Kegiatan belajar siswa Kelas 2-A (Al-Quddus) SD Muhammadiyah 6 Gadung Surabaya (SD Musix) diawali dengan pelaksanaan salat Duha berjamaah di ruang kelas, Jumat (24/7/2026).
Berbeda dari hari biasa yang digelar secara massal di halaman utama sekolah, khusus setiap hari Jumat salat Duha dilaksanakan secara mandiri di dalam ruang kelas masing-masing.
Langkah ini diambil agar rangkaian ibadah dapat langsung dilanjutkan dengan pembiasaan intensif hafalan doa-doa salat.
Suasana khusyuk dan tertib seketika menyelimuti ruang kelas. Siswa laki-laki berdiri rapi membentuk saf di barisan depan, sementara para siswi yang mengenakan mukena warna-warni mengisi saf di belakangnya.
Kebersamaan tersebut menjadi cerminan dari pembiasaan adab ibadah yang konsisten ditanamkan sejak dini.
Inisiatif Binar dan Keberanian Azril Menjadi Imam
Sebelum salat dimulai, sebuah pertanyaan lugas terlontar dari salah seorang siswa laki-laki.
“Ustaz, siapa yang jadi imamnya hari ini? Ketua kelas kita tidak masuk karena sedang sakit” serunya memecah keheningan.
Pertanyaan tersebut seketika disambut antusias oleh beberapa siswa laki-laki yang mengacungkan tangan, menyatakan kesiapannya untuk memimpin ibadah.
Melihat respons positif teman-temannya, Binar, Sekretaris Kelas 2-A, lantas mengusulkan satu nama dengan yakin.
“Azril saja, Ustaz!” ujarnya mantap.
Tanpa ragu, Azril segera melangkah ke depan kelas, membentangkan sajadahnya di hadapan saf, lalu bersiap memimpin salat Duha berjamaah hingga mengalunkan doa setelah salat.
Momen bergiliran menjadi imam ini menjadi sarana edukasi berharga untuk melatih keberanian, jiwa kepemimpinan, serta rasa percaya diri siswa sejak usia dini.
Hafalan Doa Salat untuk Menghapus Buta Doa
Usai salam, kegiatan langsung disambung dengan pembiasaan hafalan. Jika pada hari Senin hingga Kamis siswa difokuskan untuk menghafalkan surah-surah pendek di Juz 30 atau sesuai target capaian kelas, maka khusus hari Jumat porsi pembiasaan dialihkan sepenuhnya untuk pemantapan hafalan doa-doa bacaan salat.
Kepala Urusan (Kaur) ISMUBA SD Musix, Hidayatun Ni’mah SAg MPd, menjelaskan bahwa program spesifik ini merupakan strategi penguatan kompetensi ibadah peserta didik yang disesuaikan dengan fase perkembangannya.
“Sengaja setiap hari Jumat waktu pembiasaan dialokasikan khusus untuk hafalan doa salat, guna menghapus ‘buta doa salat’ pada anak-anak sejak dini” tutur Hidayatun Ni’mah.
Ia menguraikan bahwa target pencapaian ibadah di SD Musix telah dirancang secara bertahap dan terstruktur:
- Fase A (Kelas 1–2): Peserta didik difokuskan dan diarahkan agar mampu menghafal seluruh bacaan doa-doa salat dengan lancar.
- Fase B (Kelas 3–4): Siswa tidak hanya dituntut hafal bacaannya, tetapi juga wajib memperagakan seluruh gerakan salat secara benar, tertib, dan tuma’ninah.
- Fase C (Kelas 5–6): Siswa disempurnakan kemampuannya hingga fasih membaca, tepat secara gerakan, sekaligus memahami arti dan makna bacaan dari doa-doa salat tersebut.
Menurutnya, pembiasaan mingguan yang terukur ini diharapkan mampu memupuk karakter religius siswa secara alami. Salat tidak lagi dipandang sebagai rutinitas fisik semata, melainkan ibadah mendalam yang diresapi hikmah dan maknanya.
Melalui sinergi kegiatan sederhana—mulai dari melatih keberanian menjadi imam, mengasah hafalan doa, hingga membiasakan ibadah berjamaah setiap pagi—SD Musix terus berikhtiar mencetak Generasi Qurani yang percaya diri, berakhlak mulia, serta memiliki fondasi spiritual yang kokoh sejak di bangku sekolah dasar.





0 Tanggapan
Empty Comments