Oleh Muhsin MK
Pada awal berdirinya Muhammadiyah belum seperti sekarang ini. Ketika persyarikatan ini dibentuk otomatis yang tua adalah KH. Ahmad Dahlan.
Beliau dibantu oleh murid-muridnya, dari kaum muda. Hubungan baik mereka walaupun beda usia dan pengalaman namun organisasi dapat digerakkan dengan baik hingga tumbuh dan berkembang pesat saat ini.
Setelah Muhammadiyah berkembang, membuat kepemimpinan mengalami dinamika. Apalagi dengan berdirinya organisasi otonom kaum muda Muhammadiyah.
Dimulai didirikannya Hizbul Wathon (HW) tahun 1918, Nasyiatul Aisyiyah (NA) tahun 1931, Pemuda Muhammadiyah (PM) tahun 1932, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tahun 1961, Tapak Suci Putra Muhammadiyah tahun 1963, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tahun 1964.
Hubungan ideologis Tua-Muda
Hubungan yang pertama tumbuh dalam tubuh Muhammadiyah adalah hubungan ideologis. Jamaah, anggota dan pimpinan persyarikatan saat KH Ahmad Dahlan masih hidup bersama murid-muridnya bersatu secara ideologis.
Adanya ikatan ideologis ini yang mendorong organisasi Muhammadiyah berdiri di luar Yogyakarta dan pulau Jawa.
Muhammadiyah berdiri kokoh di beberapa daerah benar-benar karena pengaruh ideologi yang saat itu ditanamkannya.
Gerakan dakwah Islam yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah menjadi landasan ideologis membuat gerakan organisasi Muhammadiyah diterima dalam masyarakat di beberapa daerah.
Karena organisasi Muhammadiyah bersifat ideologis tentu bersentuhan dengan ideologi lainnya yang sudah tumbuh dalam masyarakat di negeri Indonesia.
Karena itu tidak mengherankan jika pada masa awal perintisan dan perkembangan- nya, persyarikatan menghadapi hambatan serta tantangan yang tidak ringan. Kalangan tradisionalis menjadi penghambat utama dalam gerakan Muhammadiyah.
Dalam keadaan seperti itu, Muhammadiyah yang bagaikan air mengalir dan tidak dapat dibendung. Gerakannya mendapatkan dukungan dari banyak ragam masyarakat.
Pertama dukungan dari kaum muda yang lebih menginginkan perubahan dalam pemahaman lama dengan ajaran Islam yang baru dibawakan oleh Muhamadiyah. Apalagi mereka sedemikian haus dengan ajaran Islam yang lebih mencerahkan dan mudah dicerna dengan akal fikiran.
Ideologi Islam yang dibawa oleh Muhammadiyah terus ditanamkan sejak awal hingga dewasa ini. Anggota kaum tua masih melekat dalam qalbu sejak awalnya tentang ideologi tersebut.
Adapun kaum muda intelektual yang belakangan masuk beragam memahami ideologi ini karena belum mendalam. Karena mereka masih dalam proses pembelajaran, pendidikan dan pelatihan.
Di era orde Baru terjadi perbedaan sikap dan pandangan dalam masalah keduniaan antara kaum tua dan muda Muhammadiyah.
Kaum tua sedemikian hati-hati menghadapi urusan dunia, apalagi berkaitan dengan politik praktis. Adapun kaum mudanya.cenderung tertarik pada politik praktis dalam kehidupan dunianya.
Bila mereka berhasil menjadi pejabat pemerintahan seakan sebagai sesuatu kesuksesan buat dirinya dalam ber-Muhammadiyah.
Pada awal berdirinya partai politik di masa Orde Baru warga Muhammadiyah baik kaum tua dan muda mendukung dan terlibat dalam partai yang se ideologi dengan Muhammadiyah.
Kemudian oleh pemerintah Orde Baru partai-partai difusikan menjadi tiga, PPP, PDI dan Golkar. Keadaan ini telah merubah sikap dan pandangan kaum muda Muhammadiyah.





0 Tanggapan
Empty Comments