Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Membedah Krisis Ekonomi Perspektif Islam Modern

Iklan Landscape Smamda
Membedah Krisis Ekonomi Perspektif Islam Modern
Oleh : Ali Muchsin Wakil ketua Badan Koordinasi Masjid Muhammadiyah Sidoarjo (BKMM), Sekretaris Dikdasmen & PNF Candi Sidoarjo

Masyarakat sering meneriakkan ungkapan “In this Economy…” ketika mereka menghadapi tekanan ekonomi, naiknya harga kebutuhan pokok, dan berkurangnya daya beli. Namun, khazanah pemikiran Islam tidak menganggap persoalan ekonomi ini sebagai hal yang baru.

Para ulama telah lama mengkaji penyebab dan solusi berbagai masalah ekonomi yang melanda kehidupan masyarakat.

Salah satu tokoh yang memberikan perhatian besar terhadap masalah inflasi adalah Imam Taqiyuddin Ahmad bin Ali Al-Maqrizi (766–845 H).

Al-Maqrizi menjelaskan bahwa buruknya tata kelola pemerintahan menjadi salah satu penyebab utama inflasi melalui karya monumentalnya, Ighatsatul Ummah bi Kasyfil Ghummah.

Pandangan tersebut bukan sekadar teori belaka, melainkan lahir dari pengalaman langsungnya saat bertugas sebagai pengawas pasar pada masa Dinasti Mamluk Burji di Mesir.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana praktik korupsi, lemahnya administrasi negara, serta kebijakan yang tidak tepat memperburuk kondisi ekonomi.

Akibatnya, rantai distribusi kebutuhan pokok terganggu, barang-barang menjadi langka, dan harga-harga melambung tinggi.

Menurut Al-Maqrizi, faktor alami sebagai bagian dari hukum ekonomi memang dapat memicu kenaikan harga.

Ketika suatu barang menjadi langka sementara permintaan meningkat, pasar akan merespons dengan menaikkan harga.

Demikian pula ketika pasokan berkurang akibat faktor alam, cuaca buruk, atau gangguan pada proses produksi.

Kita dapat mengategorikan kenaikan harga semacam ini sebagai fenomena ekonomi yang wajar.

Namun, ulah manusia justru memicu persoalan yang jauh lebih besar, khususnya melalui praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan buruknya pengelolaan pemerintahan.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat luas harus menanggung akibat dari kesalahan para pemimpin dan pejabat yang mengkhianati amanah.

Masyarakat pada masa Rasulullah Saw juga pernah mengalami fenomena kenaikan harga yang serupa. Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu yang mengisahkan peristiwa tersebut:

SMPM 5 Pucang SBY

“Pernah naik harga (barang-barang) di zaman Rasulullah Saw. Orang-orang berkata, ‘Wahai Rasulullah, harga-harga telah naik, maka tetapkanlah harga untuk kami.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Allah-lah yang menetapkan harga, yang menyempitkan rezeki, yang melapangkan rezeki, dan yang memberi rezeki. Aku berharap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kalian menuntutku karena kezaliman dalam darah maupun harta.”

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah Saw tidak serta-merta mengintervensi harga ketika kenaikan tersebut terjadi secara alami.

Beliau memberikan pelajaran berharga bahwa faktor-faktor di luar kendali manusia berada sepenuhnya dalam ketentuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Islam mengajarkan prinsip keseimbangan yang kokoh antara ikhtiar dan tawakal.

Pemerintah memikul kewajiban untuk menjalankan amanah dengan baik, menjaga keadilan, memberantas korupsi, serta memastikan kelancaran distribusi kebutuhan masyarakat.

Penerapan tata kelola yang baik merupakan bagian dari ikhtiar manusia untuk menciptakan kesejahteraan dan stabilitas ekonomi.

Di sisi lain, umat Islam juga harus menyadari bahwa rezeki pada hakikatnya berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Dialah Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Pemberi Rezeki. Allah yang melapangkan dan menyempitkan rezeki hamba-Nya sesuai dengan hikmah serta kehendak-Nya.

Karena itu, seorang mukmin tidak hanya berusaha memperbaiki keadaan melalui kerja keras dan kebijakan yang baik saat menghadapi kesulitan ekonomi.

Ia juga harus memperkuat keimanan, memperbanyak doa, serta menggantungkan seluruh harapan kepada Allah.

Langkah terpadu ini akan melahirkan masyarakat yang adil, amanah, dan bertakwa.

Fondasi tersebut membuat mereka lebih mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi, sekaligus memanen keberkahan dalam kehidupan dunia dan akhirat.

Revisi Oleh:
  • Notonegoro - 27/06/2026 09:19
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu