Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″, Bab IV berjudul “Muhammadiyah Masa Pergolakan (1942-1956)”, sebagian halaman 119, 120, 121, dan 122.
Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 48
***
Halaman 119
- Keterlibatan Muhammadiyah
Pada 21 Agustus 1945, di Surabaya terjadi dua peristiwa penting, yaitu aksi pengibaran bendera Merah Putih dan pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah. Gerakan pengibaran bendera Merah Putih dipelopori oleh S. Harjadinata, Dul Arnowo dan A. Wahab.
Mereka, dengan kendaraan jeep, berkeliling kota Surabaya sambil terus mengibarkan bendera Merah Putih sepanjang jalan. Mereka terus berjalan ke Mojoagung dan Jombang. Sejak hari itu bendera mulai berkibar di kota-kota dan desa-desa di Jawa Timur.{69}
Pada 22 Agustus 1945, Pemerintah Republik Indonesia Pusat menetapkan agar daerah-daerah seluruh Indonesia membentuk KNI
Halaman 120
Daerah. Pada 28 Agustus 1945, KNI Daerah Surabaya terbentuk dengan Dul Arnowo sebagai Ketua, Bambang Suprapto dan Dwijosewoyo, SH. (Wakil Ketua I dan II), Roeslan Abdulgani (Sekretaris). Anggota-anggota: Dr. Siwabesy, Ir. Darmawan Mangunkusumo, Notohamiprojo, Dr. Moh. Suwandhi, Kastur, R.M. Tohir, Bakri, dan H. Abdulkarim.{70} Dr. Moh. Suwandhi, waktu itu, adalah Pengurus Muhammadiyah Cabang Surabaya.
Peristiwa pertempuran 10 Nopember 1945 dipicu oleh tertembaknya Brigjen Mallaby dalam sebuah pertempuran dua hari yang terjadi di dekat Gedung Internatio di daerah Jembatan Merah, 30 Oktober 1945.{71}
Peristiwa itu menyebabkan pertempuran ‘hidup atau mati’, dimulai sejak 10 November 1945, dan berlangsung selama kurang lebih 21 hari, serta melibatkan puluhan ribu pemuda dan rakyat Surabaya dan sekitarnya. Sedangkan pihak Sekutu mengerahkan seluruh kekuatan darat, laut, dan udara.{72}
Semangat rakyat dalam pertempuran tersebut digelorakan oleh Siaran Radio Perjuangan milik Pemerintah Kota Surabaya. Tokoh yang sangat berperan memompa semangat rakyat Surabaya melalui pidato radio adalah Sutomo, yang dikenal dengan nama Bung Tomo. Dalam pidato perjuangannya, Bung Tomo selalu mengumandangkan takbir Allahu Akbar, dan menutupnya dengan Merdeka. Peristiwa heroik 10 Nopember 1945 kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan.
Pertempuran Surabaya memakan banyak korban di pihak rakyat Surabaya. Sebagian korban adalah aktivis Muhammadiyah, seperti Said Umar, tokoh HW Surabaya yang ditangkap dan disiksa, sampai akhirnya tidak diketahui nasibnya. Aktivis Muhammadiyah lain yang menjadi korban adalah Marsidi, Muhammad Sabjan, Malikin, Ibrahim Rahman, Ihsan Ishaq, Utsman Rais, Manan Gani, dan lain-lain.{73}
Di daerah-daerah lain Jawa Timur, suasana revolusi sangat terasa. Kedatangan Belanda yang membonceng tentara Sekutu dan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) mendapat perlawanan rakyat Jawa Timur. Selama Aksi Militer I dan II, pasukan Belanda menguasai kembali Jawa Timur, dan menduduki kota Malang, Besuki, wilayah Madura, dan kota-kota lainnya.{74}
Halaman 121
Strategi Belanda tetap seperti sebelumnya, yaitu divide et impera (pecah dan kuasai). Belanda membentuk Negara Madura dan Negara Jawa Timur yang terpisah dari Negara Republik Indonesia. Ini merupakan politik atau taktik Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook.
Pembentukan Negara Madura dan Negara Jawa Timur dimaksudkan untuk memperkuat kembali posisi Belanda dalam Republik Indonesia Serikat (RIS). Melalui propaganda pemerintah Recomba (Regeringscomissie asissen voor Bestuursangelegheid) Belanda, berdirilah Pemerintahan Recomba Daerah Madura pada 21 Nopember 1947 di bawah RAA. Cakraningrat sebagai Residen (Wali Negara) yang bertanggung jawab kepada Charles van der Plas sebagai Recomba Jawa Timur.{75}
Semua Cabang Partai Masyumi di Madura yang di dalamnya bergabung organisasi-organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah, menyuarakan resolusi pembubaran Negara Madura buatan Recomba Belanda. Gerakan protes terhadap Negara Madura itu diikuti oleh berbagai organisasi dan gerakan rakyat Madura lainnya.{76}
Sementara itu, pembentukan Negara Jawa Timur telah diupayakan pada 24 Januari 1948 di Surabaya, melalui Konperensi Jawa Timur di Gedung Nasional Indonesia Surabaya. Namun, tokoh-tokoh Republik menolak rencana tersebut, dan akhirnya Belanda memindahkan usahanya ke Malang dengan mendekati kalangan
Halaman 122
ulama. Belanda berhasil membujuk dan mengangkat KH. Nur Yasin (tokoh Muhammadiyah) sebagai pimpinan Dewan Islam Jawa Timur. Namun, usaha ini mengalami kegagalan karena Dewan tidak berjalan dan tidak mendapat dukungan dari kalangan ulama dan rakyat.{77}
Pada 7-8 Nopember 1945, Masyumi yang berdiri pada masa pendudukan Jepang mengadakan kongres di Gedung Muallimin Muhammadiyah Jogjakarta. Para pemimpin Muhammadiyah, NU, dan seluruh organisasi Islam kecuali Perti, sepakat bahwa Masyumi menjadi satu-satunya partai politik umat Islam di Indonesia.{78}
Peran Muhammadiyah dalam revolusi kemerdekaan tidak bisa dikesampingkan. Banyak aktivis Muhammadiyah di daerah-daerah terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, yaitu melalui kelaskaran Hizbullah dan badan perjuangan Sabilillah. Kedua badan perjuangan itu pada awal kemerdekaan diorganisasikan oleh Masyumi. Laskar Hizbullah bertugas sebagai salah satu barisan pertahanan dan keamanan menghadapi musuh. Sedangkan Sabilillah bertugas mencari dana dan logistik untuk pasukan Hizbullah.
***
Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.





0 Tanggapan
Empty Comments