Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menjaga Lisan, Fondasi Pendidikan Karakter yang Tak Boleh Diabaikan

Iklan Landscape Smamda
Menjaga Lisan, Fondasi Pendidikan Karakter yang Tak Boleh Diabaikan
Oleh : Isnaini Ayudya, Rofi'ah Zayyan Az-Zahra, Syarifan Nurjan Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Di tengah derasnya arus komunikasi digital dan meningkatnya interaksi antarpeserta didik, menjaga lisan menjadi salah satu tantangan utama dalam pendidikan karakter. Ucapan yang santun tidak hanya mencerminkan akhlak seseorang, tetapi juga menjadi fondasi terciptanya lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai.

Madrasah memiliki peran strategis dalam membentuk kebiasaan tersebut. Melalui keteladanan guru, pembiasaan, penguatan karakter, serta budaya sekolah yang positif, peserta didik diarahkan agar mampu menggunakan bahasa yang santun dalam setiap interaksi. Dalam perspektif pendidikan Islam, menjaga lisan merupakan bagian dari pembinaan akhlak yang harus ditanamkan sejak dini karena ucapan mencerminkan kualitas keimanan seseorang.

Hasil observasi dan wawancara di MIN 6 Ponorogo menunjukkan bahwa pembiasaan menjaga lisan telah menjadi bagian dari budaya sekolah. Guru tidak hanya memberikan materi tentang pentingnya berbicara santun, tetapi juga langsung membimbing peserta didik ketika menemukan penggunaan kata-kata yang kurang baik.

Alih-alih memberikan hukuman, guru memilih pendekatan persuasif. Siswa diajak mengulang ucapan dengan pilihan kata yang lebih santun sehingga memahami bentuk komunikasi yang benar. Cara ini terbukti lebih efektif karena mendorong kesadaran peserta didik untuk memperbaiki perilaku secara sukarela.

Keberhasilan pembentukan karakter tidak terlepas dari peran guru sebagai teladan. Guru menunjukkan penggunaan bahasa yang santun dalam proses pembelajaran maupun interaksi sehari-hari sehingga peserta didik memiliki contoh nyata yang dapat ditiru.

Nilai menjaga lisan juga diintegrasikan ke dalam berbagai kegiatan pembelajaran, seperti diskusi, presentasi, penyampaian kisah teladan, hingga penguatan pendidikan karakter. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pembentukan akhlak peserta didik.

Di luar kelas, pembiasaan tersebut diperkuat melalui berbagai kegiatan keagamaan, antara lain doa bersama setiap hari Jumat, pembacaan Asmaul Husna, kultum, serta berbagai aktivitas pembinaan karakter lainnya.

Berdasarkan hasil observasi, komunikasi antarsiswa di MIN 6 Ponorogo umumnya berlangsung dengan santun. Praktik bullying verbal relatif rendah meskipun masih ditemukan sebagian kecil siswa yang sesekali menggunakan kata-kata kurang sopan atau mengejek teman.

Dalam kondisi tersebut, guru segera melakukan pembinaan secara edukatif tanpa mempermalukan peserta didik. Pendekatan ini mampu menciptakan hubungan yang lebih positif antara guru dan siswa sekaligus mendorong perubahan perilaku yang lebih bertahan lama.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pembentukan karakter tidak dapat dilakukan melalui hukuman semata, tetapi memerlukan keteladanan, pembiasaan, dan pendampingan yang dilakukan secara konsisten.

Meski budaya menjaga lisan telah berkembang dengan baik, masih terdapat beberapa aspek yang perlu diperkuat.

SMPM 5 Pucang SBY

Salah satunya adalah pemanfaatan media visual sebagai pengingat karakter. Hasil observasi menunjukkan bahwa poster, slogan, banner, atau mading mengenai pentingnya menjaga lisan belum tersedia secara permanen di lingkungan madrasah.

Padahal, media visual dapat menjadi pengingat yang efektif bagi peserta didik untuk terus membiasakan penggunaan bahasa yang santun dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, keterlibatan orang tua juga menjadi faktor penting agar pembiasaan menjaga lisan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga.

Pembentukan karakter tidak dapat dibebankan kepada guru semata. Keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh sinergi antara sekolah, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat.

Program penghargaan bagi siswa yang konsisten menjaga lisan, komunikasi yang intensif dengan orang tua, serta penyusunan program budaya komunikasi positif dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat pendidikan karakter.

Dengan kolaborasi yang berkelanjutan, budaya menjaga lisan tidak hanya menjadi aturan sekolah, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat dalam diri peserta didik.

Menjaga lisan merupakan investasi karakter yang akan membentuk kualitas generasi masa depan. Pengalaman di MIN 6 Ponorogo menunjukkan bahwa keteladanan guru, pembiasaan yang konsisten, kegiatan keagamaan, serta pendekatan persuasif mampu membangun budaya komunikasi yang santun dan meminimalkan bullying verbal.

Ke depan, penguatan media karakter di lingkungan sekolah serta keterlibatan aktif orang tua perlu terus ditingkatkan agar nilai-nilai kesantunan benar-benar mengakar dalam kehidupan peserta didik, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Menjaga Lisan, Fondasi Pendidikan Karakter yang Tak Boleh Diabaikan

Revisi Oleh:
  • Satria - 08/07/2026 12:48
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu