Sepak bola sering disebut olahraga. Saya kira tidak sepenuhnya benar.
Sepak bola adalah permainan. Dan seperti semua permainan, ia bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi juga siapa yang paling beruntung. Siapa yang diuntungkan.
Bahkan, kadang siapa yang paling dirugikan. Di situlah sepak bola menjadi begitu manusiawi.
Laga Mesir melawan Argentina di babak 16 besar Piala Dunia 2026 menyisakan cerita panjang. Bukan semata karena skor 3-2 untuk Argentina. Bukan pula karena juara bertahan itu bangkit dari ketertinggalan dua gol dalam 13 menit terakhir.
Yang menjadi perdebatan justru keputusan-keputusan wasit asal Prancis, Francois Letexier.
Gol Mesir yang dicetak Mostafa Ziko dianulir setelah tinjauan VAR karena dianggap terjadi pelanggaran dalam proses serangan. Padahal, banyak pengamat menilai insiden itu berada di luar semangat penggunaan VAR.
Di sisi lain, Mesir merasa dua klaim penalti mereka diabaikan. Salah satunya terjadi ketika Mohamed Salah terjatuh di kotak penalti jelang serangan balik Argentina yang berujung gol kemenangan Enzo Fernandez.
Bahkan sejumlah mantan wasit dan pengamat mempertanyakan konsistensi penerapan VAR dalam pertandingan itu.
Protes bermunculan. Pelatih Hossam Hassan marah. Para pemain Mesir mengerubungi wasit. Bangku cadangan bereaksi keras.
Dunia media sosial pun gaduh. Ada yang menyebut keputusan itu tidak adil. Ada yang menuding Argentina terlalu diistimewakan.
Meski demikian, tuduhan adanya keberpihakan atau pengaturan pertandingan tetap belum pernah dibuktikan. Yang pasti, keputusan-keputusan itu memang memantik kontroversi luas.
Lalu, saya melihat satu sosok. Mohamed Salah. Dia tidak berteriak. Dia tidak menunjuk-nunjuk wajah wasit. Dia tidak kehilangan kendali.
Sebagai kapten, dia justru berulang kali menarik rekan-rekannya menjauh dari kerumunan. Dia memilih menjadi pendingin ketika suhu pertandingan mendidih.
Sorot matanya tetap teduh. Ada kecewa di sana. Tentu saja. Tetapi tidak ada kebencian.
Setelah pertandingan, kiper cadangan Mesir, Mohamed Alaa, membuka cerita dari balik ruang ganti. Katanya, ruang ganti dipenuhi amarah. Semua kecewa. Semua merasa dirugikan.
Namun Salah mengumpulkan seluruh pemain. Dia berkata, “Kita memang sangat tidak beruntung, tapi semuanya sudah selesai. Ini adalah ketetapan dan kehendak Allah. Jadikan pengalaman ini sebagai pelajaran agar kita menjadi lebih baik di masa depan, insya Allah.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi justru di sanalah letak kebesarannya. Menerima bukan berarti menyerah. Mengikhlaskan bukan berarti membenarkan semua yang terjadi.
Salah tahu ada hal-hal yang bisa diperjuangkan. Tetapi ia juga tahu ada titik ketika manusia harus berhenti bertengkar dengan takdir.
Dalam sepak bola, wasit bisa keliru. VAR bisa diperdebatkan. Keberuntungan bisa berpihak. Semua itu bagian dari permainan.
Karena itulah sepak bola tidak pernah hanya mengajarkan cara menang. Ia juga mengajarkan cara kalah. Dan sering kali, pelajaran terbesar justru lahir saat kekalahan terasa tidak adil.
Di lapangan kita melihat dribel, umpan, gol, dan selebrasi. Tetapi di balik itu, kita sedang melihat cermin kehidupan.
Ada kerja keras yang tidak selalu dibalas kemenangan. Ada orang baik yang tetap kalah. Ada keputusan yang tidak bisa kita ubah.
Ada hasil yang harus diterima meski hati belum sepenuhnya rela. Barangkali itulah mengapa miliaran orang mencintai sepak bola.
Bukan karena selalu adil. Melainkan karena ia sangat mirip dengan kehidupan.
Dan di tengah hiruk-pikuk protes, kemarahan, serta tudingan terhadap wasit, Mohamed Salah mengingatkan satu hal.
Bahwa karakter seseorang paling jelas terlihat bukan ketika ia menang. Melainkan ketika dia merasa diperlakukan tidak adil, tetapi tetap memilih menjaga martabatnya.
***
Apa yang dilakukan Mohamed Salah bukan sekadar sikap seorang kapten.
Ia sedang menunjukkan kepemimpinan yang bertumpu pada nilai-nilai profetik.
Nabi tidak mengajarkan manusia untuk menang dengan segala cara. Nabi mengajarkan akhlak, bahkan ketika keadaan tidak berpihak. Mengendalikan amarah. Menjaga lisan. Menerima ketetapan Allah tanpa kehilangan ikhtiar untuk menjadi lebih baik.
Salah bisa saja memilih menyulut emosi. Dia memiliki alasan. Dia merasa dirugikan. Timnya merasa dicurangi. Dunia pun melihat kontroversi itu.
Namun, ia memilih jalan yang lebih sunyi. Dia menenangkan. Dia menguatkan. Dia mengembalikan hati rekan-rekannya kepada Allah. Di situlah kemenangan yang sesungguhnya.
Boleh jadi Mesir kalah di papan skor. Tetapi mereka tidak kalah dalam menjaga adab. Dan adab, sebagaimana diajarkan para nabi, selalu lebih panjang usianya daripada sebuah kemenangan.
Sepak bola akhirnya menjadi lebih dari sekadar permainan. Ia menjelma menjadi panggung tempat manusia memperlihatkan isi hatinya.
Sebab kemenangan dapat menghadirkan kegembiraan, tetapi kekalahanlah yang memperlihatkan watak.
Mohamed Salah mengingatkan kita bahwa manusia tidak selalu bisa memilih hasil. Namun, dia selalu bisa memilih sikap.
Dan dalam pilihan sikap itulah nilai-nilai profetik menemukan maknanya yang paling nyata. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments