Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dinamika Hubungan Kaum Muda dan Tua dalam Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Dinamika Hubungan Kaum Muda dan Tua dalam Muhammadiyah
Pimpinan Muhammadiyah tidak lagi melihat dikotomi tua muda dalam aspek apapun sebagai kontradiksi karena integrasi dalam tubuhnya sudah dipandang final. (Muhsin/PWMU.CO).

Setelah tumbangnya rezim Orde Baru dan lahir Orde Reformasi Muhammadiyah kembali berasas dan beraqidah Islam.

Hubungan kaum tua dan kalangan muda persyarikatan kembali seperti biasa. Tidak ada gejolak yang dikhawatirkan bisa menimbulkan perpecahan. Hanya saja reformasi telah menimbulkan eforia dan semangat diantara mereka untuk terjun ke partai politik, baik yang baru didirikan atau partai lama.

Hubungan dinamis Tua-Muda

Amien Rais terpilih saat muktamar di Aceh tahun 1990. Sebagai penggerak perubahan rezim, ia lalu dikenal sebagai bapak reformasi.

Amien Rais akhirnya terjun juga ke dalam dunia politik praktis. Ia mendirikan partai politik baru yang disambut dan digerakkan bersama warga Muhammadiyah.

Aktivis partainya tidak hanya didukung kaum tua, tapi juga kalangan muda persyarikatan yang memang bersemangat untuk terjun di dunia politik praktis.

Saat era reformasi ini terjadilah hubungan yang dinamis antara kaum tua dan kalangan muda Muhammadiyah. Sebagian mereka seakan telah berlomba (fastabiqul khairat) untuk terlibat dalam ranah politik praktis dan berkesempatan menjadi anggota legislatif, eksekutif dan yudikatif.

Namun dalam perkembangannya terjadi pula polarisasi dalam tubuh warga Muhammadiyah. Ternyata mereka tidak semua mendukung partai yang didirikan oleh Amien Rais, tetapi partai baru lainnya.

Khususnya kaum muda Muhammadiyah lebih cenderung berada di lingkup partai politik yang berbeda-beda. Mereka sudah tidak melihat lagi apakah itu partai sekularis atau partai agamis.

Di antara mereka ada yang menjadi pimpinan partai Gerindra, PSI, Perindo, Hanura dan lain-lain. Sebagian lainnya masuk sebagai pimpinan PPP, PAN, PKS, PBB, Partai Masyumi, Partai Ummat dan lain-lain.

Dinamika di kalangan muda Muhammadiyah ini tidak terjadi pada kaum tua. Umumnya mereka yang terjun ke dalam partai politik, lebih memilih partai agamis, PPP, PBB atau PAN yang didirikan oleh Amien Rais.

Walau pada akhirnya sebagian mereka terpaksa kecewa saat partai itu tidak lagi menghormati pendirinya sendiri. Lalu bersama tokoh itu mereka mendirikan partai baru, Partai Ummat.

Meskipun, kaum tua dan kalangan muda dalam Muhammadiyah berbeda-beda pilihan partainya, namun tidak sampai menimbulkan konflik di dalam tubuh persyarikatan.

Hanya saja mereka yang terlibat aktif dalam partai politik tersebut tidak dapat merangkap jabatan dalam posisi kepemimpinan persyarikatan.

Kecuali mereka yang menjadi menteri, masih diterima merangkap jabatan. Seperti Muhajir Efendi, Ketua dan Abdul Mufti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah. Sebab mereka bukan pimpinan partai politik. Itulah dinamika yang terjadi di persyarikatan dewasa ini.

Hubungan Harmonis Tua-Muda

Perjalanan sejarah Muhammadiyah demikian panjang telah membuat persyarikatan ini semakin matang dan berpengalaman dalam menghadapi berbagai masalah internal dan eksternalnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Pimpinan Muhammadiyah tidak lagi melihat dikotomi tua muda dalam aspek apapun sebagai kontradiksi karena integrasi dalam tubuhnya sudah dipandang final.

Apalagi proses kaderisasi terus berjalan baik, ajeg, terukur, terstruktur dan sistematis pada semua tingkatan organisasi.

Al Islam dan ke Muhammadiyahan telah menjadi bagian dari penanaman ideologi dan faham bagi seluruh anggota dan warga persyarikatan.

Hal ini membuat anggota dan pimpinan Muhammadiyah bersikap dewasa dalam menyikapi berbagai soal dan dinamika internal dan eksternal organisasi.

Kedewasaan intelektual, moral dan spiritual yang dimiliki pimpinan Muhammadiyah memberikan pengaruh terhadap hubungan kalangan tua dan kaum mudanya.

Dewasa ini telah tercipta hubungan harmonis antara kaum tua dengan kalangan muda karena semua memiliki ideologi yang sama.

Bahwa ber-Muhammadiyah itu harus ikhlas, berkorban, sedikit bicara banyak bekerja, fastabiqul khairat, hidup-hidupilah Muhammadiyah dan tidak mencari kehidupan dalam Muhammadiyah.

Jadilah matahari yang selalu memberikan sinarnya ke bumi dan memberikan kemaslahatan bagi umat semesta.

Dalam Muhammadiyah semua kalangan dewasa ini terus bekerja, beramal shaleh, membangun berbagai amal usaha yang memberikan maslahat bagi masyarakat.

Kaum tua dan muda bekerja sama dalam membangun AUM di berbagai aspek dan bidang pendidikan, kesehatan, kemanusiaan, sosial dan ekonomi.

Demikian pula pada saat mereka menggerakkan dan mengelola AUM itu secara profesional sehingga membawa harum nama persyarikatan di dunia.

Hubungan harmonis Tua-Muda Muhammadiyah dapat dilihat pula dalam penyelenggaraan acara kegiatan persyarikatan yang bersifat formal dan informal.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 08/07/2026 11:35
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu