Di balik berdirinya Muhammadiyah pada 1912, terdapat sebuah kisah menarik yang jarang diketahui publik. Seorang murid Kweekschool mengusulkan KH Ahmad Dahlan agar gerakan yang dirintisnya itu memiliki bentuk organisasi. Usulan itu kemudian menjadi salah satu pemantik lahirnya organisasi yang kelak berkembang menjadi salah satu gerakan Islam terbesar di Indonesia.
Di sebuah sudut Kauman yang bersahaja pada tahun 1911. Sejarah besar Islam di Indonesia sedang diletakkan fondasinya. Bukan di mimbar megah atau aula diskusi mewah. Melainkan di sebuah ruangan tamu yang disulap menjadi kelas dengan ukuran sempit, 2,5 x 6 meter. Di sana, seorang ulama karismatik, KH Ahmad Dahlan, tengah bergelut dengan keterbatasan demi memajukan pendidikan bagi anak-anak pribumi.
Namun, di balik keberhasilan besar organisasi Muhammadiyah hari ini, terdapat saran sederhana namun visioner dari seorang murid muda Kweekschool. Yaitu sekolah guru di zaman kolonial Hindia Belanda. Saran yang kemudian diakui sang Kyai sebagai catatan emas dalam sanubarinya.
Tahun 1911 merupakan periode yang sangat sibuk bagi KH Ahmad Dahlan. Selain menjalankan tugas sebagai khatib di lingkungan Kesultanan Yogyakarta, ia aktif dalam organisasi Budi Utomo. Selain itu, KH Ahmad Dahlan juga berdagang untuk menopang kehidupan keluarga, mengajar agama di Kweekschool, serta mengelola sekolah yang dirintisnya sendiri di Kauman.
Dalam Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942, sejarawan Deliar Noer mencatat bahwa sejak 1909, Dahlan telah aktif bergabung dengan Boedi Oetomo. Bukan karena sekadar ikut-ikutan, Dahlan memiliki misi strategis.
“Dengan jalan ini ia berharap akan dapat akhirnya memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah pemerintah, oleh sebab anggota-anggota Budi Utomo itu pada umumnya bekerja di sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah dan juga di kantor-kantor pemerintah,” tulis Deliar Noer.
Harapan tersebut ternyata membuahkan hasil. Pelajaran agama yang diberikan Ahmad Dahlan mendapat sambutan positif dari para anggota Budi Utomo. Dukungan itu mendorongnya untuk mendirikan sekolah sendiri sebagai sarana pendidikan yang memadukan pelajaran agama dan pengetahuan umum.
Sekolah yang dirintis Ahmad Dahlan pada masa awal berdiri sangat sederhana. Dalam catatan Kyai Syuja’ yang dimuat dalam buku Islam Berkemajuan: Kisah Perjuangan KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah Era Awal, sekolah itu menggunakan ruang tamu rumahnya di Kauman yang berukuran sekitar 2,5 x 6 meter.
Fasilitasnya pun sangat terbatas. Hanya terdapat tiga meja, tiga bangku sekolah yang dibuat dari kayu bekas peti kain impor, serta sebuah papan tulis sederhana dari kayu suren. Meski demikian, tempat itu menjadi pusat kegiatan pendidikan yang menarik perhatian banyak kalangan.
“Yaitu di ruang kamar tamu yang selebar ± 2,5 x 6 meter, dengan kamar tamunya. Dengan tiga meja dan tiga bangku sekolah yang terbuat dari kayu jati putih dari luar negeri, yakni kayu bekas peti kain putih (muslim) serta satu papan board dari kayu suren,” tulis Syuja’ mendeskripsikan sekolah pertama yang dibangun KH Ahmad Dahlan.
Setiap Sabtu sore Ahmad Dahlan mengajar agama Islam kepada para siswa Kweekschool. Kegiatan itu kemudian berlanjut pada hari Minggu dalam bentuk diskusi agama. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan Muslim. Terdapat pula siswa Kristen, Katolik, pengikut Theosofi, dan berbagai latar belakang pemikiran lainnya.
Dalam salah satu pertemuan itulah terjadi percakapan yang kelak memiliki arti penting dalam sejarah Muhammadiyah. Seorang siswa memperhatikan kondisi sekolah sederhana yang berada di rumah Ahmad Dahlan. Ia melihat meja, bangku, dan papan tulis yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
“Selama itu di antara siswa tersebut ada yang mengambil perhatian keadaan di tempat itu, terlihat meja dan bangku sekolah serta board-nya. Ia menyatakan kepada Kyai. “Kyai, apakah di sini tempat sekolahan? Sekolahan apakah yang ada di sini itu?” lanjut Syuja’.
Kyai Dahlan kemudian menjelaskan bahwa tempat itu merupakan Madrasah Ibtidaiyah Islam yang memberikan pelajaran agama Islam dan pengetahuan umum bagi anak-anak Kauman. Ketika ditanya siapa yang mengelola dan menjadi guru di sekolah tersebut, Ahmad Dahlan menjawab bahwa dirinya sendiri yang memegang dan mengajarnya.
Mendengar jawaban itu, siswa tersebut mengemukakan pandangan yang tidak biasa. Ia menilai bahwa sekolah itu sebaiknya tidak bergantung pada satu orang. Menurutnya, jika seluruh pengelolaan berada di tangan Ahmad Dahlan, maka keberlangsungan sekolah akan terancam ketika sang pendiri wafat.
“… maka apabila Kyai meninggal dunia ahli waris tidak mampu meneruskan terhentilah sekolah itu. Sebagaimana pondok-pondok Kiyai bila Kiyainya telah wafat lalu santrinya bubar. Maka dari itu, kami usul, hendaknya sekolah itu dipegang oleh suatu organisasi hingga dapat langsung selama-lamanya,” usul siswa Kweekschool dalam catatan Syuja’ yang pada 1911 berusia 29 tahun.
Siswa itu mengusulkan agar sekolah dikelola oleh sebuah organisasi. Dengan demikian, lembaga pendidikan itu tidak bergantung pada figur tertentu dan dapat terus berjalan untuk waktu yang lama. Usulan tersebut menarik perhatian Ahmad Dahlan. Dalam catatan Kyai Syuja’, Ahmad Dahlan kemudian bertanya, “Organisasi itu apa?”
“Organisasi itu suatu golongan manusia yang semaksud dan teratur disusun sebagai suatu badan yang sah dengan izin pemerintah (gouvernement) Hindia Belanda, umpamanya seperti perkumpulan Boedi Oetomo yang sekarang sudah berdiri di Yogyakarta!” jelas siswa itu.
Penjelasan itu tampaknya meninggalkan kesan mendalam bagi Ahmad Dahlan. Ia menyambut gagasan itu dengan antusias, sambil mengangguk-anguk mustakanya.
“Itu baik sekali dan saya catat dalam sanubariku dengan tinta emas,” jawab KH Ahmad Dahlan yang membuat siswa itu kelihatan gembira dan besar hati.
Sejak saat itu, menurut Kyai Syuja’, Ahmad Dahlan semakin sering merenungkan kemungkinan membentuk perkumpulan atau persyarikatan. Ia menyadari bahwa cita-cita pembaruan pendidikan dan dakwah Islam memerlukan wadah yang kokoh daripada sekadar usaha perseorangan. Keinginan untuk membentuk persyarikatan terus tumbuh hingga akhirnya terwujud dengan berdirinya Muhammadiyah pada 18 November 1912.
Siapakah siswa yang memberikan saran bersejarah tersebut? Deliar Noer menyebut bahwa murid Kweekschool yang mendorong Ahmad Dahlan membentuk organisasi bernama Mas Radji. Ia merupakan salah satu siswa Kweekschool Yogyakarta yang aktif mendukung gagasan pendidikan yang dikembangkan Ahmad Dahlan. Saran Mas Radji terbukti menjadi salah satu fondasi bagi lahirnya Muhammadiyah pada 18 November 1912.
Deliar Noer mencatat dua sosok penting dari Kweeekschool: Mas Radji dan seorang guru yang bernama R. Sosrosugondo. Keduanya memberikan dukungan kuat terhadap sekolah-sekolah yang dirintis Ahmad Dahlan. Dengan bentuk organisasi, sekolah yang dulunya hanya menempati ruang 2,5 x 6 meter itu bertansformasi. Menjadi ribuan amal usaha pendidikan yang tersebar dari pelosok negeri.





0 Tanggapan
Empty Comments