekitar siswa. Siswa diajak memahami pentingnya kepedulian terhadap ketimpangan pendidikan.

Dengan demikian, siswa tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga sosial. Mereka tumbuh menjadi generasi peduli dan berkarakter kuat di masa depan.***

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 19/06/2026 17:00
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu