Kesenjangan antara teori dan realitas menjadi perhatian penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam memahami dinamika politik yang semakin kompleks.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa setiap peristiwa memiliki kebenaran intrinsik. Namun, kebenaran tersebut tidak selalu dapat dijelaskan secara utuh oleh teori yang ada.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar Ridho Al-Hamdi yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
“Setiap peristiwa atau masalah memiliki kebenarannya sendiri. Namun, ilmu pengetahuan sering kali belum mampu memahami, bahkan gagal menjelaskan realitas tersebut secara konstruktif sebagaimana adanya, karena adanya jarak antara teori dan realitas. Semakin kita mendalami realitas, semakin dekat pula kita pada kebenaran,” ujarnya.
Haedar menjelaskan bahwa dalam kajian ilmu politik terdapat berbagai pendekatan, seperti sistem politik, budaya politik, dan perilaku politik. Namun, tanpa pendekatan integratif, pemahaman terhadap fenomena politik akan tetap bersifat parsial.
Menurutnya, pendekatan mendalam seperti deep description menjadi kunci untuk memahami realitas secara utuh dan kontekstual.
“Jika tidak berjalan secara integratif, kita akan tetap parsial dalam melihat fenomena politik. Dalam sistem terdapat aktor, struktur, nilai, dan budaya yang saling berkaitan,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa semakin kompleks realitas yang dihadapi, maka pendekatan yang digunakan juga harus semakin mendalam.
Dalam paparannya, Haedar juga menyoroti perbedaan pendekatan ilmu politik di Barat. Pendekatan di Amerika Serikat cenderung pragmatis dan kuat secara metodologis, sementara Eropa lebih menekankan aspek filsafat dan epistemologi.
Namun demikian, ia mengingatkan agar akademisi tidak serta-merta mengadopsi teori dari luar tanpa mempertimbangkan konteks lokal.
“Kita tidak bisa serta-merta mengambil teori dari Amerika atau Eropa untuk diterapkan begitu saja. Kita harus memahami realitas kita sendiri. Jika tidak, kita hanya akan terjebak dalam ‘menara gading’,” tegasnya.
Haedar juga menyoroti kecenderungan global yang semakin pragmatis, di mana keputusan sering diambil hanya berdasarkan kepentingan praktis tanpa arah nilai dan visi jangka panjang.
“Banyak pihak hanya berpikir secara praktis dan pragmatis. Padahal, kehidupan berbangsa dan bernegara memerlukan arah, peta jalan, dan nilai yang jelas,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa tanpa fondasi nilai yang kuat, sulit membangun pemahaman bersama, bahkan konflik dapat menjadi pilihan.
Pernyataan Ketua Umum Muhammadiyah ini menjadi pengingat penting bagi akademisi dan praktisi politik untuk tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga memahami realitas secara mendalam dan kontekstual.
Pendekatan integratif serta kesadaran terhadap nilai menjadi kunci dalam membangun ilmu pengetahuan yang relevan dan berkontribusi bagi kehidupan berbangsa.





0 Tanggapan
Empty Comments