Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lima Kyai yang Menjadi Jiwa dan Tenaga Kuat Muhammadiyah Setelah Wafatnya KH Ahmad Dahlan

Iklan Landscape Smamda
Lima Kyai yang Menjadi Jiwa dan Tenaga Kuat Muhammadiyah Setelah Wafatnya KH Ahmad Dahlan
KH Ahmad Dahlan bersurban duduk di tengah berfoto bersama Anggota Pengurus Besar Muhammadiyah tahun 1918 (Foto: repro/PWMU.CO)

Wafatnya KH Ahmad Dahlan pada Februari 1923 menjadi salah satu ujian besar dalam sejarah awal Muhammadiyah. Organisasi yang baru berusia sekitar satu dekade itu harus kehilangan pendiri sekaligus tokoh sentralnya. Tercatat ada lima kyai yang menjadi jiwa dan tenaga kuat dalam mengembangkan Muhammadiyah setelah Kyai Dahlan wafat.

Dalam catatan Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), menjelang ajal menjemput, KH Ahmad Dahlan memanggil orang yang sangat dipercaya sekaligus iparnya, KH Ibrahim. Sebelumnya KH Ibrahim belum banyak mencurahkan perhatian kepada Muhammadiyah sebagai organisasi. Tapi KH Ahmad Dahlan menilai dialah sosok yang tepat untuk melanjutkan estafet kepemimpinan.

“Diatas tikar kematian, didekat adjalnja sampai, dipanggilnja sahabatnja, iparnja dan orang jang sangat dipertjajainja, tetapi selama ini masih belum menumpahkan perhatiannja kepada Muhammadiyah. Orang itu ialah K. H. Ibrahim,” tulis Hamka dalam “Encyclopaedi Islam Indonesia: Orang-orang Besar Islam: K.H.A. Dahlan (1952)

Di atas pembaringan terakhirnya, Kyai Dahlan berwasiat agar KH Ibrahim bersedia memimpin Muhammadiyah. Sebagai ketua yang menggantikan dirinya. Setelah menyampaikan amanat itu, di hadapan murid-murid dan keluarganya, sang pendiri Muhammadiyah mengembuskan napas terakhir pada tanggal 23 Februari 1923.

Amanah tersebut bukanlah beban yang ringan. Hamka menggambarkan betapa bingungnya KH Ibrahim menerima tanggung jawab itu. Ia bukan tokoh yang terbiasa memimpin organisasi modern atau aktif dalam berbagai perkumpulan.

Bahkan, Hamka menulis bahwa seorang kiai yang belum terbiasa berorganisasi tiba-tiba harus “memegang martil”, sebuah kiasan untuk memimpin organisasi besar yang sedang berkembang.

“Bukan mainlah bingungnja K. H. Ibrahim menerima wasiat jang berat itu. Seorang Kijahi jang belum biasa berperkumpulan, disuruh memegang martil…” tulis Hamka.

Namun, menurut Hamka, KH Ibrahim memiliki modal yang jauh lebih penting daripada sekadar pengalaman organisasi. Ia memiliki keikhlasan dan kejujuran yang luar biasa. Dua sifat itulah yang kemudian menjadi kekuatan utama dalam memimpin Muhammadiyah pada masa-masa yang penuh tantangan.

“Tetapi, beliau ada mempunjai suatu sendjata, jaitu ichlas dan djudjur. Maka dengan keichlasan dan kedjudjuran itulah ia memegang Muhammadjijah, mendjadi lambang ikatan persatuan dari pada murid-murid Kijahi H. A. Dahlan jang tinggal, untuk melandjutkan pimpinan Muhammadjijah..”

Dengan keikhlasan dan kejujurannya, KH Ibrahim berhasil menjadi lambang persatuan di antara para murid KH Ahmad Dahlan yang masih hidup. Ia mampu menjaga agar semangat pembaruan yang telah dirintis pendiri Muhammadiyah tidak terpecah oleh perbedaan pandangan ataupun kepentingan pribadi.

Di bawah kepemimpinannya, Muhammadiyah tetap berpegang pada cita-cita yang telah dirumuskan sejak awal, yaitu memajukan serta menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam, sekaligus memajukan kehidupan umat Islam secara menyeluruh.

SMPM 5 Pucang SBY

Meski demikian, Hamka menegaskan bahwa keberhasilan Muhammadiyah melewati masa transisi itu bukan semata-mata hasil kerja KH Ibrahim seorang diri. Di berbagai daerah, muncul tokoh-tokoh yang menjadi penyangga utama organisasi. Mereka menjadi “jiwa dan tenaga kuat Muhammadiyah” setelah wafatnya KH Ahmad Dahlan.

“Diantara pemimpin jang mendjadi djiwa dan tenaga kuat Muhammadijah sepeninggal beliau ialah H. Fachruddin di Jogjakarta, K.H.M. Mansur di Surabaja, K.H. Muchtar Buchari di Solo dan K.H. Abdul Muthi di Madiun,” terang Buya Hamka.

Tokoh pertama yang disebut Hamka adalah Haji Fachruddin di Yogyakarta. Sebagai salah seorang murid dekat Ahmad Dahlan, Haji Fachruddin dikenal memiliki dedikasi tinggi terhadap gerakan Muhammadiyah. Kehadirannya di kota kelahiran Muhammadiyah menjadi faktor penting dalam menjaga kesinambungan organisasi di pusat gerakan.

Tokoh kedua adalah KH Mas Mansur di Surabaya. Namanya kelak dikenal sebagai salah satu Ketua (Umum) PP Muhammadiyah dan tokoh nasional. Pada 1923-an, Hamka mencatat perannya sebagai salah satu tenaga utama Muhammadiyah setelah wafatnya Ahmad Dahlan.

Tokoh ketiga ialah KH Muchtar Buchari di Solo. Hamka memasukkan nama Muchtar Buchari sebagai salah satu figur yang menjadi kekuatan penting Muhammadiyah pada masa awal. Solo ketika itu merupakan salah satu pusat perkembangan gerakan Islam di Jawa. Sehingga keberadaan tokoh Muhammadiyah yang kuat di kota tersebut memiliki arti strategis bagi penyebaran organisasi.

Sementara itu, tokoh keempat yang disebut Hamka adalah KH Abdul Muthi di Madiun. Kehadirannya memperlihatkan bahwa kekuatan Muhammadiyah telah menjangkau kawasan-kawasan lain di Jawa Timur. Bersama para tokoh daerah lainnya, Abdul Muthi menjadi bagian dari fondasi yang memperkokoh organisasi pada masa-masa awal setelah kehilangan pendirinya.

Penyebaran tokoh-tokoh di Yogyakarta, Surabaya, Solo, dan Madiun itu menunjukkan Muhammadiyah telah memiliki kaderisasi yang cukup matang. Meski KH Ahmad Dahlan wafat, organisasi tidak kehilangan arah. Sebab, telah memiliki jaringan pemimpin yang memahami visi perjuangan.

Sejarah kemudian mencatat gemilang kepemimpinan KH Ibrahim yang penuh keikhlasan. Ditambah dukungan empat tokoh yang disebut Hamka sebagai “jiwa dan tenaga kuat Muhammadiyah”, cita-cita KH Ahmad Dahlan untuk memajukan pendidikan, dakwah, dan kehidupan umat Islam tetap berlanjut. Bahkan terus berkembang hingga menjadi gerakan Islam terbesar di Indonesia dan dunia.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 30/06/2026 19:18
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu