Pernahkah Anda mentadaburi Surah Ar-Rahman? Di dalam surah yang dijuluki sebagai pengantin Al-Qur’an itu, ada satu kalimat yang terus kembali:
“Fa bi ayyi ālā’i rabbikumā tukadzdzibān.”
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Sekali…
Dua kali…
Sepuluh kali…
Dua puluh kali…
Hingga akhirnya…
Allah mengulanginya sebanyak 31 kali.Lalu muncul sebuah pertanyaan dalam hati.
Apakah Allah sedang mengulang kalimat yang sama? Bukankah Allah Maha Mengetahui bahwa manusia cukup membacanya sekali? Mengapa harus diulang berkali-kali?
Apakah ini sekadar pengulangan bahasa, atau justru di baliknya tersimpan pelajaran yang sangat dalam?
Allah Sedang Mendidik Hati Manusia
Dalam Al-Qur’an, pengulangan bukanlah kelemahan bahasa. Justru sebaliknya, ia merupakan salah satu bentuk keindahan balaghah (retorika) Al-Qur’an.
Allah mengetahui tabiat manusia. Kita bukan hanya makhluk yang mudah lupa, tetapi juga mudah terbiasa dengan nikmat. Sesuatu yang setiap hari kita miliki sering kali justru tidak lagi kita syukuri.
Bayangkan sebuah keluarga. Ketika listrik padam selama beberapa jam, semua orang mulai gelisah. Anak-anak tidak bisa belajar, makanan di kulkas mulai mencair, kipas berhenti berputar, telepon genggam kehabisan daya.
Padahal selama bertahun-tahun listrik hadir setiap hari tanpa pernah kita pikirkan. Kita baru menyadari nilainya ketika ia hilang. Begitulah manusia memperlakukan banyak nikmat Allah.
Yang menarik, ayat ini tidak muncul secara acak. Setiap kali Allah menyebutkan salah satu nikmat-Nya, pertanyaan itu kembali hadir.
Allah mengajarkan Al-Qur’an. Lalu Allah bertanya, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Allah menciptakan manusia. Lalu Allah bertanya lagi.
Allah menundukkan matahari dan bulan. Allah menghamparkan bumi. Allah menciptakan lautan. Allah menumbuhkan buah-buahan. Allah menciptakan mutiara. Allah mengatur keseimbangan alam.
Setelah setiap nikmat itu, Allah kembali mengetuk hati manusia dengan pertanyaan yang sama.
Bahkan ketika Allah menjelaskan Hari Kiamat, neraka, dan surga, pertanyaan itu tetap diulang.
Mengapa? Karena bukan hanya kenikmatan yang merupakan karunia. Peringatan juga merupakan nikmat.
Seseorang yang diingatkan sebelum terjatuh sedang disayangi. Seorang pasien yang penyakitnya terdeteksi sejak dini mungkin merasa sedih ketika menerima hasil pemeriksaan.
Namun justru karena diagnosis itu diketahui lebih awal, peluang untuk sembuh menjadi lebih besar.
Begitu pula nasihat Allah. Kadang terasa berat didengar, tetapi justru menyelamatkan hidup manusia di dunia dan akhirat.
Mengapa Menggunakan Kata “Mendustakan”?
Allah tidak mengatakan: “Nikmat Tuhanmu yang manakah yang tidak kamu syukuri?”
Tetapi Allah menggunakan kata: “…yang kamu dustakan.”
Pilihan kata ini sangat menggugah. Sebab sebagian manusia tidak sekadar lupa bersyukur.
Mereka hidup seolah-olah semua keberhasilan adalah hasil usaha mereka sendiri. Ketika bisnis berkembang, mereka berkata, “Ini murni kerja keras saya.”
Ketika memperoleh jabatan, mereka merasa semua karena kecerdasannya. Ketika tubuh masih sehat, mereka menganggap itu sesuatu yang otomatis.
Padahal, siapa yang memberi napas? Siapa yang menjaga jantung tetap berdetak ketika kita tertidur? Siapa yang membuat mata tetap dapat melihat? Siapa yang menjaga jutaan sel tubuh bekerja tanpa kita sadari? Semuanya adalah karunia Allah.
Kita sering mengira nikmat adalah rumah mewah, mobil baru, atau saldo rekening yang bertambah. Padahal nikmat terbesar justru yang tidak pernah kita pikirkan.
Bayangkan suatu pagi. Anda bangun tidur. Masih bisa membuka mata. Masih mampu menggerakkan kedua kaki. Masih mengenali wajah pasangan dan anak-anak.
Masih mampu mengucapkan, “Alhamdulillah.”
Tidak ada berita duka di rumah. Tidak ada anggota keluarga yang harus dilarikan ke rumah sakit.
Bukankah itu semua nikmat yang luar biasa?
Namun karena terjadi setiap hari, kita menganggapnya biasa. Sains sendiri menunjukkan betapa menakjubkannya tubuh manusia.
Jantung berdetak sekitar seratus ribu kali setiap hari. Paru-paru menghirup ribuan liter udara. Otak mengirim miliaran sinyal saraf setiap saat.
Sistem imun bekerja tanpa henti melindungi tubuh dari ancaman yang bahkan tidak kita sadari.
Kita tertidur. Tetapi tubuh tetap bekerja. Kita lupa. Namun Allah tidak pernah berhenti menjaga kita.
Mengapa Tepat 31 Kali?
Para ulama menjelaskan banyak hikmah di balik pengulangan ayat tersebut. Namun mengenai alasan mengapa jumlahnya tepat 31 kali, Al-Qur’an maupun hadis tidak memberikan penjelasan khusus. Karena itu, kita tidak boleh memastikan alasan tertentu tanpa dalil.
Yang dapat dipastikan adalah bahwa setiap pengulangan memiliki konteks yang berbeda. Kadang setelah penyebutan nikmat, kadang setelah ancaman, kadang setelah gambaran surga, dan kadang setelah penjelasan tentang hari pembalasan.
Kalimatnya sama. Tetapi hati yang disentuh berbeda. Situasinya berbeda. Pesannya pun semakin dalam. Seperti seorang guru yang terus mengingatkan muridnya agar jujur.
Kalimatnya mungkin sama setiap hari. Namun setiap kali diucapkan, maknanya hadir dalam keadaan yang berbeda.
Lalu Apa Hubungannya dengan Kehidupan Kita?
Mungkin hari ini kita mengeluh karena rumah belum sebesar milik orang lain. Padahal masih ada atap yang melindungi kita dari hujan.
Kita mengeluh karena kendaraan sederhana. Padahal masih dapat mengantar kita mencari rezeki dan pulang menemui keluarga.
Kita mengeluh karena usaha belum berkembang. Padahal Allah masih memberi kesehatan untuk mencoba lagi esok hari. Bahkan terkadang kita kecewa karena doa belum dikabulkan sesuai keinginan.
Padahal bisa jadi Allah sedang mengabulkan doa yang lebih besar, yaitu menjaga kita dari musibah yang tidak pernah kita ketahui.
Sering kali kita sibuk menghitung apa yang belum kita miliki.
Sementara kita lupa menghitung apa yang Allah pertahankan setiap detik dalam hidup kita.
Saatnya Menjawab Pertanyaan Allah
Surah Ar-Rahman bukan sekadar surah tentang nikmat. Ia adalah surah yang membangunkan hati yang mulai lalai.
Setiap kali ayat itu kembali, seakan-akan Allah bertanya langsung kepada kita,
“Setelah semua yang Aku berikan, masih adakah alasan bagimu untuk mengingkari-Ku?”
Barangkali selama ini kita mengira Allah sedang mengulang ayat.
Padahal yang sebenarnya diulang adalah kesempatan bagi manusia untuk kembali sadar.
Karena Allah mengetahui, hati manusia tidak selalu luluh hanya dengan satu nasihat.
Kadang ia perlu diketuk lagi. Dan lagi. Hingga akhirnya kesombongan runtuh, mata menjadi basah, dan lidah mengucapkan dengan penuh kejujuran,
“Ya Allah, tidak ada satu pun nikmat-Mu yang pantas aku dustakan. Maka jadikanlah aku hamba yang pandai mengingat, mensyukuri, dan menggunakan setiap nikmat-Mu untuk beribadah kepada-Mu.”
Semoga setiap kali kita membaca Surah Ar-Rahman, kita tidak hanya mengagumi keindahan susunan ayatnya, tetapi juga semakin peka melihat betapa banyak nikmat Allah yang selama ini luput dari perhatian kita. Sebab sering kali, nikmat terbesar bukanlah yang paling mahal, melainkan yang paling sering kita lupakan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments