Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

PBSI UMSURA Siapkan Guru Kelas Dunia

Iklan Landscape Smamda
PBSI UMSURA Siapkan Guru Kelas Dunia
Teguh Setiawan (baju biru berdasi), bersama dengan Mahasiswa PBSI UMSURA dalam Kuliah Praktisi, Rabu (06/05/2026). (Ahmad Mahmudi/PWMU.CO).
pwmu.co -

Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Pendidikan Komunikasi dan Sains (FPKS) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) menggelar kuliah praktisi bertema Strategi Kreatif Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Kelas Internasional dan Multibahasa, Selasa (6/5/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–12.00 WIB ini menjadi bagian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional sekaligus ruang pembelajaran berbasis pengalaman nyata bagi mahasiswa.

Kuliah praktisi menghadirkan Guru Bahasa Indonesia di SPK SMP Xin Zhong Surabaya, Teguh Setiawan SPd Gr.

Teguh telah memiliki pengalaman lebih dari satu dekade di lingkungan pendidikan internasional. Kehadirannya memberikan gambaran langsung tentang dinamika pembelajaran di kelas multibahasa dan multikultural.

Skill Guru Masa Kini

Ketua Prodi PBSI, Pheni Cahya Kartika MPd dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan global. Ia menyampaikan bahwa kompetensi calon guru tidak lagi cukup hanya bertumpu pada teori.

“Kuliah praktisi ini kami hadirkan agar mahasiswa memperoleh gambaran nyata tentang dunia pendidikan, khususnya di sekolah internasional. Mahasiswa perlu memahami bahwa peluang lulusan PBSI sangat luas” ujarnya.

“Calon guru masa kini harus memiliki kemampuan adaptasi, komunikasi, dan kreativitas dalam mengajar karena karakter peserta didik semakin beragam” tambah Pheni.

Kegiatan yang terpandu oleh Dian Karina Rachmawati SPd MHum berlangsung dinamis dengan diskusi terbuka. Mahasiswa aktif mengajukan pertanyaan, salah satunya tersampaikan oleh Setya Amanda Saputri terkait strategi membangun “privilege” untuk menjadi guru profesional.

Menanggapi hal tersebut, Teguh menegaskan bahwa kualitas diri tidak dibangun secara instan. “Jangan hanya fokus kuliah. Mulailah aktif berorganisasi, mengikuti kegiatan, dan melatih kemampuan diri sejak sekarang” ungkapnya.

“Di dunia kerja, yang dicari bukan hanya orang pintar. Kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, mengatur waktu, dan mengelola emosi itu sangat penting” tegasnya.

Dalam pemaparannya, Teguh juga menyoroti peluang karier lulusan PBSI di sekolah internasional. Menurutnya, kebutuhan tenaga pengajar Bahasa Indonesia terus meningkat seiring berkembangnya sekolah internasional di Indonesia.

“Keunggulan mahasiswa PBSI adalah memiliki kompetensi langsung di bidang bahasa dan sastra Indonesia. Itu menjadi pertimbangan penting bagi sekolah internasional” jelasnya.

“Banyak sekolah internasional membutuhkan guru dengan latar belakang linear. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan” terang Teguh.

SMPM 5 Pucang SBY

Sekolah Internasional dan Multikultural

Lebih lanjut, ia menggambarkan kondisi lingkungan kerja di sekolah internasional yang multikultural. “Di sekolah internasional, guru berasal dari berbagai negara” ujar Teguh.

Kita harus siap bekerja dalam tim yang beragam budaya dan cara pandang,” tuturnya. Menurutnya, tantangan guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga membangun hubungan dengan siswa dan orang tua.

“Guru harus memahami karakter siswa, mampu berkomunikasi dengan wali murid, dan membuat siswa yakin bahwa pelajaran itu penting” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya kreativitas dalam proses pembelajaran. “Kalau guru tidak kreatif, siswa akan cepat kehilangan minat belajar. Guru harus mampu merancang aktivitas yang menarik dan relevan dengan kehidupan siswa” ujarnya.

Sepanjang kegiatan, interaksi antara narasumber dan mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi terhadap isu pembelajaran bahasa di kelas internasional.

Diskusi berkembang mulai dari strategi mengajar, kesiapan mental guru, hingga peluang karier di dunia pendidikan global.“ Pengalaman di kelas internasional mengajarkan bahwa fleksibilitas dan empati adalah kunci utama menjadi guru” ujar Teguh dalam salah satu sesi diskusi.

Pada sesi praktik, salah satu mahasiswa, Mayaza Dini, berkesempatan melakukan simulasi mengajar. Teguh kemudian memberikan evaluasi terkait penggunaan teknik ice breaking.

“Ice breaking itu penting, tetapi harus disesuaikan dengan kondisi siswa dan materi yang diajarkan. Jangan sampai justru membuat fokus pembelajaran hilang” jelasnya.

Selain kuliah praktisi, kegiatan juga diisi dengan sosialisasi akademik terkait persiapan tugas akhir. Sekretaris Prodi PBSI, Idhoofiyatul Fatin MPd. mengingatkan pentingnya perencanaan sejak dini.

“Mahasiswa harus mampu mengatur waktu dan memahami sistem akademik dengan baik agar proses penyusunan tugas akhir dapat berjalan lancar sesuai target” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa program studi mendorong mahasiswa menyelesaikan studi dalam waktu 3,5 tahun melalui pendampingan akademik yang terstruktur.

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 06/05/2026 22:38
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡