Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan mutu akademik. Salah satunya melalui benchmarking ke Direktorat Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Ahad (2/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Pascasarjana UMS tersebut bukan sekadar kunjungan kelembagaan. Umsura ingin mempelajari secara langsung berbagai praktik baik yang telah diterapkan UMS, terutama dalam pengelolaan mahasiswa, pengembangan kapasitas dosen, budaya riset, publikasi ilmiah, hingga sistem penjaminan mutu.
Rombongan Umsura dipimpin Direktur Sekolah Pascasarjana Dr. M. Ridwan, M.Pd. Mereka diterima Wakil Direktur Direktorat Pascasarjana UMS Prof. Ir. Marwan Effendi, MT, Ph.D.
Marwan menyambut positif agenda tersebut. Menurutnya, benchmarking antarpascasarjana di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) merupakan ruang strategis untuk saling belajar sekaligus memperkuat kolaborasi.
“Kolaborasi antarpascasarjana menjadi modal penting untuk meningkatkan mutu tata kelola, kualitas lulusan, serta daya saing institusi. Melalui forum seperti ini, kita dapat saling belajar dan mengembangkan inovasi akademik secara bersama,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
M. Ridwan mengatakan, UMS dipilih sebagai salah satu rujukan karena dinilai memiliki pengalaman dalam mengembangkan sistem pengelolaan pendidikan pascasarjana secara komprehensif.
Karena itu, benchmarking tersebut diarahkan untuk menggali praktik-praktik yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan karakteristik Pascasarjana Umsura.
“Kami ingin mengadopsi berbagai praktik baik yang telah diterapkan UMS, mulai dari pengelolaan mahasiswa, pengembangan dosen, budaya riset, publikasi ilmiah hingga sistem penjaminan mutu. Harapannya, hasil benchmarking ini dapat mempercepat peningkatan kualitas layanan akademik di Pascasarjana UMSurabaya,” jelas Ridwan.
Diskusi kemudian berkembang pada sejumlah isu strategis. Salah satunya peluang pengembangan program bersama pada bidang keilmuan yang memiliki irisan, seperti Fakultas Hukum (FH), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), serta Program Magister Hukum Ekonomi Syariah (HES).
Pertukaran pengalaman juga menyentuh persoalan yang kerap menjadi tantangan pendidikan pascasarjana, yakni menjaga keberlanjutan studi mahasiswa hingga lulus tepat waktu.
UMS memaparkan strategi menjaga jumlah lulusan tetap stabil melalui pemetaan kemampuan mahasiswa sejak awal studi. Strategi tersebut diperkuat dengan penerapan Early Warning System yang dikelola Lembaga Penjaminan Mutu (LPM).
Sistem ini memungkinkan institusi mendeteksi lebih dini mahasiswa yang berpotensi menghadapi kendala akademik. Dengan demikian, pendampingan dapat dilakukan sebelum persoalan berkembang menjadi hambatan yang lebih serius terhadap penyelesaian studi.
Dosen, Riset, dan Publikasi Jadi Perhatian
Penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam benchmarking. Kedua pihak membahas pengelolaan jabatan fungsional dosen, penghitungan rasio dosen, hingga optimalisasi dosen lintas homebase dengan tetap mengacu pada regulasi yang berlaku.
Tak kalah penting, UMS berbagi pengalaman dalam membangun budaya akademik yang produktif. Dukungan kepada dosen tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban administratif, tetapi diarahkan untuk menghasilkan karya akademik yang berdampak.
Beberapa bentuk dukungan tersebut antara lain bantuan penyusunan buku ajar, publikasi ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, hingga Program Insentif Dosen (PID) sebesar Rp 2,5 juta per dosen.
Pembinaan mahasiswa juga mendapat perhatian. Mahasiswa berprestasi didorong terlibat dalam penelitian dosen sekaligus dibimbing untuk menghasilkan artikel ilmiah yang memenuhi standar publikasi.
Pola tersebut diperkuat melalui kolaborasi riset antara dosen sebidang, dunia industri, dan pemerintah. Harapannya, ekosistem riset tidak hanya meningkatkan produktivitas akademik, tetapi juga memperbesar peluang lahirnya publikasi bereputasi.
Bagi Pascasarjana Umsura, berbagai praktik yang dipelajari dari UMS menjadi bekal penting untuk memperkuat tata kelola kelembagaan.
Karena itu, agenda benchmarking juga ditutup dengan pembahasan kebutuhan dokumen pendukung untuk penilaian akreditasi. Persiapan tersebut menjadi bagian dari strategi Pascasarjana Umsura untuk memastikan peningkatan mutu berjalan secara terukur dan berkelanjutan.
Ridwan menegaskan, hasil benchmarking tidak berhenti sebagai pengetahuan baru. Berbagai praktik baik yang relevan akan dipetakan dan diimplementasikan sesuai kebutuhan Pascasarjana Umsura.
“Dengan cara itu, benchmarking menjadi bagian dari proses transformasi kelembagaan: dari sekadar membandingkan sistem, menjadi upaya nyata untuk memperbaiki tata kelola, memperkuat budaya akademik, meningkatkan produktivitas dosen dan mahasiswa, serta menyiapkan Pascasarjana Umsura menuju akreditasi unggul,” tutupnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments