Teater Lam Alif SMA Muhammadiyah 2 (SMA Muha) Genteng Banyuwangi kembali menggelar pertunjukan spektakuler dengan membawakan naskah legendaris karya Usmar Ismail berjudul Ayahku Pulang.
Pagelaran tersebut digelar di serambi luar masjid sekolah pada Sabtu (9/5/2026) dan menjadi pertunjukan keempat Teater Lam Alif setelah sebelumnya sukses mementaskan Angkara (2023), Laut Bercerita (2024), dan Luruh (2025).
Pada pementasan kali ini, Kanaya Tabhita K (XI.4) bertindak sebagai sutradara. Sementara para pemain yang terlibat antara lain Delima Ayu (X.4) sebagai Tina, Reyhan Iftitan (X.4) sebagai Gunarto, Chiara Akuini (X.3) sebagai Mintarsih, Anshorullah L.P Junior (X.3) sebagai Maimun, dan Hulul (XII) sebagai Raden Saleh.
Adapun proses saduran naskah dilakukan oleh Mahardika, alumni SMA Muha 2024 sekaligus pembina Teater Lam Alif.
Kisah Keluarga yang Sarat Emosi
Kanaya Tabhita selaku sutradara menjelaskan bahwa Ayahku Pulang merupakan drama realis yang mengangkat persoalan keluarga.
Drama tersebut berkisah tentang seorang ayah bernama Raden Saleh yang meninggalkan istri dan anak-anaknya untuk bekerja di Singapura.
Setelah lama merantau, Raden Saleh menjadi sosok yang sukses dan kaya raya. Namun di sisi lain, sang istri harus hidup dalam kemiskinan bersama anak-anak mereka.
Kondisi tersebut membuat anak sulungnya, Gunarto, terpaksa menjadi tulang punggung keluarga.
“Ayahku Pulang merupakan drama realis yang berkisahkan tentang permasalahan keluarga, di mana seorang ayah yang bernama Raden Saleh tega meninggalkan seorang istri dan anak-anaknya yang masih kecil untuk pergi bekerja di Singapura. Setelah lama bekerja di sana Raden Saleh menjadi seorang yang sukses dan kaya raya, sedangkan sang istri hidup dengan kemiskinan bersama anak-anaknya. Hal itu menyebabkan anak pertamanya yang bernama Gunarto harus menjadi tulang punggung,” ungkapnya.
Lebih dari 600 Penonton Hadir
Antusiasme penonton dalam pagelaran tersebut sangat luar biasa.
Tidak kurang dari 600 undangan hadir untuk menyaksikan pertunjukan, bahkan jumlah tersebut melebihi kapasitas tempat yang telah disediakan.
Banyak penonton rela menyaksikan dari sisi kanan dan kiri luar area pertunjukan demi menikmati jalannya pementasan.
Hampir seluruh grup teater di Banyuwangi turut hadir, mulai dari SMAN Glagah Banyuwangi, MAN 8 Banyuwangi, SMPM 1 Genteng, Universitas 17 Agustus Banyuwangi, Teater Pinggir Kali Universitas Ibrahimy Banyuwangi, Teater Jember, hingga berbagai kelompok teater lainnya.
Dengan membludaknya jumlah penonton, pagelaran kali ini disebut menjadi sejarah pertunjukan paling spektakuler Teater Lam Alif.
“Dengan membludaknya jumlah penonton yang hadir, pagelaran kali ini merupakan sejarah yang paling spektakuler,” ujar Akhmad Khairudin, S.Pd., guru pembina ekstra Teater Lam Alif SMA Muha Genteng.
Penonton Terhipnotis
Acara dimulai tepat pukul 19.00 WIB diawali penampilan dua solo vokal dari siswa kelas X dan XI SMA Muha Genteng.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Sang Surya, sambutan kepala sekolah Ani Sudarmi, M.Pd., serta sambutan ketua panitia sebelum memasuki inti pertunjukan.
Sebelum drama dimulai, penonton terlebih dahulu disuguhi penampilan pantomim dan monolog.
Sejak layar panggung terbuka secara otomatis, penonton tampak terpukau dengan dekorasi panggung yang megah dan detail.
Dialog para pemain yang kuat dan sesuai karakter membuat suasana semakin hidup.
Beberapa kali penonton dibuat tertawa melalui adegan intermezo yang menyegarkan suasana. Namun memasuki akhir cerita, suasana berubah haru.
Banyak penonton terhipnotis mengikuti alur cerita hingga meneteskan air mata saat sosok ayah yang telah menghilang selama 20 tahun akhirnya pulang.
Konflik keluarga memuncak ketika sebagian anggota keluarga menerima kepulangan sang ayah, sementara Gunarto menolak mentah-mentah dan mengusir ayahnya.
Adegan emosional tersebut menjadi salah satu bagian paling menyentuh dalam pertunjukan.
Salah satu amanat yang disampaikan dalam drama ini adalah jangan menunggu kehilangan seseorang yang sebenarnya kita sayangi untuk bisa memaafkannya.
Pagelaran berlangsung selama kurang lebih dua setengah jam dan ditutup dengan dialog serta evaluasi bersama para pegiat teater yang hadir. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments