Masjid hendaknya dijadikan bukan sebagai tempat ibadah saja, melainkan juga difungsikan sebagai tempa membangun masyarakat, mendidik, agar melek perkembangan zaman dan tidak mudah diprovokasi. Pesan itulah yang ditegaskan Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si. dalam awal tausiahnya.
Ajakan tersebut disampaikan pada Ahad (7/6/2026) dalam acara Pengajian Keluarga Sakinah. Berkenaan dengan masjid, Syamsul menjelaskan ada sebuah masjid yang sangat jarang dikunjungi jemaah haji dan umrah, yaitu Masjid Al-Ijabah. Padahal masjid itu memiliki nilai historis yang berkesan.
“Rasulullah pernah mengucapkan tiga doa dalam masjid itu. Pertama, doa agar tidak membinasakan umat dengan kekeringan dan kelaparan. Kedua, doa agar Allah tidak membinasakan umat dengan menenggelamkannya. Ketiga, doa agar tidak ada fitnah dan perbedaan di antara umat. Doa ketiga inilah yang tidak dikabulkan oleh Allah,” ujarnya.
Lantas guru besar Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang itu memberikan contoh. Hampir selalu ada konflik di dalam umat Islam, misalnya penentuan awal puasa atau hari raya.
Tidak mungkin semua manusia hidup dalam kondisi yang sama. Perbedaan tidak mungkin dihindari. Perpecahan yang harus dihindari.
Islam berjumlah mayoritas, tetapi dapat ringkih karena terpecah belah oleh hal yang tidak substansial. Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat ke-103 yang artinya:
“Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
Agenda kajian bulanan PCM Krembangan ini bertempat di Masjid Al Mukhlis, Jl. Krembangan Baru 7/15-17 Surabaya. Syamsul mengatakan bahwa mukhlis berarti orang yang ikhlas.
“Ikhlas itu berat. Menahan diri tidak update status juga berat. Kalau tidak bisa menahan, akan jadi ujub. Ibadah yang dilakukan adalah kerangka. Ruhnya adalah ikhlas,” imbuhnya.
Syamsul lantas memaparkan bahwa dua surah yang dibahas lama oleh Ahmad Dahlan adalah al-Maun dan al-‘Ashr. Dalam surah al-Maun Allah berfirman bahwa celakalah orang-orang yang melaksanakan salat, yang lalai terhadap salatnya, dan yang berbuat riya.
Surah al-‘Ashr berkaitan erat dengan waktu. Hadirin ditegaskan bahwa orang Muhammadiyah tidak boleh terlambat.
Pada akhir kajian, Syamsul menjelaskan makna dua ayat. Ayat pertama yakni larangan merasa paling suci yang terdapat pada surah an-Najm ayat ke-32. Ayat kedua yaitu seruan agar bertakwa kepada Allah yang terdapat dalam surah Ali Imran ayat ke-102.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments