Murid itu mengalami kesulitan untuk menulis beberapa paragraf, karena para guru di sekolahnya juga tidak mempunyai kebiasaan menulis. Banyak mahasiswa memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan penulisan skripsinya, karena dosen pembimbingnya juga tidak mempunyai perjalanan panjang dalam hal tulis-menulis.
Ini adalah kondisi yang tercipta dari formula sebab-akibat di zaman apa pun. Banyak instruksi dari atas ke bawah disampaikan, ‘menulis, menulis, menulis’, tetapi yang menyampaikan juga tidak mempunyai kemampuan untuk menulis.
Menulis artikel (esai) atau menulis apa pun untuk menyampaikan pendapat di publik atau masyarakat adalah salah satu cara penting seseorang untuk dapat mengemukakan gagasan, memberikan kritik terhadap kebijakan, berbagi pengalaman, menambah kemampuan berpikir, dan ikut berpartisipasi dalam berbagai penyelesaian persoalan di masyarakat atau untuk cakupan dalam skala yang lebih luas.
Melalui tulisan, seseorang dapat menyampaikan pemikirannya kepada masyarakat tanpa harus memiliki akses ke lembaga pemerintah, media televisi, media iklan, organisasi politik, atau organisasi besar.
Sebuah tulisan yang ditulis dengan baik dapat memengaruhi cara masyarakat berpikir, mendorong perdebatan, dan memberikan kontribusi penyelesaian untuk perubahan sosial dan tatanan ekonomi.
Meskipun menulis untuk publik memiliki manfaat yang besar, tetapi banyak orang yang lebih memilih tidak menyukai kegiatan ini, dan lebih banyak dari mereka untuk lebih memilih diam, menjadi silent reader, berbicara secara pribadi, menulis komentar singkat di media sosial, menanggapi menggunakan emoticon atau simbol-simbol sebagai wujud partisipasi, atau menyampaikan pendapat melalui video pendek melalui YouTube, TikTok, Instagram, atau yang lain daripada harus menulis artikel yang panjang dan memerlukan pelatihan.
Keengganan seseorang untuk menulis secara terbuka dipengaruhi oleh faktor psikologis, pendidikan, sosial, budaya, teknologi, lingkungan di rumah, dan juga lingkungan interaksi di masyarakat.
Era modern begini, banyak manusia modern sangat sibuk, sehingga menjadi penulis publik adalah sangat diharapkan oleh masyarakat, tentu sebagai penulis yang mampu dan berani menyampaikan gagasan secara baik, mendidik, mencerahkan, dan bertanggung jawab.
Umpan Balik dan Percaya Diri
Salah satu alasan terbesar seseorang enggan menulis untuk publik adalah rasa takut terhadap umpan balik atau kritik, dan juga tidak percaya diri. Ketika seseorang menulis artikel opini atau tulisan apa pun dan mempublikasikannya, maka dia telah berani untuk membuka dirinya terhadap berbagai tanggapan pembaca.
Pembaca mungkin setuju, tidak setuju, bertolak belakang, mengkritik argumennya, mempertanyakan pengetahuannya, membuat komentar, atau bahkan menyerang pribadi penulis. Situasi seperti ini dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman, tidak mau direpotkan, dan harus dihindari.
Dalam percakapan pribadi saling berhadapan, kesalahan dapat segera diperbaiki secara langsung melalui dialog saat itu, tetapi tulisan yang telah dipublikasikan langsung akan dibaca oleh ribuan orang, dan secara otomatis telah menjadi dokumen publik yang tidak mudah untuk diralat. Sebuah kalimat dapat menyebar ke mana-mana dan dapat dikutip di luar konteks atau ditafsirkan sesuai keinginan pembaca atau berbeda dari pemahaman penulis.
Takut pendapatnya yang ditulis adalah salah atau mungkin lebih dari itu, atau dapat menimbulkan keresahan adalah masalah utama yang sering dihadapi mengapa banyak orang yang tidak mau menjadi penulis artikel publik.
Ketakutan adalah faktor paling dominan yang dapat menjadi penghalang besar untuk berpartisipasi dalam penulisan di publik. Seseorang mungkin memiliki gagasan yang sangat baik dan cemerlang, tetapi memilih diam karena takut memperoleh tanggapan yang tidak diinginkan, atau bahkan negatif. Umpan balik apa pun adalah saran penting kita untuk menambah kemampuan kita dalam mengurai pemecahan permasalahan.
Alasan berikutnya adalah kekurangpercayaan diri terhadap kemampuan untuk memulai menulis. Banyak orang menganggap bahwa menulis artikel membutuhkan kemampuan tata bahasa yang sempurna, kosakata dan referensi yang luas, mempunyai banyak bacaan, pendidikan tinggi, dan kemampuan intelektual yang luar biasa.
Mereka sebenarnya mempunyai gagasan, tetapi merasa tidak mampu untuk menuangkannya ke dalam tulisan yang harus ditata secara rapi dan mudah dipahami. Sering kali seseorang mempunyai pendapat, tetapi mereka tidak tahu cara untuk menuliskannya. Hal ini banyak terjadi pada orang yang tidak memperoleh pengalaman menulis yang cukup ketika berada di sekolah, perguruan tinggi, atau di lingkungannya.
Jika menulis hanya diajarkan sebagai tugas ujian atau untuk memperoleh kenaikan pangkat dan bukan sebagai sarana komunikasi antara manusia, maka menulis artikel akan dianggap sebagai sesuatu yang sulit, menakutkan, dan pekerjaan yang membutuhkan semangat yang tinggi, sehingga sering muncul rasa malas untuk menyentuh laptop, komputer, atau alat tulis lain.
Tulisan yang baik tidak selalu membutuhkan bahasa yang rumit dan panjang lebar. Tulisan yang mempunyai performa yang kuat ditentukan oleh kejernihan pemikiran, struktur argumentasi, bukti yang relevan untuk masa kini, materi yang ada dan menyentuh keadaan di sekitar kita, kemampuan menyampaikan gagasan secara jujur, dan susunan kalimat yang mengalir.
Menulis Membutuhkan Waktu
Pengalaman pendidikan di sekolah, masa kuliah, dan pergaulan sangat memengaruhi sikap seseorang terhadap kegiatan menulis. Oleh banyak mahasiswa, menulis esai atau artikel identik dengan ujian, nilai, koreksi dosen, skripsi, tugas akhir, kesalahan, dan tentang kelulusan.
Para pemula sering membuang banyak waktu untuk memikirkan tata bahasa, struktur, kesesuaian tulisan yang diharapkan. Jika mereka terus-menerus menerima pesan bahwa tulisannya adalah banyak kesalahan, maka beberapa dari mereka dapat kehilangan kepercayaan diri. Masalah yang dihadapi adalah bukan waktu penulisan, tetapi pada cara menulis.
Pendidikan mendorong siswa untuk mengembangkan argumentasi sendiri, berinteraksi, mencari bukti, mengajukan pertanyaan, dan mengomunikasikan gagasan. Jika menulis hanya dianggap oleh siswa sebagai kegiatan untuk memperoleh nilai, atau untuk menaikkan pangkat oleh guru dan dosen, maka kemampuan menulis tidak akan berkembang dan tujuan tidak akan tercapai.
Tanpa berlatih menulis dengan baik, menulis artikel membutuhkan waktu yang lama. Penulis harus menentukan topik yang mudah dan terjangkau, mengembangkan gagasan, menyusun argumentasi, mencari informasi, membuat draf, melakukan revisi berulang-ulang secara menyeluruh, memeriksa bahasa, dan kemudian mempersiapkan tulisan untuk dipublikasikan yang membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk yang belum terbiasa.
Berbicara adalah lebih mudah dipraktikkan daripada menulis. Seseorang dapat menyampaikan pendapat atau berceramah dalam banyak waktu dan berjam-jam melalui percakapan, apalagi sekarang dibantu dengan peralatan modern yang dapat mengalihbahasakan, tetapi tetap saja menulis membutuhkan persiapan yang lebih terencana dan tertata.
Mungkin mereka akan mengatakan, ‘mengapa harus menghabiskan waktu banyak untuk menulis artikel’ jika menyampaikan pendapat dalam tiga kalimat dapat disampaikan dalam waktu singkat. Pemikiran ini dapat dimengerti dalam kehidupan digital yang bergerak sangat cepat, tetapi tulisan (artikel) mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki komunikasi singkat. Tulisan memberikan ruang untuk menjelaskan konteks, menyampaikan bukti, mengembangkan argumentasi, menyajikan data lengkap, dan melakukan refleksi.
Tulisan yang banyak pembaca (views) adalah sering berkaitan dengan persoalan sensitif berisiko seperti muatan politik, kesukuan, tatanan sosial, agama, pendidikan, ekonomi, ketimpangan sosial, budaya, dan kebijakan pemerintah.
Menulis tentang persoalan kontroversial dapat menimbulkan konflik dan ini sangat berisiko. Seseorang khawatir pendapatnya jika ditulis dapat memengaruhi hubungan sosial menjadi tidak harmonis, pekerjaan, reputasi profesional, organisasi, atau hubungan dengan teman, keluarga, dan lingkungannya.
Seorang pegawai khawatir jika pendapatnya diketahui oleh atasan yang di kantornya atau kawannya. Seorang mahasiswa mungkin takut berbeda pendapat dengan dosen atau para pejabat di kampusnya. Seorang anggota masyarakat mungkin khawatir dapat menimbulkan konflik dengan pemerintah, golongan, atau tokoh yang memiliki pengaruh. Diam sering dipilih karena dianggap lebih aman dan tidak menimbulkan masalah.
Oleh karena itu, budaya yang mendorong untuk berdiskusi dalam perbedaan pendapat secara sehat adalah sangat perlu dianjurkan. Demokrasi tidak mengharuskan semua orang memiliki pendapat yang sama dan masyarakat membutuhkan ruang untuk menyampaikan pandangan secara terbuka dan bertanggung jawab.
Kebiasaan Membaca
Banyak orang beranggapan bahwa mereka hanya boleh menulis apabila mempunyai pengetahuan yang baik dan sempurna. Pandangan tersebut justru dapat menghambat kontribusi seseorang pada masyarakat. Diskusi publik membutuhkan pengalaman, pengamatan, pertanyaan, dan berbagai perspektif.
Seseorang tidak harus menjadi pakar untuk memberikan kontribusi yang bermakna. Penulis mempunyai tanggung jawab untuk memeriksa kenyataan dan tidak menyebarkan informasi palsu, tetapi tanggung jawab tersebut tidak berarti bahwa seseorang harus menjadi sempurna. Budaya intelektual yang sehat memberikan kesempatan kepada seseorang untuk belajar, menerima koreksi, memperbaiki kesalahan, dan mengembangkan argumentasi.
Kemampuan menulis yang baik berkaitan erat dengan kebiasaan membaca. Orang yang jarang atau tidak mempunyai kebiasaan untuk membaca buku, surat kabar, jurnal, artikel, atau berbagai tulisan akan kesulitan mengembangkan argumentasinya.
Mereka memiliki banyak pendapat, tetapi tidak memiliki cukup pengetahuan untuk mendukung dan mengurai pendapat tersebut menjadi tulisan yang mudah dipahami. Membaca memberikan kosakata, pengalaman, wawasan, contoh, perspektif, bukti, serta model sebuah argumentasi dibangun.
Oleh karena itu upaya untuk meningkatkan budaya menulis harus berjalan bersama dengan peningkatan budaya membaca, termasuk membaca alam dan sekitarnya. Masyarakat yang ingin mempunyai suasana diskusi publik yang baik membutuhkan warga yang mampu membaca secara kritis dan menulis secara kontinu dan bertanggung jawab.
Sebagian orang tidak berani menulis karena khawatir pendapatnya tidak populer atau bertentangan dengan publik. Pendapat mayoritas sering menciptakan tekanan sosial pada pendapat yang berbeda.
Seseorang mungkin menghindari pendapat yang berbeda karena ingin memperoleh pujian atau persetujuan dari teman, atasan, kolega, atau pengikutnya di media sosial. Tujuan diskusi publik adalah bukan untuk memperoleh pujian, tetapi minimal sebagai tawaran wawasan baru.
Pendapat yang tidak populer malah sering dapat menunjukkan masalah sebenarnya, yang selama ini tidak terlihat dan diabaikan. Perspektif minoritas juga dapat memperkaya diskusi dan membantu masyarakat melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda dalam skala luas.
Oleh karena itu, penulis perlu membedakan antara mencari perhatian dan menyumbang gagasan. Artikel publik yang baik tidak selalu menyampaikan yang digagas harus disetujui oleh pembaca, tetapi mendorong pembaca untuk berpikir.
Mulailah menulis, walaupun hanya 50 kata atau 100 kata. Dari sini kita sedang memanaskan saraf-saraf kognitif dan psikomotorik untuk melangkah ke karya-karya tulisan berikutnya yang lebih prospektif. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments