Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Buku Menembus Benteng Tradisi – 39

Iklan Landscape Smamda
Buku Menembus Benteng Tradisi – 39

Tulisan ini adalah salinan dari buku “Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004″,  Bab III berjudul “Muhammadiyah Masa Penjajahan (1921-1942)”, sebagian halaman 85, 86, dan 87.

Halaman sebelumnya: Buku Menembus Benteng Tradisi – 38

***

Halaman 85

Selain dari catatan dari BTMHT tersebut, juga diperoleh informasi dari sumber buku “Kenang-kenangan Muhammadiyah Seluruh Indonesia Genap 40 Tahun” terbitan Muhammadiyah Cabang Surabaya, bahwa Muhammadiyah Surabaya juga berhasil mendirikan beberapa sekolah dengan nama Gadis Islam di Ampel Gading, Ibtidaiyah, Millyah, Bustanul Athfal, dan sekolah lanjutan lainnya.(134)

Pada 1932, Aisyiyah di Jawa Timur telah menunjukkan kiat-kiat untuk membina dan mencerdaskan kaum perempuan. Dalam usahanya, Aisyiyah Daerah Madiun mempunyai 1 surau dan 4 madrasah. Daerah Surabaya mempunyai 1 mushalla dan 2 madrasah. Daerah Pasuruan mempunyai 1 sekolah dan 2 kursus. Daerah Madura mempnyai 3 kursus, dan 2 madrasah. Daerah Besuki mempunyai 1 sekolah, 2 kursus, dan 2 madrasah. (135)

Cabang Muhammadiyah Ponorogo sejak awal berdirinya (1922), merealisasikan inti tujuan Muhammadiyah, yakni memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran agama Islam, memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kemauan agama Islam kepada anggota-anggotanya. Bagian Tabligh segera bergerak merintis pengajian malam, sekolah buta huruf untuk orang-orang tua dan para buruh, sekolah sore untuk anak-anak keluarga Muhammadiyah. (136)

Halaman 86

“Sekolah Malam Hari,” yang berdiri pada 1922 segera setelah Muhammadiyah Ponorogo berdiri, berkembang dan bermetamorfosis menjadi Madrasah Islamiyah.

Dalam perkembanganan selanjutnya, pada 1924 madrasah ini berubah nama lagi menjadi Madrasah met de Qur’an. Kegiatan belajar mengajar yang tadinya dilaksanakan sore hari diubah menjadi pagi hari. Tetapi tempatnya masih menumpang di rumah Ali Diwiryo. Kepala Madrasah ini adalah Saliman Atmowiyoto, dibantu guru-guru lain, seperti Ali Diwiryo, Duriyat dan Edris Joyo Sudarmo. Madrasah ini mengajarkan membaca dan menulis huruf al-Qur’an, tulisan pegon, huruf latin, huruf Jawa, terjemah al-Qur’an, berhitung, bahasa Melayu, dan menyanyi.

Pada 1926 madrasah ini mencapai 5 kelas, dan oleh pengurus namanya diubah menjadi Standard School Muhammadiyah. Pada 1927 mulai dibangun gedung sekolah sendiri, di Jl. Batoro Katong 221 Ponorogo. Sekolah ini berhasil memperoleh subsidi dari pemerintah. (137)

SMPM 5 Pucang SBY

Selain itu, pada 1927 Muhammadiyah Ponorogo mendirikan Taman Kanak-kanak, di Jl. Sriwijaya (sekarang). Tapi setahun kemudian bubar. Baru pada 1940 berdiri kembali dengan nama Taman Kanak-kanak Bustanul Athfal Aisyiyah. Muhammadiyah Ponorogo juga mendirikan HIS met de Qur’an, di Jl. Sriwijaya. Lama pendidikan 7 tahun, dengan bahasa pengantar Belanda. Dua tahun kemudian pindah ke Jl. Thamrin. Jumlah murid tiap kelas rata-rata 30 anak.

Di antara pengajarnya adalah Sumardi dan Ny.Suparni. Sekolah ini menempati gedung baru yang dibangun di atas tanah wakaf pemberian Sumo (anggota Muhammadiyah). Sedangkan batu merah pemberian Ali Diwiryo, kayu dan genteng dari Harjo Suwignyo, dan biaya tukang dan lain-lain dari gotong royong warga Muhammadiyah. Gedung baru ini diresmikan pada 1930. HIS met de Qur’an berhasil meraih status “Gelijkgesteld” (disamakan). (138)

Muhammadiyah Ponorogo juga mendirikan Sekolah Magang yang disebut Cursus Guru Desa (CGD) atau CVO (Cursus Volks Onderwijzer). Lama pendidikannya dua tahun, siswanya diambil dari lulusan Standard School, dan menempati gedung sendiri. Kemudian berdiri MULO (1935), Wustha Muallimin (1937), dan Wustha Muballighin (1937). Yang menarik, Kepala Sekolah Wustha

Halaman 87

Muallimin Muhammadiyah Ponorogo, yakni Trisihnyo, adalah pemrakarsa Kongres Muallimin se Jawa. Kongres itu terlaksana pada 1938 di Durisawo, Ponorogo, dan berhasil membentuk Perikatan Muallimin Muhammadiyah seluruh Jawa (PEMUJA). Selain itu, sebulan setelah Muallimin ini berdiri (1 September 1937), para siswanya membentuk organisasi pelajar dengan nama Sinar Kaum Muhammadiyah (SKM). Organisasi ini kemudian diperluas untuk semua pelajar sekolah Muhammadiyah oleh Moh. Bajuri. Pada 1938 berdiri Sinar Kaum Muhammadiyah Isteri (SKMI). (139)

Muhammadiyah Ponorogo juga berhasil membangun “Pasoedjoedan Moehammadijah,” yakni masjid megah berlantai dua yang diberi nama “Darul Hikmah” pada 12 Mei 1938 M/12 Maulud 1357 H. Lantai bawah dipergunakan untuk Wustha Muallimin Muhammadiyah.(140)

Di bidang pendidikan, Cabang Muhammadiyah Malang sampai 1938 telah memiliki beberapa sekolah mulai dari Frobel School (Taman-Kanak-kanak), HIS, Diniyah School dan Kweek School. (141)

***

Buku Menembus Benteng Tradisi: Sejarah Muhammadiyah Jawa Timur 1921-2004, diterbitkan oleh Hikmah Press, Surabaya, Juni 2005. Buku ini ditulis oleh Tim Penulis : Syafiq A. Mughni (Penanggung Jawab), Sjamsudduha (Ketua), dan Ahmad Nur Fuad (Sekretaris). Anggota: Lilik Zulaicha, A. Fatichuddin, Ainur Rofiq Sophiaan, Wisnu, Nadjib Hamid, Yuristiarso Hidayat, Muhsinul Ahsan, Biyanto, dan Ainun Najib. Konsultan: M. Habib Mustopo dan Aminuddin Kasdi.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 04/06/2026 22:29
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu