Tanaman mendong yang dahulu menjadi bagian penting dari denyut ekonomi Desa Blayu, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, kini kembali mendapat sentuhan inovasi. Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengembangkan mendong menjadi beragam eco living product yang menyasar pasar kekinian sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
Inisiatif tersebut dikemas dalam program “Craft-hub” melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Program pengabdian yang berlangsung Juli hingga September ini diselenggarakan dan didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
Bagi mahasiswa UMM, program ini bukan sekadar mengolah bahan alam menjadi kerajinan. Lebih jauh, Craft-hub dirancang untuk menghidupkan kembali identitas Desa Blayu sebagai sentra mendong, sekaligus mendorong masyarakat naik kelas melalui inovasi produk, penguatan kewirausahaan, dan pemasaran berbasis digital.
Desa Blayu memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kawasan penghasil mendong. Tanaman tersebut pernah menjadi tumpuan ekonomi banyak keluarga. Namun, seiring perubahan zaman, geliat usaha mendong perlahan meredup.
Adryan Rizky, mahasiswa Agribisnis UMM yang terlibat dalam program tersebut, mengatakan kondisi itu dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya minimnya diversifikasi produk, menurunnya permintaan pasar, hingga berkurangnya minat masyarakat untuk mempertahankan budidaya mendong.
Situasi tersebut mendorong mahasiswa UMM untuk mencari jalan keluar yang tidak berhenti pada persoalan produksi.
“Kami mengangkat tema desa wirausaha karena sesuai dengan kondisi yang kami temukan di Desa Blayu. Program ini kami rancang untuk mengembangkan produk mendong, memperluas pemasaran, sekaligus mengembalikan kejayaan mendong sebagai komoditas unggulan desa,” ujarnya, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata bagaimana menghasilkan produk dari mendong. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membuat komoditas tersebut kembali relevan dengan kebutuhan konsumen masa kini.
Karena itu, mendong tidak lagi dipandang sebatas bahan baku kerajinan tradisional. Melalui inovasi mahasiswa UMM, mendong dikembangkan menjadi produk yang memiliki fungsi, nilai estetika, sekaligus membawa pesan tentang keberlanjutan lingkungan.
Dengan dukungan pendanaan dan arahan Belmawa Kemendiktisaintek, tim mahasiswa UMM memberikan pendampingan kepada masyarakat dalam berbagai aspek pengembangan usaha.
Materi yang diberikan tidak hanya berkaitan dengan teknik produksi. Masyarakat juga dibekali pengetahuan mengenai manajemen usaha, perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), branding, hingga strategi digital marketing.
Pendekatan tersebut penting agar produk mendong tidak berhenti sebagai kerajinan rumahan. Produk harus memiliki perhitungan bisnis yang jelas, identitas merek yang kuat, serta mampu menjangkau konsumen lebih luas melalui kanal digital.
Hasilnya, mendong mulai diolah menjadi berbagai produk fungsional dan bernilai estetika. Mulai dari tas, sandal hotel, dekorasi rumah, hingga aksesori berbahan alami.
Produk-produk tersebut diarahkan mengikuti perkembangan tren sustainable living, yakni gaya hidup yang menempatkan aspek keberlanjutan dan kepedulian lingkungan sebagai bagian dari pilihan konsumsi.
Dengan pendekatan tersebut, mendong memiliki peluang untuk memasuki segmen pasar yang lebih luas. Bukan hanya karena bentuk produknya, tetapi juga karena bahan alami dan cerita lokal yang melekat di dalamnya.
Menjaga Identitas Desa, Membaca Perubahan Pasar
Dosen Pembimbing Lapangan PPK Ormawa Himagri UMM, Festy Putri Ramadhani, S.P., M.P., menilai pengembangan mendong harus dilakukan dengan tetap mempertahankan identitas lokal Desa Blayu.
Menurutnya, inovasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Justru, kearifan lokal dapat menjadi kekuatan ketika dipadukan dengan kemampuan membaca perubahan kebutuhan pasar.
“Saat ini masyarakat tidak hanya mencari kerajinan, tetapi juga produk yang memiliki nilai keberlanjutan, ramah lingkungan, dan memiliki cerita di balik proses pembuatannya. Karena itu, kami mengembangkan mendong menjadi eco living product agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi sekaligus mengangkat kembali identitas Desa Blayu,” tegasnya.
Pandangan tersebut menjadi pijakan dalam pelaksanaan Craft-hub. Produk lokal tidak cukup hanya dibuat dengan baik. Produk juga harus mampu bercerita, memiliki identitas, dan menemukan konsumen melalui strategi pemasaran yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Di sinilah ekonomi digital menjadi bagian penting dari program tersebut. Penguatan kapasitas masyarakat diarahkan agar produk mendong dapat dipasarkan secara lebih luas dan tidak hanya bergantung pada pasar konvensional.
Program Craft-hub juga tidak berhenti pada pelatihan. Tim mahasiswa UMM membentuk kelompok wirausaha baru yang akan mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan, mulai dari proses produksi hingga pemasaran.
Pola pendampingan ini diharapkan membuat masyarakat memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha secara mandiri setelah program berakhir.
Bagi mahasiswa, pengalaman tersebut juga menjadi ruang pembelajaran di luar kampus. Mereka berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat, memetakan potensi desa, merancang solusi, sekaligus menguji pengetahuan akademik dalam situasi nyata.
Sinergi antara Kemendiktisaintek, UMM, pemerintah desa, mahasiswa, dan masyarakat menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Lebih dari sekadar menghidupkan kembali kerajinan mendong, program ini menunjukkan bahwa pemberdayaan desa dapat dimulai dari potensi yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat.
Mendong yang sempat kehilangan pamor kini dicoba dihadirkan kembali dalam wajah baru: lebih inovatif, bernilai ekonomi, ramah lingkungan, dan terhubung dengan pasar digital.
Jika pendampingan berjalan konsisten, Craft-hub bukan hanya berpotensi mengembalikan Blayu sebagai desa penghasil kerajinan mendong. Program ini juga dapat menjadi titik awal lahirnya ekosistem wirausaha lokal yang mampu tumbuh dari kekuatan desa sendiri.
Pada saat yang sama, mahasiswa UMM mendapatkan pelajaran penting bahwa pengabdian bukan sekadar datang dan memberi pelatihan. Pengabdian adalah proses menemani masyarakat menemukan kembali potensi yang mereka miliki, mengolahnya menjadi kekuatan ekonomi, lalu membawanya menatap masa depan.
Dengan cara itu, mendong tidak sekadar menjadi cerita masa lalu Desa Blayu. Ia berpeluang menjadi komoditas lokal yang kembali hidup di tengah ekonomi digital dan tren kehidupan berkelanjutan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments