Ada suasana yang berbeda di lantai 13 At-Tauhid Tower Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Senin (20/7/2026) dini hari. Ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap, ratusan sivitas akademika bersama masyarakat umum justru memadati auditorium untuk mengikuti Nonton Bareng (Nobar) Final Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Spanyol melawan Argentina.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang menyaksikan pertandingan sepak bola paling bergengsi di dunia, tetapi juga dirancang sebagai momentum mempererat silaturahmi dan menguatkan nilai-nilai spiritual.
Sejak pukul 00.00 WIB, peserta diajak melaksanakan salat tahajud berjamaah yang dilanjutkan dengan pembacaan Fathul Qulub.
Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor Umsura Prof. Dr. Mundakir, Wakil Rektor Dr. Radius Setiyawan, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dr. Fajar Junaedi, jajaran dekan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang datang untuk menikmati pertandingan bersama.
Menjelang kick off pukul 02.00 WIB, semangat para peserta semakin terasa. Sorak-sorai mulai terdengar ketika kedua tim memasuki lapangan. Laga final berlangsung dalam tempo tinggi.
Spanyol dan Argentina sama-sama memperagakan permainan menyerang yang membuat para penonton beberapa kali berdiri dari tempat duduknya karena tegang menyaksikan setiap peluang yang tercipta.

Pertandingan yang berlangsung sengit itu akhirnya harus diselesaikan hingga babak perpanjangan waktu.
Ketegangan semakin memuncak karena kedua tim sama-sama tampil disiplin dalam bertahan sekaligus berbahaya saat menyerang.
Hingga akhirnya Spanyol berhasil memastikan kemenangan atas Argentina dan mengunci gelar juara dunia. Gemuruh tepuk tangan dan sorak kemenangan langsung memenuhi auditorium At-Tauhid Tower.
Bagi Rektor Umsura Prof. Mundakir, pertandingan tersebut menyuguhkan lebih dari sekadar tontonan olahraga.
“Sepak bola merupakan media pembelajaran yang sarat dengan nilai kehidupan, mulai dari pentingnya penguasaan teknik, kecerdasan menyusun taktik, hingga menjunjung tinggi sportivitas,” katanya.
Dia menilai kemenangan Spanyol menunjukkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu pemain, melainkan kemampuan seluruh tim menjalankan strategi secara disiplin dan saling mendukung hingga peluit akhir dibunyikan.
“Sepak bola mengajarkan bahwa kesuksesan lahir dari perpaduan teknik yang baik, taktik yang matang, kedisiplinan, dan kerja sama tim. Semua pemain memiliki peran yang sama pentingnya untuk mencapai tujuan bersama,” ujar Mundakir.

Kata Mundakir, pelajaran tersebut sangat relevan dengan kehidupan di dunia pendidikan. Kampus tidak hanya bertugas melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga membentuk karakter yang mampu bekerja sama, menghargai proses, dan siap menghadapi persaingan secara sehat.
“Yang tidak kalah penting adalah sportivitas. Dalam pertandingan selalu ada yang menang dan ada yang kalah. Keduanya harus diterima dengan lapang dada. Menghormati lawan, menaati aturan, dan tetap menjaga persaudaraan adalah nilai yang juga harus hidup di lingkungan kampus,” tuturnya.
Mundakir berharap kegiatan nonton bareng seperti ini menjadi ruang belajar yang menyenangkan bagi sivitas akademika.
Melalui olahraga, mahasiswa dapat memahami bahwa keberhasilan tidak pernah diraih sendirian, melainkan melalui kolaborasi, strategi yang tepat, dan semangat pantang menyerah.
Selain menyuguhkan pertandingan kelas dunia, panitia juga menyediakan berbagai hidangan sederhana yang menghangatkan suasana dini hari. Kopi, teh, dan polo pendem disajikan bagi seluruh peserta sehingga kebersamaan semakin terasa selama pertandingan berlangsung.
Keseruan semakin lengkap dengan pembagian berbagai doorprize kepada peserta yang beruntung. Sesekali tawa dan tepuk tangan terdengar ketika nama-nama pemenang diumumkan, menambah keakraban di antara sivitas akademika dan masyarakat yang hadir.
Kegiatan nobar ini jadi bukti bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar di ruang kelas, tapi juga ruang membangun kebersamaan, karakter, dan semangat sportivitas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments