Dahulu, bisnis hanya fokus pada efisiensi biaya (murah dan cepat).
Sekarang, keseimbangan baru menuntut resiliensi.
Perusahaan dan negara harus mampu bertahan menghadapi guncangan tiba-tiba—baik itu pandemi, konflik geopolitik, maupun bencana iklim.
Adaptasi berarti membangun cadangan dan diversifikasi sumber daya.
Dalam konteks lokal, buku karya Mukhaer Pakkanna yang berjudul “Adaptasi Ekonomi, Mencari Titik Keseimbangan Baru” mencoba mengulas berbagai dinamika perekonomian, baik dari sisi sosial kemasyarakatan hingga rana koperasi besar yang menggurita di Indonesia.
Pakkanna berusaha menemukan titik keseimbangan baru yang mana berpegang pada nilai-nilai Pancasila (hal. iv).
Buku ini menguraikan tentang titik keseimbangan (yang) tidak semata ditentukan basis tarik-menarik permintaan dan penawaran, tetapi tekanan abnormal yang jalin berkelindan, yang acapkali bergejolak.
Sehingga meniscayakan, perlunya adaptasi atau penyesuaian terhadap kondisi dari prakondisi yang terjadi sebelumnya.
Artikel-artikel dalam buku ini merupakan kumpulan tulisan Pakkanna —yang berupa makalah ataupun opini yang berserak di sejumlah media.
Dari tiga bagian dari buku ini, bagian pertama dengan judul utama “Bergerilya di Tengah Gelombang Covid-19” terdiri dari 6 artikel; bagian kedua dengan judul “Informalisasi Ekonomi” terdiri dari 14 artikel; dan, bagian ketiga dengan judul “Mencari Titik Keseimbangan” terdiri dari 19 artikel.
Mengutip dari “Pengantar Penerbit”, adaptasi adalah kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan atau situasi baru.
Dalam konteks kehidupan modern seperti saat ini, adaptasi mencakup banyak hal.
Individu atau komunitas dituntut untuk terus belajar, berinovasi, dan mengembangkan strategi baru dalam menghadapi perubahan yang cepat.
Tak terkecuali adaptasi di sektor ekonomi yang mengharuskan setiap individu atau kelompok masyarakat melakukan upaya melipatgandakan kapital (hal. iii).
Secara utuh, buku ini merupakan buku yang berisi ulasan kritis mengenai strategi ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global dan krisis.
Dengan membaca buku ini secara serius, kita akan menemukan 4 (empat) hal penting:
Pertama, Pencarian Keseimbangan Baru. Penulis menekankan bahwa adaptasi bukan sekadar bertahan, melainkan kemampuan sistem ekonomi untuk memprediksi dan menyesuaikan diri guna menemukan titik keseimbangan baru setelah terpukul krisis.
Kedua, Resiliensi Akar Rumput. Fokus utama ulasannya sering kali tertuju pada sektor informal, kearifan ekonomi lokal, dan pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai pilar stabilitas saat sektor formal goyah.
Ketiga, Integrasi Nilai Religius-Sosial. Sebagai tokoh yang aktif di Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Mukhaer mengintegrasikan konsep keadilan sosial dan redistribusi kekayaan dalam proses adaptasi, guna memastikan pertumbuhan ekonomi selaras dengan penurunan kemiskinan.
Keempat, Kritik Kebijakan. Ulasannya mencakup kritik terhadap ketergantungan pada model ekonomi lama dan mendorong transformasi menuju kemandirian ekonomi nasional.
Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian pada isi buku ini adalah penulis yang mengingatkan akan pentingnya peran koperasi —yang saat ini seolah sedang mati suri.
Maka menggerakkan kembali koperasi rakyat hanya bisa dilakukan dengan kemauan politik…Secara agregatif, kontribusi koperasi masih di bawah angka 1-2 persen terhadap PDB. Sehingga tidak mungkin koperasi menjadi pelaku utama atau sokoguru ekonomi nasional (hal. 83).
Buku ini sangat relevan sebagai literatur, utamanya bagi akademisi, praktisi ekonomi, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memiliki ketertarikan terhadap dinamika ekonomi dan strategi adaptasinya.***





0 Tanggapan
Empty Comments