Persoalan ego kader hingga pentingnya membangun kemandirian organisasi menjadi sorotan Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Lamongan, Husnul Abid Saputra, S.Pd., dalam sambutannya pada agenda Rapat Pimpinan Cabang (Rapimcab) I Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah (PCPM) Laren.
Kegiatan tersebut digelar pada Sabtu (2/5/2026) di Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar, bertepatan dengan momentum Hari Pendidikan Nasional dan Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah.
Dalam sambutannya, Husnul menegaskan bahwa persoalan ego kerap menjadi hambatan dalam menjaga soliditas dan keberlanjutan gerakan organisasi.
“Sering kali yang menghambat gerakan bukan kurangnya program, tetapi ego kita sendiri. Ini yang harus kita kelola bersama,” ujarnya.
Menurutnya, kader hebat bukanlah mereka yang sekadar vokal dalam menyampaikan pendapat, melainkan kader yang mampu mengendalikan ego dan tetap bijak dalam menyikapi perbedaan.
Ia menilai, perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal wajar, bahkan diperlukan sebagai mekanisme kontrol agar organisasi tetap berjalan sehat.
“Kalau tidak ada yang mengingatkan, organisasi bisa berjalan tanpa arah. Perbedaan itu biasa, selama tujuannya tetap sama untuk kemajuan organisasi,” katanya.
Meski demikian, ia menilai kaderisasi yang kuat tetap menjadi fondasi utama organisasi. Husnul bahkan menyebut PCPM Laren sebagai contoh nyata proses kaderisasi yang mampu melahirkan kader yang tumbuh dan mengakar, termasuk dirinya yang berasal dari cabang tersebut.
“PCPM Laren ini adalah contoh kader yang tumbuh dan mengakar. Saya sendiri bagian dari proses itu,” imbuhnya.
Menurutnya, kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari banyaknya kegiatan, tetapi juga dari sejauh mana kader mampu bertahan, berkembang, dan memberikan kontribusi nyata di berbagai level kepemimpinan.
Ia juga menegaskan bahwa tema Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah, “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya”, harus dimaknai sebagai penguatan fondasi kaderisasi, bukan sekadar perluasan jaringan secara kuantitatif.
Selain penguatan kaderisasi, Husnul mendorong setiap cabang mulai memikirkan pembangunan kemandirian ekonomi melalui pengembangan amal usaha.
Menurutnya, organisasi yang kuat harus ditopang kemampuan membangun sumber daya secara mandiri agar program-program yang dijalankan dapat berkelanjutan.
Ia mencontohkan, cabang dapat memulai dari usaha sederhana seperti pengadaan seragam organisasi, merchandise, hingga unit usaha lain yang realistis dijalankan sesuai potensi masing-masing.
“Tidak harus langsung besar. Yang penting dimulai dan dikelola bersama sebagai ikhtiar membangun kemandirian organisasi,” tegasnya.
Dalam forum tersebut, Husnul juga meminta Rapimcab dijadikan ruang evaluasi terhadap program-program yang telah berjalan selama setengah periode kepengurusan.
Menurutnya, program yang berhasil perlu dilanjutkan dan diperkuat, sementara yang belum optimal harus menjadi bahan evaluasi bersama untuk diperbaiki pada periode berikutnya.
Ia turut mengingatkan kader agar tidak menjadikan kesibukan pribadi sebagai alasan untuk mengurangi keterlibatan dalam organisasi.
“Semua orang punya kesibukan. Yang membedakan adalah bagaimana kita menempatkan organisasi sebagai prioritas,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong kader Pemuda Muhammadiyah untuk terus memperkuat komitmen, menjaga militansi, serta mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi.
Di akhir sambutannya, Husnul berharap Rapimcab I PCPM Laren dapat menjadi momentum strategis untuk memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus meningkatkan kualitas kaderisasi dan kemandirian gerakan ke depan.
“Semoga forum ini melahirkan keputusan terbaik untuk memperkuat Pemuda Muhammadiyah, khususnya di Lamongan,” pungkasnya. (*)




0 Tanggapan
Empty Comments