Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dinamika Hubungan Kaum Muda dan Tua dalam Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Dinamika Hubungan Kaum Muda dan Tua dalam Muhammadiyah
Pimpinan Muhammadiyah tidak lagi melihat dikotomi tua muda dalam aspek apapun sebagai kontradiksi karena integrasi dalam tubuhnya sudah dipandang final. (Muhsin/PWMU.CO).

Terjadilah pergeseran di kalangan mereka yang tidak lagi melihat ideologi sebagai acuan bersikap dan menemukan pilihan politik. Maka pada saat itu pengaruh pragmatisme di lingkungan kaum muda Muhammadiyah mulai tumbuh sehingga mereka lebih tertarik masuk Golkar dari pada PPP.

Apalagi PPP saat itu lebih didominasi oleh kader-kader ormas Islam lainnya. Sejak inilah hubungan ideologis kaum tua dan muda Muhammadiyah mulai merenggang.

Hubungan kritis Tua-Muda

Ketika kaum muda Muhammadiyah berada dalam jalan yang berbeda dengan kalangan tua dalam masalah politik praktis tentu menimbulkan rasa kekhawatiran dalam persyarikatan.

Pertanyaan pun lalu muncul, hendak dibawa kemana nama Muhammadiyah oleh mereka? Sebab masalah politik praktis itu bergesekan dengan pro-kontra yang tajam. Apalagi banyak godaan jika sudah terlena dalam tahta, harta dan wanita.

Godaan dunia berpengaruh pada cara berfikir dan bertindak manusia sehingga dapat menimbulkan masalah pada perilaku manusia itu sendiri.

Itulah sebabnya kaum tua berusaha dengan sekuat tenaga menjaga dan membentengi Muhammadiyah agar tidak terseret dalam pusaran politik praktis. Walau pernah terjadi tarik-menarik antara kaum tua dan kalangan muda agar persyarikatan jadi partai politik.

Pada era azas tunggal Pancasila di zaman orde Baru telah terjadi hubungan kritis antara kaum tua dengan kalangan muda Muhammadiyah.

Kaum tua yang diwakili Buya Malik Ahmad, wakil ketua PP Muhammadiyah di Jakarta secara tegas menolak Pancasila menjadi azas persyarikatan.

Ia meninjau dari sudut ideologi Muhammadiyah yang berazaskan Islam. “Azas Tunggal Pancasila bertentangan dengan tauhid yang menjadi dasar Muhammadiyah” tegasnya.

Namun sebagian kaum muda Muhammadiyah, yang menamakan dirinya sebagai keluarga alumni IMM Ciputat Jakarta menolak pandangan Buya Malik Ahmad.

SMPM 5 Pucang SBY

Mereka memandang bahwa asas tunggal Pancasila tidak bisa dipandang dari sudut ilmu Tauhid, tapi sebagai bagian dari ketata negaraan.

Karena itu bagi mereka tidak masalah Muhammadiyah menerima azas Pancasila tanpa menghilangkan identitas keislamannya.

Dalam Muktamar Muhammadiyah tahun 1980 telah terjadi polarisasi di dalam persyarikatan. Di satu sisi Muktamirin yang berasal dari kaum tua tetap berusaha mempertahankan asas Islam dalam persyarikatan sebagai ideologi yang sejak awal dipegang teguh.

Namun sebagian kalangan muda yang hadir saat itu sebagai Muktamirin berusaha agar Muhammadiyah menerima asas tunggal Pancasila sebagai asas organisasinya.

Pengaruh pemerintah saat itu cukup besar. Sebab asas tunggal itu menjadi sarana de- ideologi dan de-islamisasi, baik kepada partai politik umat Islam, atau organisasi massa (ormas) Islam.

Azas Tunggal Pancasila ini bukan hanya dapat menimbulkan krisis ideologi pada sebagian besar organisasi Islam di Indonesia. Ia juga telah menjadi virus timbulnya polarisasi dan perpecahan di dalam tubuh umat dan ormas Islam.

Namun pandangan AR Fachruddin sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah waktu itu, dapat meredakan ketegangan Muktamirin di kalangan kaum tua dan mudanya.

Beliau mengatakan bahwa Asas Pancasila bagi Muhammadiyah ibarat memakai helm. Hanya dipakai saat naik kendaraan di jalan raya. Pancasila pada akhirnya diterima sebagai asas Muhammadiyah dengan penegasan, bahwa persyarikatan ber-Aqidah Islam, yang menjadi fondasi utamanya.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 08/07/2026 11:35
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu