Pengukuhan dua guru besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (30/4/2026), bukan sekadar seremoni akademik yang penuh toga dan pidato ilmiah. Di balik tepuk tangan dan kilau prestasi, terselip satu kisah yang diam-diam menghangatkan ruang: kisah persahabatan yang tumbuh pelan, diuji waktu, dan akhirnya bertemu kembali di titik yang tak pernah mereka bayangkan.
Hari itu, Mundakir—yang dikukuhkan bersama Lina Listiana—mendapat pelukan hangat dari Abdul Aziz Alimul Hidayat. Pelukan itu bukan basa-basi. Seperti jeda panjang dari perjalanan hidup yang berliku, lalu dipertemukan kembali dalam satu panggung kehormatan.
Mundakir dan Aziz bukan sekadar kolega. Mereka adalah sahabat lama. Teman sepermainan, satu sekolah, teman sebangku pula di MTs Negeri 1 Lamongan. Keduanya lahir dari tanah yang sama: Lamongan. Orang-orang menyebutnya dengan bangga, LA alias Lamongan Asli.
Usia mereka nyaris kembar. Mundakir lahir 23 Maret 1974, sementara Aziz menyusul di tahun yang sama, 8 Desember 1974. Bedanya hanya hitungan bulan, tapi jalan hidup mereka sempat berbelok ke arah yang berbeda.
Di masa remaja, mereka memelihara mimpi yang sama: kuliah. Sebuah mimpi yang bagi sebagian orang mungkin sederhana, tapi bagi mereka adalah pintu menuju perubahan nasib. Aziz melangkah lebih dulu.
Pada 1993, ia berhasil masuk D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya—yang saat itu masih dikenal sebagai Unmuh Surabaya, dengan kampus sederhana di kawasan Pucang, menumpang di SMA Muhammadiyah 2 Surabaya.
Sementara itu, Mundakir harus menahan mimpinya lebih lama. Hidup tak memberinya jalan yang lurus. Faktor ekonomi menjadi tembok pertama yang harus ia hadapi. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana, bahkan sempat merasakan pahitnya transmigrasi ke Riau pada era 1980-an, sebuah upaya mencari harapan baru yang ternyata tak bertahan lama. Dua tahun kemudian, keluarganya kembali ke Jawa, membawa pulang lebih banyak pengalaman daripada keberuntungan.
Sejak muda, Mundakir sudah akrab dengan kerasnya hidup. Ia bekerja apa saja, tanpa memilih. Baginya, pekerjaan bukan soal gengsi, tapi soal bertahan. Pernah menjadi kuli di rel kereta, mengangkat kayu di pabrik, bekerja di salon, hingga membantu tengkulak semangka—semua dijalani dengan satu tujuan: tetap hidup, dan jika bisa, membantu keluarga.
Namun mimpi, rupanya, tidak pernah benar-benar padam. Tahun 1995 menjadi titik balik. Mundakir akhirnya bisa menapakkan kaki di kampus yang dulu hanya ia bayangkan. Ia diterima di D3 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya—kampus yang sama dengan sahabat lamanya.
Hanya saja, kali ini posisi mereka berbeda. Aziz sudah lebih dulu berdiri sebagai mahasiswa senior, bahkan menjadi panitia Ospek. Sementara Mundakir datang sebagai mahasiswa baru (maba). Di sanalah, kisah mereka bertemu kembali. Bukan lagi sebagai dua remaja dengan mimpi yang sama, tetapi sebagai dua pejuang yang menempuh jalan berbeda, lalu dipertemukan kembali di titik yang sama: pendidikan.
***
Saya mengenal Mundakir dan Abdul Aziz Alimul Hidayat jauh sebelum keduanya berdiri di panggung kehormatan seperti sekarang. Saat itu, kami masih sama-sama berkeringat di ruang-ruang kaderisasi, tumbuh sebagai aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).
Saya sendiri kala itu dipercaya menjadi Ketua Komisariat FKIP Unmuh Surabaya, sebuah masa yang penuh idealisme, diskusi panjang, dan tidur yang sering kalah oleh agenda organisasi.
Di forum-forum Darul Arqam dan berbagai kegiatan IMM lainnya, wajah mereka hampir selalu ada. Bukan tipe yang banyak bicara di awal, tapi selalu hadir dengan keseriusan yang terasa.
Ada satu hal yang sulit saya lupakan: di tengah riuhnya forum, saat peserta lain mulai lelah atau sekadar mengobrol, Mundakir dan Aziz justru membuka buku. Buku kuliah, catatan, atau lembar tugas. Mereka seperti punya ritme sendiri.
Saya sering melihat keduanya duduk di sudut ruangan, menunduk, menulis sesuatu. Kadang sambil mendengarkan materi, kadang sambil menunggu giliran sesi berikutnya. Di sela acara, ketika yang lain mencari udara segar atau kopi, mereka justru sibuk mengejar deadline tugas.
Saat itu, saya juga sudah mulai menekuni dunia jurnalistik, menjadi wartawan di Suara Indonesia yang kemudian bertransformasi menjadi Radar Surabaya. Naluri wartawan saya seperti terlatih untuk membaca orang. Dan pada mereka berdua, saya melihat satu benang merah: ketekunan yang tidak banyak dipamerkan, tapi konsisten dijalankan.
Waktu membuktikan, kebiasaan kecil itu bukan sesuatu yang sia-sia. Perlahan tapi pasti, keduanya menapaki jalan akademik. Dari mahasiswa, menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya, bahkan menyandang status pegawai negeri sipil (PNS)—sebuah capaian yang pada masa itu tidak mudah diraih.
Lalu datang satu momen penting yang jarang diketahui banyak orang. Ketika kampus membutuhkan Direktur Akademi Keperawatan—karena dr. Mutadi yang saat itu menjabat rektor tidak ingin merangkap jabatan—nama Mundakir dan Aziz justru muncul sebagai “pencari solusi”. Mereka tidak maju sebagai kandidat, tapi dipercaya untuk mencari sosok yang tepat.
Dari proses itulah, mereka akhirnya bertemu dengan dr. Sukadiono. Nama yang direkomendasikan oleh Mustakim Fadil (almarhum), salah satu pimpinan kampus saat itu. Sebuah pertemuan yang kelak ikut membentuk arah kepemimpinan kampus di masa depan.
Ketika Dr. dr. Sukadiono, MM menjabat sebagai rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya, karier Mundakir dan Aziz ikut menanjak. Keduanya sama-sama dipercaya menduduki posisi strategis sebagai wakil rektor. Dari aktivis, dosen, hingga pimpinan universitas. Lintasan yang mereka tempuh terasa seperti perjalanan panjang yang saling beriringan.
Pada satu fase penting di era kepemimpinan Sukadiono, jalan keduanya mulai tampak berbelok—bukan menjauh, tapi mengambil peran yang berbeda.
Abdul Aziz Alimul Hidayat mendapat amanah baru sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Rektor Universitas Muhammadiyah Lamongan. Waktu itu, dia telah dikukuhkan sebagai Guru Besar. Sebuah lompatan tanggung jawab yang tidak ringan.
Sementara itu, Mundakir tetap mengokohkan perannya sebagai wakil rektor di Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Dua sahabat lama itu kini berdiri di panggung kepemimpinan yang berbeda. Dan seperti lazimnya dunia organisasi—terlebih di level pimpinan—dinamika mulai terasa.
Informasi pun berseliweran ke mana-mana. Ada yang berbisik pelan. Ada pula yang menyampaikannya dengan nada lebih tegas: keduanya disebut-sebut terlibat “perang dingin”. Perbedaan pandangan, kata sebagian orang. Persaingan yang cukup sengit, kata yang lain. Entah mana yang sepenuhnya benar, entah mana yang sekadar bumbu cerita.
Saya sendiri mendengar kabar itu seperti mendengar angin lewat. Tidak terlalu saya tanggapi berlebihan. Sebab kalaupun benar ada perbedaan, bagi saya itu justru sangat manusiawi.
Bukankah setiap orang yang diberi amanah besar pasti memiliki cara pandang sendiri? Bukankah setiap pemimpin juga punya ambisi—dalam arti positif—untuk membawa institusinya menjadi lebih baik?
Dan sering kali, ambisi itu tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Kadang harus berseberangan. Kadang harus beradu argumen. Bahkan mungkin saling menguji keteguhan.
Namun justru di situlah letak kedewasaan diuji: apakah perbedaan itu menjadi jarak, atau justru menjadi cara lain untuk saling menguatkan, meski dari posisi yang berbeda.
***
Kini, Mundakir dan Abdul Aziz Alimul Hidayat telah sampai di titik yang dulu hanya mereka sebut sebagai mimpi: satu berdiri sebagai guru besar, satu mengemban amanah sebagai rektor. Sebuah capaian tidak semua orang tahu jalan panjang, luka, dan kesabaran yang menyertainya.
Jabatan itu, pada akhirnya, bukan cuma tanda keberhasilan, tapi juga amanah dan titipan kepercayaan yang menuntut lebih banyak memberi daripada menerima. Lebih banyak mendengar daripada berbicara. Dan lebih banyak menguatkan daripada sekadar menunjukkan siapa yang paling benar.
Perbedaan persepsi, cara pandang, gaya kepemimpinan, bahkan pilihan strategi, itu semua adalah bagian yang tak terpisahkan dari perjalanan manusia. Terlebih bagi mereka yang berada di ruang-ruang pengambilan keputusan. Di sanalah ego diuji, idealisme dipertarungkan, dan kedewasaan benar-benar dimatangkan.
Namun bukankah semua itu, pada akhirnya, harus bermuara pada satu tujuan yang lebih besar?

Tujuan untuk menjaga marwah ilmu. Tujuan untuk membesarkan amal usaha pendidikan. Dan yang paling utama, tujuan untuk menghidupkan cita-cita Muhammadiyah: mencerahkan kehidupan, memajukan umat, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sebanyak mungkin orang.
Karena pada titik tertentu, persahabatan bukan lagi soal siapa lebih dulu atau siapa lebih tinggi. Tapi tentang bagaimana dua orang yang pernah berjalan bersama, tetap memilih arah yang sama, meski langkahnya berbeda.
Di ujung tulisan ini, izinkan saya memberi “kado” kecil untuk dua sahabat itu. Sebuah tembang lama yang mungkin sederhana, tapi sarat makna: Yang Terjadi, dinyanyikan January Christy dan Ricky Basuki, dirilis pada 1985, karya Chandra Darusman dan Dedi Nyantunk.
Lagu yang seperti berbicara pelan, tapi tepat di hati:
Dalam suasana salah prasangka, pernah terjadi
Kemelut datang membara, saling mendera sesama kita
Selalu di antara kita semua, terdapat perbedaan citra
Namun itu soal biasa, dalam persahabatan
Kini saatnya untuk melupakan, ingat tujuan mula
Jangan sampai ternoda, bahkan sirna dan terhapus
Biarlah semua ini berlalu, tanpa rasa dendam
Semoga yang pernah menjadi riak, tidak menjelma menjadi jarak. Dan yang pernah berbeda, justru menjadi alasan untuk saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, yang paling abadi bukanlah jabatan, melainkan persahabatan yang tetap utuh, setelah semua ujian berlalu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments