Ukuran utamanya adalah nilai karakter sebagai tujuan yang hendak dicapai dan diraihnya. Tanpa ada nilai-nilai karakter yang ditanam dalam bangunan fisik itu, terutama bagi Muhammadiyah dan Aisyiyah adalah sebuah kegagalan.
Namun di antara karakter Muhammadiyah yang cukup populer, “Sedikit bicara banyak bekerja”.Ini menjadi ukuran berdirinya berbagai bangunan fisik dalam berbagai bidang aktivitasnya.
Mulai dari TK ABA hingga universitas Muhammadiyah- Aisyiyah yang telah tumbuh dan berkembang pesat dengan berbagai pembangunan fisiknya.
Semua itu sebagai realisasi dari karakter yang dibangun dan dimiliki Muhammadiyah tersebut. Karakter ini pun telah tertanam pada diri kader, anggota dan pemimpinnya sejak awal berdiri. Ini menunjukkan persyarikatan sudah membangun karakter lebih dahulu sebelum pembangun fisik diwujudkan.
Demikian pula bila melihat perkembangan dalam hal bangunan fisik Muhammadiyah-Aisyiyah di beberapa daerah.
Di pulau Jawa termasuk cukup pesat baik bangun fisik universitas, atau rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah. Demikian pula di Sumatera, Sulawesi dan Papua dibangun kampus-kampus megah dan bertingkat.
Terkesan ada persaingan antar perguruan tinggi dan rumah sakit Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam pembangunan fisik.
Namun persaingan pada dasarnya sebagai realisasi dari fondasi dan nilai-nilai karakter yang telah ditanamkan dalam persyarikatan. Yaitu “fastabiqul khairat”, berlomba -lomba dalam kebaikan. Nilai ini yang mendasari semua pembangunan fisik Muhammadiyah dan Aisyiyah di berbagai daerah tersebut.
Nilai Karakter dalam Bangunan Fisik
Bangunan fisik Muhammadiyah benar-benar luar biasa. Jika dikumpulkan menjadi satu semua unit bangunan di seluruh Indonesia di satu lokasi bisa saja sama seperti kota DKI Jakarta.
Ini tidaklah berlebihan jika dilihat dari bangunan fisik yang telah dibangun oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah secara keseluruhan.
Namun dalam bangunan fisik itu ada nilai-nilai karakter yang berbeda. Di dalamnya nilai yang tetap dipertahankan adalah, ajaran Al Islam dan ke Muhammadiyahan.
Nilai ini menjadi fondasi dan worldview yang menjadikan bangunan fisik Muhammadiyah dan Aisyiyah berbeda nilainya dengan yang lain..
Belum lagi karakter orang-orang yang beraktivitas di dalam bangunan fisik Muhammadiyah dan Aisyiyah itu. Mereka yang menjadi anggota dan jamaah kedua organisasi tersebut tentu memiliki karakteristik yang berbeda pula dengan lainnya. Keikhlasan, ketaatan, pengorbanan, kesungguhan dan pengabdian yang lebih dikedepankan.
Karakter anggota Muhammadiyah dan Aisyiyah yang mengisi bangunan beserta orang-orang yang dibina dan digerakkan di dalam bangunan fisik itu memberikan pengaruh yang besar kepada kehidupan yang lebih religius, bermoral, beradab, mulia, terpuji dan bertaqwa.
Bangunan fisiknya juga mendapat pengaruh dari karakter itu dan menimbulkan daya tarik yang luar biasa pada masyarakat di lingkungan sekitarnya.
Apalagi nilai-nilai karakter yang ditanamkan oleh Ahmad Dahlan, “Hidup hiduplah Muhammadiyah dan tidak mencari hidup di Muhammadiyah” yang selalu menggema berada di balik bangunan fisik. Nilai inipun membuat bangunan fisik terus saja tumbuh, berkembang dan berkemajuan.
Seluruh keadaan itu pasti akan membuahkan hasil rezeki halalan tayyibah berlimpah penuh barokah pada Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Lalu semua itu pun pada akhirnya dapat dirasakan nikmat, rahmat dan berkahnya oleh segenap keluarga besar persyarikatan serta masyarakat bangsa Indonesia. Wallahu ‘alam bish shawwab.





0 Tanggapan
Empty Comments