Unggahan berisi kehidupan “sempurna” dengan standar TikTok atau Instagram sering kali membuat kita minder dan mengalami FOMO (fear of missing out). Ekspektasi tinggi dari netizen di era media sosial ini dapat memicu perbandingan sosial yang mengikis rasa syukur.
Padahal, akar budaya rasa syukur di Indonesia tumbuh sangat kuat dalam tradisi lokal dan ajaran agama. Nilai-nilai luhur ini sebetulnya mengajarkan kita untuk menghargai setiap nikmat kecil sehari-hari.
Akar Tradisi dan Fenomena Curated Life
Rasa syukur telah lama menjadi bagian penting dari kebudayaan Indonesia sebagai bangsa majemuk yang religius. Masyarakat melestarikan nilai ini melalui tradisi syukuran hasil panen atau Hari Pengucapan Syukur di gereja.
Ajaran Islam juga memperkuat budaya tersebut melalui pengingat populer agar umat tidak selalu melihat ke atas dalam urusan dunia. Penelitian di Universitas Gadjah Mada menyebutkan bahwa orang yang rutin mempraktikkan rasa syukur cenderung hidup lebih bahagia, optimis, dan terhindar dari stres.
Intinya, rasa syukur membantu kita untuk fokus pada hal positif yang sudah kita miliki. Praktik kebiasaan bersyukur secara sederhana dapat kita lakukan dengan mengucap “Alhamdulillah” atau menuliskan tiga hal baik setiap pagi.
Langkah kecil ini terbukti efektif untuk membentuk pola pikir yang positif di dalam diri. Dengan demikian, budaya syukur menjelma menjadi modal sosial penting yang memperkuat ikatan gotong-royong, empati, dan menjaga kepercayaan diri (self-esteem).
Namun, media sosial sering kali menciptakan ‘hidup yang dikurasi’ (curated life) yang hanya menampilkan momen-momen terbaik seseorang. Netizen melihat unggahan orang lain seolah-olah kehidupan pemilik akun tersebut berjalan tanpa cela.
Kondisi ini memicu fenomena compare and despair, yaitu saat kita membandingkan diri dengan orang lain lalu merasa putus asa. Data terbaru menyebutkan bahwa pengguna media sosial di Indonesia kini telah mencapai lebih dari 50% populasi.
Mereka rata-rata menghabiskan waktu selama 2 jam 21 menit per hari untuk menonton konten di dunia maya. Ironisnya, algoritma media sosial cenderung menayangkan konten yang memicu perbandingan sosial, seperti pamer kebahagiaan, kekayaan, fisik ideal, dan pencapaian.
Akibatnya, banyak remaja merasa “tidak cukup baik” jika tampilan hidup mereka tidak setara dengan standar TikTok atau feeds teman-temannya. Survei IYMH menemukan data bahwa 65% siswa SMA pernah merasa minder gara-gara membandingkan diri di media sosial.
Dampak Ekspektasi Netizen bagi Jiwa
Bahkan, tekanan sosial secara daring telah membuat 28% remaja di Indonesia mengalami depresi. Paparan konten ideal secara terus-menerus ini perlahan menggerus kesehatan mental generasi muda.
Penelitian menunjukkan bahwa fenomena visual tersebut dapat menurunkan self-esteem dan menaikkan gejala depresi secara signifikan. Orang tanpa “filter syukur” cenderung memfokuskan perhatian pada kekurangan diri sendiri (upward contrast), sehingga mereka mudah merasa iri dan tak berharga.
Sebaliknya, individu yang memelihara rasa syukur justru mampu memutarbalikkan perasaan negatif menjadi inspirasi positif. Alih-alih merasa iri, ia memilih untuk mengagumi keberhasilan orang lain (upward identification).
Syukur juga membangun empati mendalam saat seseorang melakukan perbandingan ke bawah (downward comparison). Melihat orang lain yang kurang beruntung membuat kita merasa beruntung atas karunia yang ada, tanpa memelihara rasa sombong.
Tanpa kesadaran ini, banyak pemuda melaporkan keluhan stres, cemas, bahkan gejala burnout karena terjebak dalam kecemasan FOMO. Mereka ketakutan jika ketinggalan tren terbaru, lalu ikut-ikutan meniru gaya hidup hiperbolik tanpa henti di dunia maya.
Kesimpulannya, tekanan ekspektasi netizen dapat menciptakan lingkaran setan dalam kehidupan psikologis kita. Kita kecewa dengan diri sendiri, lalu kehilangan rasa syukur, yang justru memperparah gangguan kecemasan.
Al-Qur’an secara tegas melarang umat manusia untuk memelihara sifat iri hati terhadap pencapaian orang lain. Rasulullah pun mengajarkan kita untuk melihat orang yang berada di bawah agar kita lebih mudah bersyukur.
Langkah Konkret Menghidupkan Budaya Syukur
Kita harus mengambil langkah konkret, baik secara individu maupun kolektif, untuk memutus siklus negatif ini. Secara pribadi, kita bisa mulai menanamkan kebiasaan syukur dengan menulis jurnal syukur dan rutin mengucapkan terima kasih.
Kita juga harus menyadari dengan penuh bahwa tidak semua aspek kehidupan ini harus kita lombakan dengan orang lain. Selain itu, kita perlu mengurangi penggunaan media sosial yang sering memicu kebiasaan doomscrolling atau menggulir layar demi membaca berita negatif.
Mari kita hindari doomscrolling dengan membatasi waktu harian dan mematikan notifikasi gawai yang tidak perlu. Kita harus memahami bahwa feed orang lain hanyalah cuplikan terbaik (highlights), sehingga kita wajib berhenti membandingkan hidup dengan highlight reel mereka.
Alih-alih mengejar jumlah likes, fokuslah pada nilai-nilai nyata seperti keluarga, hobi, dan belajar hal baru. Di ranah sosial, kita bisa mengajak teman atau keluarga untuk membuat virtual support group yang saling berbagi cerita positif.
Kita bisa menginisiasi gerakan ini melalui komunitas online dengan tagar #syukurmoment untuk saling menginspirasi satu sama lain. Lembaga sekolah dan media massa juga bisa menyelenggarakan kampanye bersama bertajuk “Standar Syukur, Bukan Standar TikTok”.
Kampanye ini penting untuk mengingatkan masyarakat bahwa kita layak merasa cukup atas hidup yang sederhana. Para influencer dan selebriti berpengaruh sebaiknya mulai jujur mengenai sisi pelik hidup mereka, daripada terus memamerkan kemewahan.
Tak kalah penting, kita harus mendukung penuh gerakan literasi digital dan kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Sekolah dapat memadukan modul “manajemen ekspektasi online” dan teknik mindfulness ke dalam kurikulum pembelajaran.
Langkah ini selaras dengan program Sejiwa yang mengajarkan literasi mental kepada masyarakat luas secara massal. Upaya tersebut mendidik generasi muda agar mengenali jebakan curated life dan cara berpikir cukup (qana’ah).
Upaya kolektif ini akan menghidupkan kembali ajaran luhur bahwa hidup sederhana itu sudah lebih dari cukup. Kita tidak boleh membiarkan keinginan mencari validasi sosial menghapus kesehatan mental dan rasa syukur kita.
Rasa syukur yang bangkit kembali akan memperkuat self-esteem dan memperbaiki kesejahteraan jiwa masyarakat. Fondasi ini akan menuntun kita keluar dari belenggu ekspektasi netizen menuju kebahagiaan hidup yang lebih tulus.





0 Tanggapan
Empty Comments