SD Muhammadiyah Manyar menutup rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 pada Jumat (17/7/2026) dengan berbagai kegiatan yang menekankan penguatan karakter, budaya positif, dan pendidikan demokrasi.
Penutupan MPLS tidak sekadar menjadi akhir dari masa pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi awal perjalanan peserta didik dalam membangun karakter yang berakhlak, peduli, bertanggung jawab, serta mampu hidup berdampingan dalam lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.
Kegiatan diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan agar seluruh proses pembelajaran selama tahun ajaran 2026/2027 senantiasa mendapat keberkahan Allah Swt. Selanjutnya, seluruh siswa mengucapkan Janji Pandu Hizbul Wathan (HW) sebagai komitmen untuk menjadi pribadi yang disiplin, berakhlak mulia, dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam penutupan MPLS adalah Perayaan Keyakinan Kelas. Selama masa MPLS, setiap kelas telah menyusun keyakinan kelas sebagai kesepakatan bersama antara tiga pilar pendidikan, yakni murid, guru, dan orang tua. Pada hari terakhir MPLS, keyakinan tersebut dikukuhkan sebagai budaya positif yang akan diterapkan selama proses pembelajaran.
Setiap kelas menampilkan poster Keyakinan Kelas dengan desain yang kreatif dan beragam. Poster-poster tersebut mencerminkan semangat kolaborasi, saling menghargai, saling mengingatkan, serta komitmen untuk bertumbuh bersama sepanjang tahun ajaran.
Sekolah Happy Tanpa Bully
Komitmen membangun lingkungan belajar yang aman dan nyaman semakin diperkuat melalui Deklarasi Sekolah Happy Tanpa Bully yang dipimpin langsung oleh Kepala SD Muhammadiyah Manyar, Athiq Amiliyah, S.Pd. Seluruh warga sekolah menyatakan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, ramah, inklusif, serta bebas dari segala bentuk perundungan.
Deklarasi tersebut menjadi wujud nyata tekad SD Muhammadiyah Manyar dalam menghadirkan sekolah yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga mampu memberikan rasa bahagia kepada seluruh warganya.
Suasana semakin semarak ketika Athiq Amiliyah mengajak seluruh peserta meneguhkan identitas SD Muhammadiyah Manyar sebagai Sekolah Ramah Anak. Saat beliau menyerukan, “SD Muhammadiyah Manyar Sekolah Ramah Anak,” seluruh siswa dan guru serempak menjawab, “Anak Senang, Guru Tenang, Orang Tua Bahagia.”
Seruan yang menggema di seluruh lingkungan sekolah tersebut menjadi simbol kebersamaan sekaligus harapan agar sekolah senantiasa menjadi tempat yang aman, nyaman, dan menyenangkan bagi tumbuh kembang setiap anak.
Selain penguatan karakter, hari terakhir MPLS juga menjadi sarana pembelajaran demokrasi melalui pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Kelas berbasis e-voting yang diikuti siswa kelas I hingga kelas VI.
Sebelum proses pemungutan suara berlangsung, setiap pasangan calon diberikan kesempatan menyampaikan orasi serta memaparkan visi dan misi di hadapan teman-temannya. Dengan penuh percaya diri, para calon menawarkan berbagai gagasan untuk membangun kelas yang lebih kompak, disiplin, dan inspiratif. Antusiasme siswa terlihat sepanjang proses pemilihan yang berlangsung tertib, jujur, dan menjunjung tinggi sportivitas.
Dalam sambutannya, Kepala SD Muhammadiyah Manyar Athiq Amiliyah, S.Pd., alumni Universitas Muhammadiyah Gresik, menegaskan bahwa MPLS merupakan fondasi penting dalam membangun budaya sekolah.
“Kami ingin setiap anak merasa diterima, dihargai, dan bahagia berada di sekolah. Melalui Keyakinan Kelas, Deklarasi Sekolah Happy Tanpa Bully, serta pembelajaran demokrasi melalui e-voting, kami berharap budaya saling menghormati, bertanggung jawab, dan peduli terhadap sesama dapat tumbuh sejak hari pertama mereka belajar di SD Muhammadiyah Manyar. Ketika anak senang, guru tenang, dan orang tua bahagia, insyaallah proses pendidikan akan melahirkan generasi yang berkarakter dan berprestasi,” tuturnya.
Penutupan MPLS Ramah tahun ini menjadi gambaran nyata komitmen SD Muhammadiyah Manyar dalam menghadirkan pendidikan yang berpusat pada kebahagiaan anak, penguatan karakter, serta kolaborasi seluruh warga sekolah. Mulai dari doa bersama, pembacaan Janji Pandu Hizbul Wathan, pengukuhan Keyakinan Kelas,
Deklarasi Sekolah Happy Tanpa Bully, hingga pelaksanaan e-voting, seluruh rangkaian menjadi langkah awal bagi peserta didik untuk memasuki tahun ajaran baru dengan semangat, rasa aman, dan keyakinan bahwa sekolah adalah rumah kedua yang membahagiakan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments